Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Sebelum Pergi Berperang


__ADS_3


Kota yang pulih pada akhirnya beraktivitas seperti biasa. Perdagangan kembali terjadi disana.


Di lain sisi Rey beserta beberapa rekannya telah usai menjalankan tugas mereka. Saat ini sudah waktunya bagi mereka untuk bersantai. Mereka sedang berjalan bersama keluar dari dalam kastil sihir.


"Sedikit letih juga hari ini ya!" Ucap Justice kembali mengingat perihal apa saja yang sudah ia lakukan tadi.


"Letih kita nanti juga akan terbayar bukan? Kau tenang saja, segera kita akan menuju kebebasan. Dan dunia kembali pulih!" Ucap Rey.


Debora menatap ke arah samping. Dimana pemandangan di samping mereka adalah belantara luas.


Kastil sihir letaknya berada di dataran tinggi agak jauh dari kota. Kira-kira apabila kalian berjalan dari Kastil sihir ke kota maka akan memakan durasi waktu sekita satu jam.


Namun lain lagi apabila kalian menggunakan Khufra atau menggunakan kemampuan sihir.


Wushhhhhh


Suara sesuatu terbang dari atas mengejutkan mereka. Tepat ketika tubuh mereka keluar dari dalam kastil sihir. Di depan jembatan yang letaknya cukup jauh dari mereka.


Terlihat Syena sedang duduk di atas Khufra nya sambil menatap ke arah mereka. Syena melambaikan tangannya ke arah Rey beserta yang lainnya.


"Dia terlihat begitu bahagia sepertinya!" Ucap Mikhail sambil memperhatikan raut wajah Syena.


Rey mengangguk ia pun berjalan menghampiri adiknya. Hal itu di ikuti oleh beberapa rekannya yang lain.


Setibanya mereka di hadapan Syena. Satu sunggingan senyum Syena berikan pada mereka.


"Kakak..." Ucap Syena.


"Ada apa Syena, kau terlihat sangat bahagia sekali hari ini?" Tanya Justice padanya.


"Nona Noella memberitahu seluruh warga kota perihal misi kita. Kalian tau, warga kota mengatakan khusus hari ini mereka para Muskeeters yang berperang gratis mengambil apa saja di kota. Barangkali kakak ingin kesana! Ini kejadian yang jarang sekali bukan?"


Sebuah berita bahagia itu membuat mereka tersenyum. Kecuali Debora disana, ia hanya menunduk.



"Mari kita pergi sayang!" Ucap Riley pada Justice.


"Benar, mari kita pergi! Kau tak pergi Rey?" Tanya Justice sambil menyenggol tubuh Rey.


"Tentu saja aku akan pergi! Ini gratis, dan aku jelas saja tidak akan menyia-nyiakan ini." Jawab Rey penuh semangat.


Mikhail yang melipat kedua tangannya pun menghela nafas. Ia menghampiri Syena lalu ikut naik di atas Khufra bersamanya.


"Kakak Mikha akan apa?" Tanya Syena terkejut melihat kehadiran Mikhail di belakangnya.


"Sepertinya makanan manis cocok hari ini Syena!" Ucap Mikhail padanya.


Syena tersenyum mendengar itu. Makanan manis adalah favoritnya. Menikmati itu bersama seorang teman adalah hal bagus menurutnya.


"Baiklah ayo berangkat!" Ucap Syena penuh semangat.


Ia mulai menerbangkan Khufra nya ke angkasa. Hal itu di susul Justice dan Riley yang ikut pergi menghilang menggunakan mantra Leviousa.


Tinggallah saat ini Rey bersama Debora. Menatap kepergian seluruh rekannya kembali membuat Debora menunduk.


Entahlah, dia seperti tak memiliki semangat untuk melakukan apapun sekarang.


Debora berjalan melewati Rey seakan tak menganggapnya ada disana. Rey menatap iba ke arah gadis itu.


Rey paham, Debora pasti kesal padanya sebab menerima perintah penyerangan secepat ini.


Namun bagaimana jika memang itu tugas dan kewajiban. Jika tugas dan kewajiban mu menyangkut nyawa dunia.


Maka cinta itu harus di korbankan. Jika kau memilih cinta, maka dunia akan tamat. Dan jika kau memilih dunia, maka cintamu akan sakit.


Dilema memang, namun nyawa jutaan manusia lebih penting daripada perasaannya.


Sekalipun Rey tak mampu mundur. Tetapi selama ia masih disini, ia tak ingin lebih menyakiti Debora nya.


Segera Rey menyusul kucing putih kesayangannya itu. Kembali mereka berjalan berdampingan saat ini.



"Mengapa kau tidak ikut pergi bersama mereka?" Tanya Debora pada Rey di sampingnya. Ia berucap tanpa menoleh ke samping.


"Aku tidak memiliki seseorang yang bisa ku ajak. Jadi mungkin aku akan ke markas saja sekarang, tidur!" Jawab Rey berpura-pura menguap.


"Kau bilang tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini tadi?" Tanya Debora lagi padanya.


"Kesempatannya menarik, tapi jika di nikmati seorang diri tanpa dirimu. Itu tidak akan menarik lagi buatku!"


Debora berhenti setelah Rey mengatakan itu. Sejenak ia membuang kasar nafasnya. Kesal memang menghadapi Rey yang tak peka pada perasaannya ini.


"Tinggalkan aku, aku sedang ingin sendiri!" Ucap Debora pada akhirnya berani menatap ke arah Rey.


Namun disana Rey malah tersenyum bahagia melihat itu. Debora sama sekali tak menemukan penyesalan dalam tatapan itu.


Hal itu membuatnya semakin kesal saja. Kenapa bisa ia mencintai manusia mengesalkan seperti Rey disini? Debora segera pergi meninggalkan Rey disana.

__ADS_1


"Apa kau ingin menjadi dirimu yang dulu, Debora?" Tanya Rey.


Baru beberapa langkah ia menjauh pada akhirnya Debora berhenti. Namun ia tak berbalik.


"Kekecewaan mu padaku aku tau sebabnya! Namun egois dalam situasi seperti ini itu tidaklah benar! Selagi manusia nya masih ada disini, maka jangan buang waktunya dengan kemarahan tak berujung ini. Jika kita mampu membawa kebahagiaan pada hidup orang lain, maka lakukan itu. Sebab kita tidak pernah tau sampai kapan hal itu mampu kita lakukan untuknya!"


Kembali petuah itu terlontar. Debora di buat tertampar lagi rasanya. Namun ia tetap diam.


Rey tersenyum melihat itu. Segera ia mendekati gadis bersurai sama sepertinya itu.


Ketika ia berdiri tepat disampingnya. Sambil menatap ke arah langit Rey menyatukan tangan mereka.



"Kucing putih, ada banyak hal yang ingin ku lakukan bersamamu. Jadi ikutlah bersamaku sekarang!" Ucap Rey menoleh ke samping.


Bersamaan dengan itu Debora juga menoleh ke arahnya. Ketika tatapan mereka bertemu.


Sebuah mantra membawanya pergi dari tempat itu. Hingga tibalah mereka tepat di kota.


Area kota yang sangat ramai bak pasar malam. Rombongan manusia berjubah berlalu lalang disana.


Para Muskeeters sedang menikmati waktu mereka. Rey dan Debora, mereka masih saling bertatapan satu sama lain.


Ketika Rey mengalihkan tatapannya, segera ia membawa Debora berjalan menyusuri area kota.


Debora lebih banyak diam disini. Ucapan yang Rey katakan padanya benar-benar membuatnya enggan menolak.


Mereka berjalan menyusuri beberapa kedai. Beberapa kedai penjual barang-barang unik.


Hingga ada satu toko yang membuat Rey tertarik. Sebuah toko takut. Disana ia melihat ada topi rajut yang pernah ia miliki lalu memberikannya pada Syena.


Merasa itu adalah toko yang bagus Rey pun menarik tangan Debora untuk mengikutinya masuk kesana.



"Ahh iya, aku hampir lupa menanyakan padamu. Dulu aku pernah menyerahkan hal paling berharga milikku sebelum adikku kembali. Lalu kemana itu sekarang Debora?" Tanya Rey padanya.


Debora mencoba mengingat perihal benda apakah yang Rey maksudkan. Beberapa detik kemudian ia mengingat itu. Benda yang Rey maksud adalah topi rajut milik Syena.


"Aku memberikannya kembali pada Syena!" Jawab Debora sambil melihat-lihat barang yang di jual disana.


Rey mengangguk lalu netranya tertuju pada satu objek. Satu objek, yang membuatnya tertarik.


Benda itu membuatnya sanggup membayangkan bahwa gadisnya ini akan pantas mengenakannya.


Kembali Rey membawa Debora ke arah benda itu. Sebuah syal berwarna merah.


Segera Rey pun mengangguk mengiyakan apa yang Penjual itu tanyakan. Penjual itu pun membungkus syal itu lalu menyerahkannya pada Rey.


"Hari ini sebagai tanda terima kasih kami pada Muskeeters yang ikut berperang merebut wilayah. Seluruh item kami ini akan di berikan secara cuma-cuma!"


Jelas Penjual itu. Rey berterima kasih pada penjual itu. Ketika apa yang ia inginkan dapat. Rey pun mengajak Debora pergi dari sana.


"Syal itu untuk siapa?" Tanya Debora sekilas memandangi bungkusan yang Rey bawa.


Namun Rey tidak menjawab itu. Ia menghilangkan bungkusan itu masuk ke dalam domainnya.


"Debora, bergembiralah! Sebab hari-hari yang bahagia itu harus di nikmati dengan sunggingan senyum dan tawa. Sebagai pertanda bahwa kita teramat sangat bersyukur saat melewatinya!" Jelas Rey lagi.


Lama kelamaan pada akhirnya Debora ikut terhanyut atas perilaku dan apa yang Rey katakan. Rey kembali mendapatkan senyuman itu.


Hingga mereka tiba di kedai ramen yang beberapa waktu lalu mereka kunjungi. Melihat kedua Muskeeters yang baru saja masuk. Penjual itu tentu masih mengingat jelas wajah mereka.



"Wah pasangan ini datang lagi rupanya!" Ucap Penjual itu.


Baik Rey dan Debora saling tatap satu sama lain. Keduanya tersenyum kemudian.


"Ada menu apa hari ini Paman, yang paling spesial?" Tanya Rey padanya.


"Ahh iya, kami memiliki satu menu luar biasa. Berhubung sebentar lagi katanya kalian akan berperang merebut wilayah. Bagaimana jika kalian coba ramen porsi dua orang dalam satu mangkuk besar. Untuk menu spesial ini kami juga menyiapkan area khusus di atas kedai ini. Biasanya menu ini akan kami tawarkan pada sepasang kekasih, dan tentunya hari ini aku tidak salah menawarkan itu pada kalian?" Ujar Penjual itu.


"Tawaran yang bagus! Bagaimana kucing putih, apakah kau ingin melihat gugusan bintang dan ramai kota di atas kedai ini? Akan sangat indah sepertinya sambil menikmati ramen hangat!" Ucap Rey sambi mengalihkan pandangannya pada Debora yang duduk di hadapannya.


"Boleh!" Jawab Debora singkat namun lembut.


"Baiklah, mari ku antar kalian ke atas!" Ucap Penjual itu.


Mereka pun berjalan ke atas atap. Rupanya cukup tinggi juga, menurut Rey ini lebih dari lima lantai.


Hingga beberapa menit kemudian tibalah mereka di atas tempat itu. Disana ada beberapa kursi untuk makan.


Kota terlihat begitu indah di atas sini. Juga atap yang tak tertutup menampakkan gugusan bintang malam ini.


"Selamat menikmati pemandangannya, mohon di tunggu untuk makanannya!" Ucap Penjual itu mempersilahkan mereka.


Debora dan Rey duduk disana. Sejenak keduanya terlarut atas pemandangan langit yang menakjubkan itu.


"Langitnya indah sekali, Debora, kita ini kan sedang berada di area timur. Menurutmu, sekarang kita ini sedang berada di negara apa?" Tanya Rey pada Debora yang masih menatap langit.

__ADS_1


Debora sedikit berpikir disini. Logikanya semakin bekerja. Dilihat dari beberapa puing-puing kota ini. Nalarnya mengatakan mungkin mereka sedang berada di Jepang.


"Jika dilihat disini banyak yang menggunakan bahasa Jepang sama seperti Riley. Mungkin itulah yang membuatmu ikut tertular!" Jelas Debora padanya.


"Apa kita sedang berada di negeri Pokemon Debora?" Tanya Rey.


Hal itu membuat Debora mengangguk mengiyakan apa yang Rey tanyakan.


"Wah Sugoi!!!" Pekik Rey.


Kembali kalimat aneh itu Rey rapal dan Debora sudah terbiasa mendengar itu. Mereka yang notabennya adalah orang barat pun perlahan mulai terlarut dengan budaya timur.


Debora sedikit di ingatkan perihal syal itu. Syal itu membuatnya bertanya-tanya sampai saat ini. Untuk apa seorang Rey membeli sebuah syal?


"Rey!" Panggil Debora, hanya ada deheman yang Rey berikan padanya.


"Kau membeli syal itu untuk siapa?"


"Ini untuk seorang gadis!" Jawab Rey.


"Gadis siapa?" Tanya Debora mulai antusias.


Dalam hati Rey tertawa, Debora pasti cemburu sekarang.


"Kenapa kau ingin tau? Nanti juga kau akan tau, tenang saja!" Jawab Rey padanya.


Debora menghela nafas mendengar itu. Hatinya cemburu jujur saja. Tetapi ia juga tidak berhak mengatakan itu, sebab mereka tidak berpacaran bukan.


Melihat wajah Debora yang kesal Rey pun berinisiatif untuk meninggalkannya sebentar.



"Aku ingin ke toilet dulu, Debora!" Ucap Rey sambil berdiri.


"Kau akan meninggalkanku sendiri?" Tanya Debora padanya.


Rey yang sudah bergegas pergi itupun berbalik sebentar. Sambil memasang muka seperti orang menahan sesuatu.


"Lantas kau akan ikut ke toilet bersama ku kah?" Tanya Rey padanya.


Debora memerah mendengar itu. Ia pun segera berbalik dan menggeleng. Rey tersenyum ia pun pergi dari sana.


Sesampainya dibawah ia berpas-pasan dengan penjual itu. Rupanya makanan mereka sudah matang.


Rey pun berinisiatif membawanya sendiri. Tentu saja penjual itu tidak menolak itu. Rey memasukkan semangkuk ramen besar itu dalam domain.


Ketika tiba tepat di atas. Sejenak Rey memandangi Debora yang sedang menunggunya.


Rey kembali mengeluarkan syal yang baru saja ia beli mengeluarkannya sambil berjalan mendekati Debora nya.


Setibanya di belakang tubuhnya Rey pun memakaikan syal itu lembut ke lehernya. Hal itu sedikit membuat Debora terkejut. Namun ia mengenali tangan kekar itu, ia hanya diam menikmati perilaku hangat yang Rey berikan padanya.



"Pakai ya, aku sengaja mengambil ini untukmu! Benda berharga yang pernah ku berikan padamu itu milik adikku. Dan sekarang kau memiliki ini dariku, aku harap kau akan selalu mengingatku tiap kali kau memakainya." Bisik Rey lembut di telinganya.


Setelah mengatakan itu Rey pun berjalan ke arah tempat duduknya mengeluarkan ramen yang ia simpan dalam domain lalu menyajikannya di atas meja mereka.


"Selamat makan!" Ucap keduanya sama-sama memegang sumpit.


Keduanya pun makan satu mangkuk berdua. Keduanya begitu menikmati makanan itu.


Hingga ketika sajian terakhir ramen itu menyisakan satu helai mie ramen yang sama-sama terhubung di mulut mereka.


Melihat itu Debora pun terkejut. Namun tidak dengan Rey. Ia lebih memilih terus memakan mie yang menghubungkan bibir mereka itu.


Tiba ketika wajah mereka semakin dekat, Debora pun mengigit mie nya mencoba memutuskan hubungan antara bibir mereka.


Rey tersenyum dalam hatinya melihat itu. Sepertinya jangan lagi, sudah berulang kali juga ia merasakan bibir manis gadisnya itu.


Sudah cukup, ia terlalu iba pada Debora apabila harus menghilangkan lagi ingatannya.


Namun Rey mengganti hal itu dengan kecupan lembut di keningnya. Sebuah kecupan yang mengisyaratkan segalanya.


Mengisyaratkan tentang perasaanya juga ucapan maaf sebab ia egois menghapus ingatan Debora ketika mereka sama-sama mencurahkan isi hati mereka.


Ketika Rey menjauhkan dirinya lalu bersandar sambil menikmati minumannya. Debora menunduk sungguh ia benar-benar memerah kali ini.


"Kenapa kau menciumiku lagi?" Tanya Debora refleks.


"Itu pertanda terima kasih sudah menemaniku makan disini!" Jawab Rey dengan wajah polosnya.


Debora menaikkan satu alisnya mendengar itu.


"Jawaban macam apa itu? Mengesalkan sungguh! Apakah harus ucapan terima kasih di ucapkan dengan ciuman mesra semacam itu?" Lirih Debora dalam hatinya.


"Benar-benar pemuda aneh!" Gerutu Debora ia pun meraih minumannya lalu meminumnya.


Rey terkekeh dalam hatinya mendengar apa yang Debora nya katakan. Malam singkat yang cukup indah ini akan selalu mereka ingat nanti dan selamanya.


__ADS_1


__ADS_2