Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Garena Rensuar (Teknik)


__ADS_3

...Seseorang akan menjadi kuat apabila ia melindungi seseorang yang dicintainya...


...Tidak semua mimpi dan harapan akan terwujud sesuai dengan keinginan kita...



Sebuah cahaya dari atas atap menyinari tubuh Dion, itu adalah pertanda bahwa saat ini Garena sedang memanggilnya. Rey yang berada tepat disampingnya menatapnya seraya tersenyum, sambil mengacungkan jempolnya sebagai pertanda untuknya agar melakukan yang terbaik.


"Aku berangkat, Rey!"


"Semoga berhasil, Dion!"


Syuthhhhhh


Dalam sekejap Dion menghilang, tubuhnya kini beralih ke dalam Garena. Dari dalam portal Rey memperhatikannya, Dion akan melawan Elvas disana. Sekalipun sudah enam orang tumbang olehnya, namun dirinya masih mampu bertahan. Rey sama sekali tak menemukan raut wajah lelah itu terpampang disana.


Apakah ia menggunakan Brolavor atau semacamnya, mengapa mananya sama sekali tak terkuras. Ini aneh sekali menurut Rey, sungguh.



"Dion ya?"


Elvas sedikit meregangkan otot-ototnya mengingat sudah banyak manusia yang baru saja ia hajar. Beberapa diantara mereka dibuat pingsan olehnya, beberapa lagi dibuat menahan sakit atas darah yang mengucur dari kepalanya.


"Aku tidak bisa bertoleransi disini, jadi kuharap kau memaafkanku ya!"


Ujar Elvas padanya, Dion hanya tersenyum menanggapi itu.


"Sepertinya kekuatanmu membuatmu sombong sekarang, Senior?"


Sretttttt


Wushhhh


Elvas melepas jubahnya, jubah simbol divisi Fortressia. Jubah berwarna hijau itu jatuh begitu saja ke bawah.


"Lepas jubahmu, apa kau ingin mengotori jubah putih muliamu itu?"


Mendengar itu Dion mengeratkan genggamannya pada pedangnya. Si bodoh ini apa maksudnya, dia sendiri melempar jubahnya ke tanah yang kotor. Mengapa ia peduli pada kebersihan jubah miliknya.


"Mari kita mulai!"


[Sistem Lima menit, mulai]


Suara dari atas langit itu memberi isyarat pada keduanya untuk menyerang.



Sretttttt


Crashhhhhhhh


Bagaikan tiupan angin diiringi dengan kilatan cahaya, keduanya sama-sama melesat maju mempertemukan pedang mereka satu sama lain. Pedang-pedang itu bergesekan memercikan energi sihir mereka. Energi itu seakan berlomba-lomba ingin menjadi dominan.


"Ini diluar ekspetasiku! Mengapa sihir Abjad E sekuat ini? Bukankah mana milik mereka adalah yang terlemah."


Dion berucap dalam hatinya, mencoba menerka-nerka darimana asal kekuatan sebesar itu datang. Lantas mengapa mana milik manusia dihadapannya ini tak kunjung habis, mengingat sudah ada enam orang tumbang karenanya.


Cetasssss


Mereka berdua terpental satu sama lain, Dion merasakan mananya mulai terkuras drastis disana.


"Jika kau terus berpikir, mungkin kau akan lebih cepat kalah!"

__ADS_1


Elvas tersenyum ke arahnya, tangan kirinya kembali melakukan itu. Sentuhan cahaya dari telunjuknya diudara, lagi-lagi sentuhan itu mengundang sulur-sulur cahaya datang. Sulur-sulur itu mulai berlomba-lomba menyerang Dion sekarang. Dirinya yang masih melayang mencoba menghindari itu.



"Autrom!"


Crashhhhhhhh


Petir-petir dari langit itu menyambar-nyambar berlomba-lomba turun ke arah Dion.


"Accow Axlinow!"


Dion memusatkan petir-petirnya diantara tangannya membentuk beberapa sekat listrik didepannya. Sekat berbentuk persegi itu melindungi tubuhnya. Sulur-sulur penyerang itu tak mampu mengenainya, dari bawah kakinya ia juga sama memunculkan sekat itu.


Elvas tersenyum melihat itu, Rey yang berada dalam ruangan pun ikut tersenyum.


"Bagus, tapi bagaimana jika begini?"


Crashhhhhhhh


Pranggggggg


Sekat itu hancur seketika ketika pedang milik Elvas berada tepat dibelakang Dion. Pedang itu menyerang dari belakang, serangan itu persis seperti milik Dion, itu sama seperti aliran sihirnya, tapi bagaimana mungkin. Tapi bagaimana bisa, Elvas adalah pemegang abjad sihir E seharusnya ia tak mampu mengeluarkan hal semacam itu.



Settttttt


Setttttt


Setttttt


Tubuh, tangan dan kaki Dion terlilit sulur itu. Pedang milik Elvas seketika menghilang, Elvas mendekati Dion sekarang. Sambil tersenyum Elvas menatapnya dalam.


"Sekarang pertanyaannya hanya satu, kau akan menyerah, atau melanjutkannya?"


Sembari pertanyaan itu terlontar untuk Dion, sulur-sulur milik Elvas semakin mencengkramnya. Sulur-sulur itu kuat sekali rasanya Dion hampir mati dibuatnya.


"Aku tidak akan menyerah!"


"Baiklah!"


Brakkkkkkk


Elvas menggerakan sulurnya kebawah menghempaskan tubuh Dion seketika.


"Arghhhhhhh!"


Teriakan itu diiringi dengan muntahan darah dari dalam mulutnya. Terus menerus Dion diseret kesana kemari dengan sulur itu. Rey mengepalkan tangannya melihat itu, bagaimana manusia sialan itu tega memperlakukan Dion semacam itu. Mengapa Dion tidak menyerah saja, bukankah ia tau bahwa dirinya sudah kalah.


"Menyerahlah! Kau akan mati jika tidak menyerah bodoh!"


Geram Rey berdiri sembari matanya menatap tajam ke arah portal itu. Amarah meliputi dirinya saat ini, bahkan ketika Dion memuntahkan darah dari dalam mulutnya. Elvas, biadab ini sama sekali tak berhenti. Apakah dia manusia ataukah iblis.



Dari atas podium penonton Riley dibuat memekik menyaksikan apa yang terjadi disana. Ada banyak pertanyaan muncul dari dalam kepalanya saat ini, Riley melirik ke arah Debora yang masih fokus melihat kejadian didalam portal. Rekannya itu sejak tadi hanya menatap tanpa berucap apapun.


"Debo!"


Sapaan dari Riley itu membuat Debora mengalihkan netranya.


"Apa?"

__ADS_1


"Mengapa sihir Abjad E bisa sekuat itu? Bukankah seharusnya kapasitas mana mereka adalah yang paling rendah."


Debora tersenyum disini, ia tau apa yang terjadi didalam portal itu. Ia paham apa yang Musketeers tingkat empat itu lakukan, mengenai pertanyaan, mengapa mana mereka tidak habis? Itu adalah jawaban yang mudah untuknya.


"Kau tau, dia bahkan tak menggunakan mananya disini. Penyihir itu, sedaritadi hanya mengambil keuntungan dari lawannya."


"Maksudnya?"


"Ini permainan domain, domain milik kita memiliki satu ruangan, letaknya ada dalam tubuh kita."


Baik Riley juga kedua rekannya kali ini menatap serius ke arah Debora, mereka benar-benar memperhatikan tentang apa yang sedang Debora jelaskan saat ini.



"Kita tau bukan, bahwa domain kita menyimpan mana kita. Selain itu disana kita juga bisa menyimpan apa saja. Sebenarnya, senjata pun juga memiliki domain. Musketeers itu, menyatukan kekuatan dirinya dan pedang miliknya dalam domainnya sendiri. Sedangkan domain pedang, dibiarkan kosong. Itulah mengapa ia mampu menggunakan sihir milik Dion, karena ketika pedang mereka bertabrakan, secara tak langsung, pedang milik Musketeers itu menyerap kekuatan pedang Dion."


"Tapi bagaimana bisa? Mengapa pedang itu tak hancur?"


"Lapu-lapu bilang, pedang yang ditempanya tidak akan pernah hancur bukan? Pedang itu akan menghilang dengan sendirinya ketika, tugas mereka dibumi selesai, atau ketika, kita mati. Apa kalian ingat? Pelajaran sejarah sihir?"


Justice menatap malas ke arah Debora, pelajaran sejarah sihir adalah hal yang paling ia benci.


Mikhail juga tipe pemikir disini, ia mulai tertarik kali ini dengan pembahasan itu. Sepertinya ia pernah membaca bab itu dalam pelajaran sejarah sihir.


"Pedang yang menyimpan abjad sihir lain pemakainya, hanya bisa menampung itu dalam kurun waktu satu menit. Jika sihir didalamnya tidak dilempar, maka sihir itu akan hilang."


Kali ini Mikhail mencoba memaparkan pemikirannya, hal itu dibalas anggukan oleh Debora.



"Benar, sekali! Jika kalian ingin mengalahkannya maka, jangan aliri pedang kalian dengan sihir. Atau, coba lawan dia secara fisik, jika dirinya terlalu banyak mengendalikan sulur untuk menghindari serangan kalian, bisa dipastikan dalam waktu dua menit, Musketeers itu akan kehilangan mana-nya."


"Brilian! Pemikiran yang menakjubkan Debora!"


Mereka terkejut mendengar suara dari balik tubuh mereka. Suara itu milik Axcel rupanya.


"Paman Axcel?"


Pekik Riley, Axcel duduk sambil melayang kali ini. Netranya memperhatikan portal itu sambil tersenyum.


"Rey berotak dangkal, apakah kalian pikir dia bisa menganalisa segalanya semacam itu?"


"Bocah, kau jangan menghina Rey kami!"


Justice yang sejak tadi diam itu berucap juga akhirnya.


"Hahahaha... Aku hanya bercanda, lebih baik kalian lihat saja, sebentar lagi giliran Rey bukan?"


Ujar Axcel, ucapan itu membuat mereka kembali fokus ke arah portal. Mereka semua sama-sama tak sabar, untuk menyaksikan petarung selanjutnya.


...Manusia itu sama dengan pedang! Kalau tak diasah maka dia akan tumpul...



_________


Ensiklopedia :


Atmosfer itu berasal dari bahasa Yunani yakni “Atmos“ yang berarti “uap air atau gas” serta “Sphaira“ yang berartikan “selimut”. Jadi Atmosfer tersebut dapat diartikan ialah sebagi lapisan gas yang menyelimuti suatu planet.


Di Bumi, atmosfer tersebut terdapat dari ketinggian 0 km dari permukaan tanah, sampai dengan sekitar 560 km dari atas permukaan pada bumi. Atmosfer berfungsi mengatur proses penerimaan panas sinar matahari.


Atmosfer melakukannya dengan menyerap dan memantulkan panas yang dipancarkan oleh matahari. Sekitar 34% panas matahari kembali di pantulkan ke angkasa oleh atmosfer, awan, dan juga permukaan bumi. Kemudian sekitar 19% diserap oleh atmosfer dan awan, selanjutnya sekitar 47% sisanya mencapai permukaan bumi.

__ADS_1



__ADS_2