Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Kimono Untukmu


__ADS_3

Cukup letih rasanya setelah menjalankan beberapa misi dari matahari mulai terbit sampai matahari akan tenggelam.


Senja ini membawa Rey dengan jubah putihnya masuk ke dalam kota. Rupanya benar, di sana ramai sekali. Beberapa manusia berbahasa Jepang terlihat sedang mengenakan kimono baju adat mereka.


Acara yang Riley katakan padanya benar. Jika memang malam nanti akan ada acara menerbangkan lentera, maka Rey harus mengajak Debora melihat itu.


Rey mencari-cari keberadaan toko kimono. Sebuah toko yang menjual banyak sekali baju adat Jepang.


"Kakak Rey?" sebuah suara dari balik tubuh Rey membuatnya berhenti.


Rey berbalik ke belakang mencoba melihat siapakah manusia yang sedang memanggilnya itu. Tibalah ketika netranya bertemu pemilik suara itu, Rey pun tersenyum.


"Kakak sedang mencari apa?" tanyanya lagi kepada Rey.


Itu adalah Aum, dia sendirian dan itu membuat Rey heran rasanya. Aum biasanya tidak akan sendiri. Biasanya ia akan bersama Syena.


"Kau sendirian Aum?" tanya Rey kepadanya, netranya mencoba mencari-cari keberadaan Syena.


Aum yang mengerti bahwa Rey sedang mencari Syena pun hanya tersenyum.


"Syena tidak bersamaku, dia sedang bersama dengan kakak Mikhail! Mereka berdua sedang sibuk mengurus ujian para Muskeeters!" jawab Aum kepadanya.


Rey menganggukkan kepalanya mendengar itu. Kemudian netranya beralih ke arah Aum. Di sana ia menyentuh kedua bahu Aum lalu menghela nafas.


"Aum, aku benci berada area penjual Jepang! Aku tidak mengenal huruf kanji, aku tidak bisa membacanya. Apakah kau bisa membantuku, mencari keberadaan toko penjual pakaian kimono?" ujar Rey kepada Aum.


Mendengar itu, Aum pun terkekeh. Namun ada satu pertanyaan dalam kepalanya, untuk apa Rey membutuhkan kimono? Jika itu untuk Syena, rasanya tak mungkin. Ditambah hari ini akan ada festival perayaan adat Jepang.


Ada tiga kuil di kota ini. Yang paling istimewa adalah yang paling tinggi. Katanya hari ini para manusia timur, khususnya ras Jepang, mereka akan berbondong-bondong menuju ke kuil lalu menerbangkan lentera di sana.


"Untuk siapakah kimono itu?" tanya Aum kepadanya, ia ingin tau.


"Untuk Debora!" jawab Rey jujur kepadanya.


Ah, tentu saja hal itu membuat Aum senang mendengarnya. Debora dan Rey adalah pasangan serasi di mata Aum. Aum mengangumi mereka, sungguh.


"Baiklah kakak, aku akan mengantarmu!" ujar Aum kepadanya.


"Yoshhh, terima kasih Aum!" ucap Rey riang, bersyukur sekali rasanya.

__ADS_1


Aum pun mengajak Rey berjalan di area penjual Jepang. Kedai-kedai asing itu berjajar rapi di sana. Sepanjang perjalanan itu Aum bertanya perihal Debora, perihal kondisinya. Rey menjawab segala keingintahuan Aum lengkap tak kurang.


Setibanya mereka di dalam toko kimono. Rey berhenti tepat di hadapan sebuah kimono berwarna merah muda, dengan motif bunga di sana. Indah, dan Rey terpukau dibuatnya.


"Apakah anda menyukainya Tuan?" tanya penjual itu kepadanya.


Rey yang melamun terkejut mendengar itu, lamunannya terbuyar dan ia menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum menghadap ke arah penjual itu.


"Ini indah kakak!" Aum di sampingnya mulai memberi penilaian, ia juga memandangi kimono itu.


"Kau benar, ini indah dan Debora pasti sangat anggun memakainya!" jawab Rey antusias.


"Apa anda ingin mengambilnya?" tanya penjual itu lagi kepada Rey.


Dari dalam domain Rey mengeluarkan lembaran uangnya lalu memberikannya kepada penjual. Kimono cantik itu ia ambil, penjual itu membungkus sebentar kimono itu lalu menyerahkannya lagi kepada Rey.


Setelah kimono itu didapat, Rey dan Aum pun keluar dari dalam toko. Setibanya di luar mereka berhenti sejenak. Rey memasukkan bungkusan itu ke dalam domain.


"Terima kasih ya, Aum! Berkatmu aku menemukan kado yang indah untuk kucing putih!" ujar Rey kepada Aum di sampingnya.


Aum hanya mengangguk lalu tersenyum.


"Aku lapar kak, aku akan pergi makan ya! Selamat bersenang-senang untuk kalian nanti malam!" ujar Aum kepada Rey, gadis itu melambaikan tangannya lalu berlari menjauhi Rey.


Di balkon kastil Debora sedang melipat tangannya memandangi suasana kota dari atas sana. Kota terlihat begitu kecil dari tempatnya berdiri.


Kemudian netranya beralih ke menatap langit yang mulai kehilangan cahayanya, sebentar lagi malam akan tiba.


"Debora!" panggil Noella dari balik tubuhnya.


Mendengar panggilan itu, Debora pun berbalik. Noella tersenyum ke arahnya sambil membawa beberapa ramuan dalam nampannya.


Noella berjalan mendekati Debora, lalu memberikan ramuan itu. Tanpa banyak berpikir apa-apa lagi, Debora pun meneguk ramuan itu, menghabiskannya.


Klikkkkk


Ketika Noella menjentikkan jarinya, di belakang mereka masing-masing terletak satu kursi.


"Ada apa Nona Noella?" tanya Debora kepadanya ketika melihat satu kursi berada di belakangnya.

__ADS_1


"Mari duduk, dan bicara!" jawab Noella.


Mendengar itu Debora pun duduk, begitupun dengan Noella. Keduanya saling berhadapan, Noella menatap serius ke arah Debora kali ini.


"Debora ada sesuatu yang harus kuperjelas kepadamu di sini!" ujar Noella kepadanya.


Debora diam, ia masih menatap Noella mencoba mendengarkan dengan baik apa yang akan Noella katakan.


"Apakah kau pernah mendapatkan mimpi tentang Arlert?" tanya Noella kepadanya.


Deggggg


Seketika Debora dibuat menunduk, mengingat mimpi itu lagi adalah hal yang tidak ingin ia lakukan. Ia tak tau dari mana asalnya mimpi itu. Namun rasanya, itu nyata sekali.


Debora kembali menatap kedua telapak tangannya yang kosong. Botol ramuan itu sudah hilang secara otomatis ketika isinya habis. Ada kehampaan dalam tatapan Debora, dan Noella tau akan itu.


"Aku memahamimu, pasti berat bukan melakukan apa yang ada di mimpimu itu. Debora, percayalah bahwa itu memang harus dilakukan! Itu bukan mimpi, itu adalah pertanda buatmu untuk melakukan itu di masa depan nanti!" jelas Noella kepadanya.


Lagi, hal itu membuat Debora semakin tak kuasa menahan air matanya. Sesak di dalam dadanya serasa akan membunuhnya saja.


"Mengapa harus aku yang melakukan itu?" tanya Debora masih menunduk kepada Noella. .


"Sebab penguasa memilihmu!" jawab Noella kepadanya.


"Bagaimana caraku membulatkan hatiku? Sedangkan tugas yang dibebankan padaku berat sekali, bahkan aku di sini susah payah menimbun segala perasaanku kepadanya!" lirih Debora lagi.


Melihat itu Noella pun menyentuh kedua tangan Debora. Sontak, Debora yang menunduk pun mendongak, menatap lekat ke arah Noella di sana.


Elf itu sama sekali tak tersenyum. Tatapannya sendu, dan Debora tau Noella juga merasakan apa yang ia rasakan.


Untuk mengutarakan satu kalimat, mengenai mimpi itu rasanya Debora tak sanggup lagi. Debora pun memeluk Noella menumpahkan segala kesedihannya di sana.


"Aku mencintainya, Noella! Bagaimana takdir bisa sekejam ini pada kami?" ujar Debora terisak.


Noella hanya membelai punggung itu lembut mencoba menenangkannya.


"Penguasa tidak pernah salah memilih kalian! Aku yakin, akan ada sesuatu yang indah untukmu setelahnya."' ujar Noella lagi kepadanya.


"Tapi salah satu keindahan itu adalah dia!" lirih Debora kepada Noella.

__ADS_1


Noella menjauhkan tubuhnya dari Debora. Terlihat Debora menundukkan kepalanya. Suara pintu terbuka membuat Debora menghapus air matanya.


Noella berdiri begitupun dengan Debora, ia berbalik menatap ke arah balkon. Ketika Noella berbalik, ia melihat Rey di sana dengan senyum di wajahnya berjalan ke arah mereka.


__ADS_2