Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Takdir yang Kutunggu


__ADS_3

Malam yang cukup indah bagi Debora. Semalam ia tidur bersama Rey dalam satu ranjang. Dan sampai saat ini dua insan itu masih tertidur. Kenyamanan membuat mereka enggan beralih dari posisi mereka saat ini.


Debora dan Rey saling berhadapan. Tubuh Debora lebih rendah daripada Rey. Kepala gadis itu masuk bergumul manja di antara dekapan dada bidang Rey. Kedua tangan Rey masih setia memeluknya sejak semalam.


Pertemuan Rey bersama Harith semalam tepat pukul tiga pagi membuatnya terbangun. Saat itu ia memandangi Debora lekat dan cukup lama. Tubuh yang membelakanginya itu ia balikkan perlahan hingga mempertemukan wajah itu padanya.


Sambil terus mengusap-usap wajah Debora, Rey tersenyum. Bertemu Harith adalah sebuah keberuntungan untuknya. Sepertiga malam itu benar-benar membuka seluruh ingatannya. Perihal Debora dan seluruh rekannya.


Para rekan langitnya itu mengatakan padanya bahwa Rey harus merencanakan sesuatu yang indah sebelum mengatakan semuanya. Mereka juga bilang pada Rey bahwa satu-satunya tugas yang masih belum dia selesaikan adalah, menikah.


Malam itu sambil memandangi Debora lalu membelai-belai surainya. Rey berjanji, akan memberikan Debora kado yang cukup indah.


Waktu berlalu cukup cepat. Langit mulai memanggil sang Surya datang. Cahayanya pagi ini mengusik Debora. Ketika ia terbangun, yang ia lihat adalah balutan baju seseorang. Ketika ia mendongak mencoba mencaritahu siapa itu, Debora pun tersenyum.


Rupanya aku tidak bermimpi, ya?. Ucap Debora dalam hatinya.


Debora mencoba menjauhkan tubuhnya dari Rey. Ia duduk membelakangi Rey kemudian. Debora duduk di sisi ranjang, tepat di hadapannya ada kaca rias besar miliknya. Debora tersenyum menatap dirinya sendiri dalam pantulan kaca itu.


Surai terurainya berantakan. Kebetulan saja di atas meja kecil samping ranjang ada sisir. Debora pun meraihnya. Ia mulai merapikan Surainya, menyisirnya perlahan.


Sambil menyisir surainya, Debora kembali mengingat perihal apa yang sudah terjadi semalam antara dirinya dan Rey. Ia bahagia sekali. Rasanya ia ingin segera menjadi Nyonya Arlert saja sekarang.


Setelah merapikan Surai miliknya. Debora pun berinisiatif untuk menoleh ke arah Rey. Di sana terlihat Rey masih terlelap. Wajah itu cukup menggemaskan untuknya.


Tanpa berpikir panjang Debora pun mendekati Rey. Ketika sudah cukup dekat, Debora pun memberikan satu kecupan lembut di atas puncak kepala Rey.


"Rey, aku mencintaimu!" ucap Debora mengakhiri ciumannya.


Ia pun beranjak dari tempat tidur. Pagi ini ia ingin memasak Sesuatu untuk Rey. Debora ingin ketika Rey bangun, mereka akan segera sarapan berdua. Tak masalah bagi Debora untuk selalu melayani Rey. Rasanya itu seperti menjadi salah satu alasan kebahagiannya.

__ADS_1


Setelah Debora pergi dari dalam kamar itu. Rey membuka kedua matanya. Rupanya sejak tadi ia sudah terbangun. Rey menengok sebentar ke arah pintu yang baru saja Debora lewati. Pintu itu masih terbuka.


Rey merubah posisinya menjadi duduk sekarang. Sudah waktunya baginya untuk menjalankan rencana. Debora harus dibuat bingung terlebih dahulu.


Rey berdiri kemudian. Ia berjalan mendekati jendela lalu keluar mengendap-endap dari sana. Sekalipun rumah milik Debora ini memiliki dua tingkat. Namun Rey yang notabenenya sudah terlatih tak masalah keluar dari lantai atas ke bawah melalui jendela.


Memang tanpa sihir hal itu cukup memakan waktu. Tetapi pada akhirnya Rey pun berhasil. Ia sudah berada di halaman depan sekarang. Rey keluar dari dalam gerbang.


Dari dalam sakunya ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Riley. Di sana Rey mengatakan bahwa dia akan pergi ke rumah Riley. Rey juga mengatakan bahwa jika Debora menanyakan perihal dirinya, Riley tidak boleh menjawab apapun. Setelah kesepakatan itu terjadi. Rey pun segera pergi menuju kediaman Riley.


________


Selang beberapa menit dari kediaman Debora untuk menuju kediaman Riley. Ketika Rey sampai di depan rumah itu Rey terpukau. Bangunan rumah Riley benar-benar menyerupai bangunan Jepang.


Setelah peperangan besar terjadi! Kau yang diberi kemewahan oleh negara memilih membuat rumahmu dengan adat Jepang, negaramu. Riley... Riley!. Ucap Rey dalam hatinya.


Gerbang kayu itu Rey ketuk beberapa kali. Sampai pada akhirnya gerbang itu terbuka lalu memperlihatkan kedua anak Riley yang berjogi kecil menyapanya.


"Ya, aku sedang mencari Nyonya Akaza. Apakah ada?" tanya Rey padanya.


"Ah... Rupanya Paman ini, teman Kaasan? Silahkan masuk Paman, mari ikuti kami!" ucap salah satu anak Riley.


Rey mengangguk mendengar tawaran itu. Kedua anak itu mulai berjalan masuk mendahuluinya. Rey jelas saja mengikuti mereka.


Bangunan rumah Riley cukup luas melebihi luasnya rumah Debora. Bahkan di sini ada kuil kecil dan kuda. Benar-benar seperti istana Jepang saja.


Tibalah ketika Rey berganti di sebuah tempat. Di mana di sana terlihat Justice dan Riley saling berhadapan duduk di atas bantal dengan meja kecil di hadapan mereka. Di depan mereka juga sudah ada teh hangat yang asapnya masih menyembul keluar.


"Otousan! Ada tamu yang ingin menemui Okaasan!" ucap salah satu anak dari Riley.

__ADS_1


Justice mendengar itu pun berpaling ke arah anaknya. Kedua matanya membulat membuat kehadiran Rey yang berdiri tepat di hadapannya.


Tanpa basa-basi, Justice pun berdiri. Ia berjalan ke arah Rey lalu memeluknya. Mengusap-usap punggungnya. Setelah apa yang ia dengar dari Riley, Justice menangis.


Rey sudah menemukan kembali ingatannya atas dirinya dan seluruh rekannya. Rey paham, bahwa Justice pasti sangat merindukannya saat ini. Rey membalas pelukan itu.


"Ini sudah cukup lama, bodoh! Kau benar-benar lama untuk pulang pada kami!" ucap Justice di sela-sela tangisnya.


Riley di sana masih duduk sambil memperhatikan reuni antara Justice dan Rey.


"Wah, istriku! Maafkan aku jika pergiku terlalu lama. Tapi, rupanya selama aku pergi kau sudah memiliki selingkuhan ya?" tanya Rey bercanda.


Justice tertawa mendengar itu lalu ia melepaskan pelukannya. Kemudian ia mengajak Rey untuk ikut bergabung bersamanya. Acara minum teh tiap pagi dalam keluarga Akaza.


"Rey, sejak kapan kau mengingatnya?" tanya Riley pada Rey yang saat ini duduk di hadapannya.


"Aku mengingatnya sejak tadi malam!" jawab Rey jujur.


"Apa yang membuatmu mampu mengingat itu?" tanya Justice padanya.


Rey tersenyum mendengar itu. Ia pun langsung menceritakan pada mereka apa saja yang sudah terjadi. Segalanya, bahkan hingga apa saja yang sudah Rey dan Debora lakukan semalam. Selesainya narasi itu, membuat Riley geram rasanya.


"Dasar kau ya!" pekik Riley hampir menjambak Rey. Jika Rey tidak mengelak mungkin dia akan tamat saat ini.


"Kenapa?"tanya Rey heran padanya.


"Kau ini memang bodoh Rey! Jika kalian tidak bisa menahan hawa nafsu kalian satu sama lain. Mungkin saat ini, Debora sudah menjadi seorang wanita. Jangan ambil keperawanannya sebelum kalian sah! Atau aku akan membunuhmu jika itu terjadi!" ucap Riley padanya.


Melihat itu Rey pun hanya mampu mengangguk. Kembali setelah percakapan itu. Barulah Rey menceritakan pada mereka apa yang ingin ia lakukan.

__ADS_1


Sungguh, keduanya benar-benar menyetujui itu. Keduanya pun ingin sekali membantu Rey saat ini. Dari situ pagi Inis ati konspirasi mereka bentuk.


__ADS_2