
...Persahabatan dianggap sebagai ujian karakter yang terberat...
...Sahabat sejati adalah yang menikammu dari depan...
...Teman adalah keluarga yang kamu pilih...
_________
"Uwahhhhh!!!"
Rey berbinar melihat banyak sekali makanan yang tertera diatas meja makan. Disana dua orang rekannya duduk sambil menatapnya malas, mereka sejak tadi menunggu kehadiran Rey untuk memulai acara makan malam mereka. Riley menyambut Rey dengan senyuman, ketika pemuda itu masuk kedalam markasnya.
"Kau ini lama sekali hah!" Protes Justice.
Debora disamping Rey hanya tersenyum tipis, senyum itu seakan menyiratkan kata maaf.
"Tuhan, terima kasih akhirnya kau tuntun aku menuju surga dunia!"
Rey berucap sambil mengatupkan tangannya, memejamkan matanya lalu menatap ke atas langit-langit. Mikhail dan Justice menatap malas ke arah Rey, sekarang drama apa lagi yang terjadi disini. Busung lapar bisa menyerang mereka, jika tak segera menyantap makanannya. Sampai kapan mereka akan menunggu Rey duduk, lalu makan. Riley membuat peraturan hari ini, dimana sebelum Rey dan Debora datang salah satu dari mereka tidak akan menyentuh makanan.
"Cepatlah Rey!"
Protes Mikhail dan Justice, keduanya sudah tidak sabar rasanya. Aroma hidangan didepannya membuat mereka hampir gila rasanya, perut mereka seakan berontak ingin segera melahap seluruh menu itu segera.
Rey mengangguk dengan wajah yang berseri-seri itu, duduk tepat disamping Riley, rasanya tak percaya penatnya akan disambut daging Wagyu sebanyak ini.
"Ini porsi besar!"
Ujar Rey girang, kedua tangannya sibuk memotong daging Wagyu dihadapannya. Rey mengambil potongan daging Wagyu yang paling besar, detik kemudian daging itu melesat masuk kedalam mulutnya. Dengan penuh semangat, Rey memakannya lahap sekali. Justice dibuat tercengang akan tindakannya, manusia ini tidak biasanya makan sebanyak itu.
"Kau rakus seperti babi!"
Maki Justice, sembari menatap Rey, Mikhail tersenyum. Ia paham bagaimana rasanya kehilangan seluruh mana dalam tubuhnya.
Pukkkkk
Pukkkkk
Mikhail menepuk pelan bahu Justice, itu membuat Justice beralih ke arahnya menatapnya.
"Apa?" Tanya Justice heran.
"Just, sepertinya kau harus lebih banyak belajar lagi!"
Justice membulatkan matanya mendengar itu, rasanya itu seperti hinaan baginya. Namun bagi Rey, malam ini rasanya segala ocehan Justice tak ada artinya. Rey lebih mementingkan perutnya ketimbang berdebat konyol dengan Justice malam ini, namun jika Justice memulai entahlah apa yang akan terjadi.
"Makanlah sepuasnya Rey, kami sengaja memasak sebanyak ini untukmu, ini penyambutan!"
"Wah benarkah! Tandanya seluruh menu dimeja ini milikku!"
__ADS_1
Rey semakin menggila disini, ia merentangkan tangannya seakan tak memperbolehkan satu orang pun menyentuh daging dimejanya. Justice geram melihat tangan-tangan didepannya itu menghalanginya. Justice berdiri kali ini, sambil menunjuk Rey.
"Bocah, kami sudah sabar menunggumu sampai hampir mati kelaparan!"
Tak tinggal diam, Rey pun ikut bangkit disana sambil menatap Justice kesal kali ini.
"Bisakah kau biarkan aku menyantap seluruh makananku malam ini!"
Debora yang bersandar diambang pintu itu diam menyaksikan perdebatan konyol antara Rey dan Justice. Lagi dan lagi, sepertinya sehari mereka tak berdebat rasanya tak mungkin. Riley mengepalkan tangannya dibawah meja, jika terus seperti ini kesabarannya akan benar-benar hilang.
"Kalian, bisakah tenang sebentar?"
Alunan suara milik Riley mulai terdengar mengintimidasi, namun dua manusia yang sedang berdebat itu acuh seakan tak peduli, sepertinya mereka memang suka mengundang bencana. Mikhail memperhatikan itu, ia sadar sebentar lagi akan ada sesuatu yang meletup disini. Dengan sigap, Mikhail berpindah dari sana, sambil membawa piring juga gelas minumannya Mikhail duduk di sofa tak jauh dari meja makan.
"Kau jangan menyentuh milikku!" Protes Rey.
"Kau pikir kami membelinya hanya untukmu hah? Kami menunggumu selama satu jam disini, dan sekarang, bahkan kami tak kau perbolehkan memakannya."
"Riley bilang ini untukku!"
"Ini untuk bersama!"
"Hei kalian, bisakah bertingkah sesuai usia kalian!!!"
Riley berteriak murka, dengan sihirnya meja itu terbelah seketika. Baik Rey dan Justice keduanya membulatkan mata ketika melihat piring-piring penuh daging itu bertebangan di udara. Kiamat sudah rasanya hari ini tak ada makanan yang akan mengisi perut mereka.
"Elluyna Ericros!"
Debora menggunakan sulur cahaya miliknya, menahan beberapa piring yang akan jatuh ke lantai. Melihat sulur cahaya milik Debora, tak membiarkan piring berisi daging itu jatuh sia-sia ke lantai, Rey dan Justice menghela lega nafas mereka. Terbelahnya meja itu mengakhiri perdebatan mereka. Mungkin sudah saatnya Debora sebagai ketua Tim, mengambil alih kondisi disini.
"Tidak ada yang akan berebut!"
Ujar Debora seraya menggerakkan sulurnya membawa beberapa piring itu ke arah tiga rekannya, membagikannya secara rata. Ketika mereka mendapatkan bagian mereka masing-masing, mereka menghela nafas. Rasa lapar dan lelah bercampur satu dalam diri Rey, membuat emosinya tidak stabil hari ini.
"Jadi ini tanggung jawabmu!"
Riley berucap sambil menatap Justice disampingnya, jarinya menunjuk tepat ke arah meja makan yang terbelah itu. Saat ini mereka semua sedang duduk disofa, saling berhadapan. Mereka duduk diruang tamu, meja makan didepan ruang tamu itu kondisinya sudah tak terbentuk lagi, tergeletak begitu saja disana.
"Mengapa harus salahku hah? Kau merusaknya!" Protes Justice tak terima.
"Karenamu!"
"Karenaku?"
"Iya!"
__ADS_1
Debora dan Rey menatap heran ke arah dua manusia didepannya itu. Jarang rasanya melihat Riley berdebat seperti ini. Baik Debora dan Rey memperhatikan keduanya, Mikhail juga sesekali melirik mereka. Hanya suara mereka yang riuh mengusik ketenangan disini. Rey seperti melihat tingkahnya dalam diri Justice. Sejenak Rey teringat sesuatu tentang satu perjanjian, satu perjanjian yang ia pilih sebelum kehilangan kendali. Satu pilihan itu membawa kekosongan lagi dalam hatinya, Rey menunduk sedang Debora disampingnya memperhatikan itu.
"Hei, rekan!"
Suara sapaan dari Rey untuk mereka, meredam sejenak riuh perdebatan antara Justice dan Riley. Mereka semua menatap Rey kali ini.
"Terima kasih!"
Ucapan itu membuat keempat rekannya saling menatap satu sama lain. Rey mengucapkan itu dari hatinya, singkat namun hangat sekali rasanya. Terdengar sangat tulus, mengalun untuk mereka.
"Aku bersyukur, diberkati rekan-rekan yang baik disini."
Ujarnya lagi, mendengar itu Debora tersenyum tipis. Sedang ketiga rekannya yang lain masih saling menatap.
"Hei, hei, hei! Sepertinya kepalanya sedang rusak hari ini!"
Ucap Justice seraya menunjuk Rey, yang masih bersila dan menunduk.
"Kita harus membawanya ke Noella!"
"Berisik!!!" Protes Rey.
"Ya, mungkin benar! Otaknya memang selalu rusak.." Tambah Riley terpotong oleh Rey.
"Ahhh... diamlah kalian! Atau ku hajar kalian disini!"
Protes Rey lagi, malu rasanya setelah mengucapkan itu dihadapan rekan-rekannya. Walaupun sejujurnya apa yang ia ucapkan tadi murni dari dalam hatinya. Namun ketika Rey tau respon mereka seperti ini, rasanya ingin sekali menarik ucapan itu kembali.
"Aku belum selesai bicara!" Ucap Riley pada Rey.
"Eh?"
Rey menatap Riley kali ini, terlihat Riley tersenyum ke arahnya sambil mengacungkan kedua jempol nya.
"Otaknya memang selalu rusak, tetapi hati Rey adalah yang paling lembut disini. Dia manusia yang baik!"
Ujar Riley padanya, tak bisa dipungkiri memang itu nyata, dan itu kenyataannya. Justice menguap setelah mendengar itu. Mengantuk rasanya setelah perutnya terisi penuh.
"Ah... Lebih baik kita segera tidur, esok adalah hari besar untuk Rey!"
Mereka berlima memutuskan untuk segera terlelap malam ini. Sebelum tidur, Riley dan Debora membersihkan ruang makan. Mereka membersihkannya singkat, menggunakan sihir mereka. Setelah ruang makan cukup bersih, mereka melangkah masuk ke arah kamar mereka menjatuhkan tubuh mereka diatas kasur lalu terlelap.
...Persahabatan yang baik adalah percakapan yang tidak pernah berakhir...
___________
Ensiklopedia :
Uranus adalah planet ketujuh dari Matahari. Uranus merupakan planet yang memiliki jari-jari terbesar ketiga sekaligus massa terbesar keempat di Tata Surya. Atmosfer Uranus serupa dengan Jupiter dan Saturnus karena kandungan utamanya adalah hidrogen dan helium, tetapi mengandung lebih banyak unsur "es" seperti air, amonia dan metana, bersama dengan sisa hidrokarbon.
__ADS_1