Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Cawan Api Emas


__ADS_3

...Apa pun yang kamu lakukan, nikmatilah sepenuhnya. Itulah rahasia hidup!...


...Lakukan persis seperti yang kamu suka...


...Itulah arti sebenarnya dari kesenangan...


...Kesenangan mengarah pada kegembiraan dan kegembiraan mengarah pada kebahagiaan...



________


Aum mengatakan padanya bahwa malam hari adalah waktu yang paling tepat untuk berkunjung di area pendaftaran. Sebab saat malam Rensuar tempat mereka belajar akan sangat sepi.


Tiap malam para Musketeers bahkan petinggi pun tak ada disana. Para Musketeers akan menjalankan misi di dekat benteng. Tak ada penjagaan disana sebab memang tak ada apapun disana.


Hanya data-data nama Musketeers juga kemampuan mereka. Tepat malam menjelang, Syena beserta dengan yang lain duduk di meja makan. Mereka bersiap menyantap makanan.


Jadwal koki hari ini adalah Mikhail. Itulah mengapa Syena beserta Debora dan Riley terlihat bahagia sekali. Sebab masakan Mikhail selalu lezat, entah belajar darimanakah pemuda itu.


"Oke, makanan sudah siap!" Ucap Justice beserta Mikhail datang bersaman menyajikan makanan.


"Uwahhhhhh baunya harum sekali sungguh!"


Puji Riley, Justice mengambil sepotong daging yang sudah dipotong dan matang tentunya, lalu menyuapkannya pada Riley.


"Hmmmm..." Sambil mengunyah makanannya Riley mengacungkan kedua jempol nya.


Sungguh tak ada juru masak terbaik disini selain Mikhail. Debora mulai mengiris daging besar ditengah meja. Mengambilnya sepotong lalu meletakkannya di atas piringnya.


Malam ini sepotong daging cukup untuknya. Jika terlalu banyak mengkonsumsinya, Debora takut gemuk nantinya. Berbeda dengan Riley, ia mengambil potongan daging itu berulang kali.



Makanan favoritnya memang sama dengan Rey. Mereka sama-sama menyukai daging. Ditambah yang memasak ini adalah Mikhail. Sungguh olahan rempah-rempah darinya selalu pas. Makanan yang di masak olehnya tidak pernah mengecewakan sungguh.


"Akan ku ambilkan, Syena!" Ucap Mikhail ketika melihat Syena akan mengambil potongan pertamanya.


Baik Debora beserta kedua temannya saling menatap. Mereka memperhatikan Mikhail disana. Kepedulian semacam apa itu, mencurigakan sekali.


"Terima kasih kakak Mikha!" Ucap Syena setelah potongan daging itu berada dipiringnya.


"Makanlah yang banyak, lekaslah besar!" Tambah Mikhail.


"Apa-apaan itu?" Tanya Riley disampingnya.


"Apa?" Mikhail yang tak terima kembali melempar pertanyaan ke arah Riley.


"Justice makanlah yang banyak sayang, cepatlah besar!"


Riley menirukan apa yang Mikhail lakukan. Ia mengambil sepotong daging lalu meletakkannya di atas piring Justice.


"Sudahlah, kalian ini selalu saja!" Ucap Debora sambil tertawa mencoba melerai perdebatan yang akan mereka mulai.


"Ya begitulah, orang-orang iri!" Tambah Mikhail.


"Aku iri, padamu? Oh astaga yang benar saja kau ini Mikha! Setidaknya aku tidak pedofil sepertimu!"


Mikhail membulatkan matanya mendengar pernyataan itu. Semu merah menghiasi wajahnya, sebab disampingnya ada Syena. Mikhail memang tertarik pada gadis ini, sebab Syena cerdas.

__ADS_1



Ditengah acara makan malam mereka suara burung dari pintu masuk markas berbunyi. Hal itu membuat mereka diam sejenak, Debora menelan potongan daging terakhir lalu beranjak dari sana.


"Aku akan memeriksanya!" Ucap Debora.


Syena yang tau bahwa Aum akan kemari segera mengekori Debora dari belakang.


"Syena kau akan kemana?" Tanya Mikhail padanya, namun Syena acuh ia masih berlari mengejar Debora.


"Hahahaha kau ditolak!" Ledek Justice seraya meneguk minumannya.


"Diam kau!"


Geram rasanya sungguh melihat kedua rekannya yang terus saja menggodanya.


"Lagi pula siapa manusia yang datang kemari malam-malam begini?" Tanya Riley penasaran.


"Entahlah aku pun juga tak tau! Siapapun itu, itu bukan ancaman!" Jawab Justice sambil mengangkat bahunya.


"Tau darimana kau bahwa itu bukan ancaman?"


"Sebab kita hidup di area yang di lindungi!"


Jawaban itu benar mereka hidup di area yang dilindungi. Tak ada Iblis yang berani masuk kedalam Rensuar terlalu lama. Sebab ketika mereka di temukan, mereka akan di eksekusi saat itu juga.


Debora terkejut melihat siapakah manusia yang datang itu. Rupanya itu adalah teman Syena.



"Kakak!" Panggil Syena seraya menghampirinya.


"Hai Senior Debora! Saya Aum, saya kemari ingin mengajak Syena berjalan-jalan sebentar. Apa boleh?"


Debora tersenyum mendengar itu, netranya kembali menatap Syena disampingnya. Gadis itu menatapnya dengan penuh harap.


"Kau akan kemana?" Tanya Debora padanya.


"Aku ingin menikmati Rensuar saat malam! Bolehkah?" Tanya Syena padanya.


Mungkin Debora khawatir disini. Namun Syena juga tidak mungkin mau menerima penolakan. Semakin manusia di kekang, maka akan timbul perlawanan. Akan lebih baik apabila ia menjaga Syena dari jauh. Mungkin burung gagak Riley cukup untuk mengawasinya.


"Baiklah, jangan pulang terlalu malam ya Syena!" Tutur Debora padanya.


Syuthhh


Dari dalam domain, Debora mengambil duplikat kunci markas lalu menyerahkannya pada Syena.


"Bawalah, jika kau pulang nanti tancapkan itu di kotak surat seperti biasanya! Kami mungkin sudah tidur ketika kau pulang nanti."


Syena menerima kunci itu lalu mengangguk. Bahagia sekali rasanya mendengar itu. Syena pikir, Debora mungkin akan menolak permintaan Aum. Rupanya tidak, gadis ini menginginkannya pergi.


Usai menerima kunci itu Syena pun pergi dari sana. Debora segera masuk kedalam markas menghampiri Riley disana. Debora meminta kepada Riley untuk menggunakan sihirnya.


Mengendalikan burung gagaknya untuk mengawasi Syena. Tadinya Mikhail hendak mengejarnya, namun Debora melarangnya. Ia juga menjelaskan apabila manusia dikekang terus menerus maka akan menciptakan perlawanan.


Seekor burung gagak terbang mengawasi Syena dan Aum dari atas langit. Riley lah yang mengendalikan burung itu untuk mengikuti Syena.


___________

__ADS_1



Sulur hitam bergerak didalam tanah. Sulur itu adalah kekuatan Baron Hitam, didalamnya terdapat kloning milik Rey. Tujuannya adalah pergi ke Rensuar melepas rindu. Sekali saja, Rey ingin melihat Debora,Syena juga seluruh rekannya.


Ditempat lain Syena bersama dengan Aum disampingnya berjalan melewati hutan. Disana tidak gelap, daun-daun mereka bercahaya. Itu adalah hutan perbatasan antara tempat mereka belajar dan Asrama tempat mereka tinggal.


"Aum kupikir akan lebih mudah jika ini dilakukan pagi hari!" Ujar Syena kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri, sebab salju masih turun dan cuaca masih dingin.


"Ah kau pasti akan tertangkap oleh para Senior nanti!" Ujar Aum padanya.


"Mengapa kita harus takut? Kita tidak berbuat jahat bukan? Jika kita tidak memenuhi kriteria, maka api emas akan menolak bukan? Tak ada salahnya mencoba hal baru!"


"Aku tidak sepaham denganmu! Dan aku benci menemui mautku lebih cepat. Namun kau, entahlah bagaimana caranya mendeskripsikan. Jika kau mati, aku akan sangat menyayangkan kekuatanmu, Syena!"


"Mengesalkan sekali kau ini! Kupikir kau akan menangisi ku jika aku mati."


"Syena, tidak ada perpisahan tanpa air mata! Yang namanya perpisahan itu akan selalu menyakitkan!"



Syena hanya manggut-manggut mendengar ocehan itu. Sembari mengobrol mereka sudah menghabiskan setengah jam berjalan. Saat ini mereka telah sampai dihadapan pintu kayu.


Seperti biasanya area Rensuar memang tidak dijaga tiap malam. Tetapi mereka memasang sebuah gembok dari mantra. Gembok itu terpasang di segala ruangan dalam Rensuar.


Syena mengingat dengan baik mantra apa yang akan melepaskan gembok ini. Saat itu, ketika dirinya menerima misi dari Iblis seratus juta jiwa. Misi itu berisi mencuri data-data tentang Rey dan rekannya.


Saat itu, Syena tak sengaja bertemu dengan Rey dan Justice. Mereka mengendap-endap diantara lorong seperti seorang bandit. Tibalah mereka disalah satu ruangan, disana juga terkunci. Ketika Justice merapal mantra pembukanya, mantra itu sampai saat ini Syena masih mengingatnya.


"Bagaimana cara membukanya?" Aum terlihat kebingungan disana.


"Expertpatriounom!"


Glekkkk


Rapalan mantra Syena benar, perlahan gembok itu memudar lalu menghilang. Baik Syena dan Aum saling tersenyum ketika melihat satu tiang berdiri kokoh ditengah ruangan itu.


Diatasnya ada sebuah cawan, menampung api emas yang bersinar. Inilah tempat pendaftaran Rensuar Champion.


Bersamaan dengan masuknya kaki mereka kedalam. Saat itu juga, kloning milik Rey sampai tepat didepan Rensuar. Rey menghela nafas ketika ia tau bahwa ia tiba disana saat malam.


Didalam Silver Alaska, bahkan ia tak mampu melihat matahari. Itulah mengapa Rey, tak mampu menerka pagi atau malam kah diluar area Silver Alaska.


"Cihhh... Mengapa harus malam hari aku kemari? Aku akan menemuimu siapa jika begini!" Gerutu Rey menyesal.


"Kau terlalu banyak bicara Rey! Sudahlah, nikmati waktumu disana!" Ucap Baron Hitam jauh dalam Silver Alaska.


"Aku merindukan bangunan ini, mungkin aku akan berkeliling menikmatinya sebentar!" Ucap Rey.


Rey pun melangkah menyusuri Rensuar. Gedung itu masih sama, masih berdiri kokoh. Tak ada yang berubah sejak mereka menerima kabar kematiannya. Dua saudara itu berdiri ditempat yang sama saat ini, semoga saja Rey bertemu dengan Syena yang juga ada disana.


...Setiap perjalanan dimulai dengan satu langkah...


...Kita hanya harus memiliki kesabaran ...


...Jika kamu hanya menghadap ke depan, ada sesuatu yang akan kamu lewatkan untuk dilihat ...



__________

__ADS_1


__ADS_2