
...Saat kamu punya mimpi untuk masa depan yang indah, jangan kamu hancurkan hanya karena malas ataupun melakukannya dengan setengah hati...
"Syena!!!" Panggil Aum pagi ini tepat dihadapan markas Syena.
Dari atas balkon sambil menyikat giginya Syena mencari-cari keberadaan Aum. Ketika netranya menangkap sosok itu, Syena mengangguk.
Dari luar memang Aum tidak akan mampu melihat Syena. Namun dari dalam Syena mampu melihat keberadaan Aum.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi tepat. Namun pagi ketika Syena membuka kedua matanya, ia mendapati Riley yang masih terlelap nyaman sambil memeluk gulingnya.
Pagi ini tak ada apapun di meja makan. Syena yang sudah rapi dengan jubah putihnya pun menuruni anak tangga. Setibanya kakinya di dapur Syena menatap sendu ke arah meja makan.
Benar sekali, tak ada yang memasak artinya tak ada makanan. Biasanya Syena akan duduk disana lalu menerima beberapa hidangan makanan lezat.
Namun sudahlah, tak apa baginya tak sarapan pagi ini. Syena berjalan keluar dari dalam markas lalu menemui Aum di depan sana.
Pagi itu Syena tidak berpamitan dengan seluruh rekan Rey. Mereka tidak akan tau bahwa Syena pergi ke lapangan terbang hari ini untuk menguji kemampuannya.
Serangan yang terjadi semalam membuat Syena berambisi mengasah kekuatannya lebih jauh.
"Hmmm... sepertinya kau sangat berambisi melakukan sesuatu hari ini?"
Tanya Aum pada Syena disampingnya. Raut wajah Syena disana menunjukkan satu ambisi besar. Ini adalah kali kedua bagi Aum melihat raut wajah itu. Sungguh semakin lama ia bersama Syena, maka semakin dalam juga rasanya ia mengenalinya.
"Hahaha... Kau selalu saja tau apa isi kepalaku!" Ucap Syena sembari tertawa.
"Bagaimana aku tidak akan tau Syen? Aku yang paling dekat dengan dirimu disini." Jawab Aum padanya.
Mendengar itu Syena menggeleng. Baginya yang paling dekat dengan dirinya adalah Rey dan Debora bukan Aum.
"Salah, kau orang ketiga yang dekat denganku setelah Rey dan Debora." Jawab Syena.
Tentu saja Aum tidak bisa menyangkal hal itu. Memang Syena lebih dekat dengan kedua orang itu. Aum hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Cukup lama bagi mereka berjalan. Saat ini mereka tiba tepat dihadapan pintu masuk Asrama. Mereka berhenti tepat disana. Syena merapal mantra kesatuan yang hanya Asrama Elang Putih saja yang tau akses masuknya.
Glekkkkk
__ADS_1
Gerbang itu seketika terbuka secara otomatis. Tepat ketika gerbang besar itu terbuka. Dihadapan mereka berdiri satu orang Muskeeters dengan jubah hijau yang ia kenakan.
Muskeeters itu menatap tepat ke arah Syena disana. Syena tau siapa Musketeers ini. Dia adalah salah satu Muskeeters yang ia lawan saat di Garena Rensuar.
"Hallo Syena?" Sapa Muskeeters itu tak lain adalah Elvas.
Syena tidak menjawab itu. Yang ada dalam kepalanya saat ini adalah pertanyaan perihal tujuan Elvas berada disana.
"Maaf... Untuk apa kau kemari?" Tanya Syena padanya.
Elvas hanya berseringai menanggapi itu. Ia melipat kedua tangannya lalu menatap tajam ke arah Syena. Aum merasa akan ada pertempuran kecil disini. Dan apabila hal itu dibiarkan maka pertempuran itu akan semakin besar rasanya.
"Syen mari kita pergi saja!" Tutur Aum padanya sambil menarik pergelangan tangan Syena.
Namun disana Syena sama sekali tak bergeming sehingga membuat Aum yang berusaha menghindar diam seketika.
"Perihal diriku kemari! Aku ingin membahas tentang battle kita di Garena. Bukankah itu belum selesai?"
Syena mencoba mengingat kembali apa yang terjadi saat di Garena. Benar, pertandingan mereka masih belum usai.
Namun kembali Syena di ingatkan, perihal Elvas yang hanya diam di bawah tanah ketika Rensuar di sedang. Dan saat ini, pemuda pengecut ini berdiri tepat dihadapannya dengan seringai yang seakan menantang dirinya.
Elvas mengangguk mendengar itu. Tentu saja ia kemari untuk menyelesaikan pertempuran mereka. Bagi Elvas, ia tidak akan mampu tertidur bila pertarungannya antar lawannya tidak terjadi.
"Boleh tolong di ingat lagi perihal dirimu yang diam dibawah tanah? Saat itu Rensuar sedang di serang. Tapi kau lebih memilih duduk diam didalam bawah tanah layaknya seorang yang tidak punya kemampuan."
Ucapan Syena membuat Elvas memicingkan matanya. Kali ini Aum disamping Syena benar-benar ngeri rasanya. Tatapan itu bukan satu tatapan biasa. Namun ada balutan kebencian yang meliputinya.
"Aku tidak peduli kau ini seorang gadis ataukah lelaki. Tapi satu hal yang harus kau ketahui!"
Ucap Elvas, kali ini berjalan mendekati Syena disana. Tepat ketika jarak di antara mereka menipis. Elvas memilih membisikkan niatnya pada Syena hari ini.
"Aku akan mengalahkanmu! Tidak ada belas kasih untuk gadis ataupun lelaki segalanya akan setara!"
Ucap Elvas padanya. Sungguh bukannya malah takut, Syena justru terkekeh setelah mendengar apa yang Elvas katakan.
__ADS_1
"Kau ingin dihajar berapa kali oleh Rey untuk mengerti perihal kehidupan? Dengan kau menyiksa kami, kau bukan nampak seperti seorang manusia. Tetapi kau nampak seperti seorang iblis!" Maki Syena padanya.
"Jadi apakah kau akan terus berbicara? Ataukah kau akan meladeni tawaranku?" Tanya Elvas.
Sambil berseringai Syena mengangguk mengiyakan apa yang Elvas katakan. Kali ini Elvas benar-benar tidak akan melepaskan Syena. Akan ia buat Syena bertekuk lutut di bawahnya.
"Kalau begitu, mari pergi masuk ke dalam Garena Rensuar. Sebab ketika kau sekarat disana, tidak ada satupun yang mampu menolongmu!"
Ucap Elvas menjelaskan. Aum tersenyum mendengar itu. Kesepakatan mereka hari ini sudah di tetapkan. Elvas pergi dari sana ketika keinginannya di penuhi.
Sebelum Syena ikut pergi menyusul Elvas ke arah Garena. Dari kejauhan nampak Rey bersama Debora dalam gendongannya berjalan mendekat ke arahnya.
"Itu Rey!" Ucap Aum sambil menunjuk ke arah Rey.
Sontak Syena kembali mengalihkan netranya ke depan. Benar saja, itu Rey bersama Debora di punggungnya.
"Kakak?" Ucap Syena ketika mereka berdua semakin mendekat.
Rey melemparkan senyum ke arah adiknya itu. Begitupun dengan Debora yang kepalanya di topangkan manja di atas bahu Rey.
"Kau akan kemana Syena sepagi ini? Kenapa sudah rapi?" Tanya Rey padanya.
"Aku ingin pergi latihan sebentar kakak! Apakah boleh?" Tanya Syena mencoba mencari ijin.
"Tentu saja kau boleh melakukannya!" Ucap Rey sambil mengacak-acak puncak kepala Syena.
"Baiklah, aku pergi ya kakak! Semoga kakak Debora cepat pulih juga ya!"
Pamitan itu pun membawa Syena dan Aum pergi dari sana. Rey membawa Debora masuk kedalam Asrama.
...Tak semua orang itu harus kita percayai...
...Terkadang ada dua hati yang berlainan arah...
...Setengah hati untuk perhatian dan setengah hati lagi untuk menjatuhkan...
...Kebohongan yang setengah-setengah merupakan kegelapan dari semua kebohongan...
...
__ADS_1
...