Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Mencari Keberadaan Arlert Bersaudara


__ADS_3

Ini sangat gelap susah baginya melihat area yang seluas ini. Sesekali bahkan Debora menyipitkan kedua matanya mencoba memfokuskan pandangannya.


Rupanya tentakel ini mengukung seluruh area silver Alaska. Rasanya Iya seperti sedang di dalam kandang sebuah kandang besar sebuah penjara besar yang begitu mencekam sekali auranya.


Sejenak dia marah menatap ke arah langit, langit itu masih sama mendung. Tak ada satupun benda langit tertera di sana ataupun bertabur di sana seperti halnya bintang.


Dalam kepalanya Ia berpikir sesuatu. Debora mencoba menerka-nerka kira-kira, di manakah keberadaan Rey beserta dengan adiknya.


Debora merasa bahkan ketika mereka masuk ke dalam sini itu tidak ada sekitar 1 jam. Namun nyatanya jejak keduanya sama sekali tidak ditemukan olehnya.


"Kau di mana Rey?" lirih Debora sambil menatap ke depan mencoba mencari-cari barangkali di sana ada sesuatu yang ditemukannya.


Tak Ada Jawaban yang bisa dia temukan tak ada apapun yang ia temukan area ini luas. Pada akhirnya Debora memutuskan untuk mencarinya sendiri ia akan berkeliling silver Alaska.


Sihirnya membawanya terbang mengembara di atas Silver Alaska beberapa pasang mata iblis mulai melihat ke atas menemukan dirinya seorang diri, terbang di sana.


Tatapan benci mereka kepada Debora jelas tersirat di dalam wajahnya. Perut perut mereka mulai lapar mereka ingin segera melahap. Satu Manusia yang sedang terbang di atas sana. Gemertak gigi mereka taring-tarinya saling beradu rasanya, mereka ingin segera melahapnya.


Rombongan iblis-iblis rendahan mulai berterbangan ke atas menghampiri Debora. Suara kebencian itu jelas membuat Debora melihat ke bawah. Betapa dibuat jantungannya dia.


"Sial, sekali rasanya berhadapan dengan beberapa makhluk ini. Tapi apabila aku tidak melawannya maka mungkin aku akan mati di sini!" ujar Debora sambil menatap ke bawah.


Debora mengeratkan genggamannya pada senjatanya. Jelas sekali sihir di dalamnya menguat. Tanpa banyak berkata-kata Debora pun terbang menukik ke bawah sambil menghunuskan pedangnya ia pun melawan para iblis itu.


Bunyinya terdengar jelas mengalun ke dalam rungu Rey beserta dengan Syena. Suara pertempuran di dalam Silver Alaska, membuat mereka terhenti.


Lantas keduanya saling tatap satu sama lain. Keduanya mencoba menerka perihal pedang siapakah yang sedang beradu di dalam benteng iblis ini. Yang mereka tau adalah, hanya mereka saja yang terjebak di dalam sini.


Degggggg


"Ughhh..." pekik keduanya meringis kesakitan. Jantung mereka serasa ditohok begitu saja oleh sesuatu. Namun itu hanya berlaku sekilas.


"Debora..." lirih Rey sambil memegangi dadanya.


Nama itu yang ia sebut. Pikirannya dalam sekejap dipenuhi oleh Debora.


"Apa itu tadi?" tanya Syena tak percaya keduanya mengalami hal yang sama bersamaan.


Clashhhhhh


"Aku tidak begitu tau apa itu? Tetapi Syena, firasatku mengatakan kita harus ke sana!" ujar Rey.

__ADS_1


Pedang emasnya mulai di perkuat. Aliran sihirnya mulai menjalari pedangnya. Pedang emas ini bisa berubah menjadi dua hal, cincin Elden ring juga sebuah pedang emas.


"Ayo Syena!" ajak Rey kepada adiknya.


Degggggg


Lagi, hal itu terjadi lagi padanya. Aura besar ini tidak lagi mengarah kepada mereka, namun justru aura besar ini tertuju mengarah ke arah tempat Debora.


"Ayo kak!" teriak Syena meraih pergelangan Rey lalu melesat cepat dengan sihirnya mencoba mengejar aura kuat yang sejak tadi mengejar mereka.


Sejak tadi mereka berusaha menghindarinya. Namun saat ini setelah rasa sakit dalam jantung mereka, ada perasaan dimana mereka harus menghampiri suara serangan itu.


Clashhhhh


"Ughhh!!!" pekik Debora ia terhempas ke belakang. Tubuhnya menabrak sebuah pohon besar.


Pemegang sihir Abjad E bukanlah seorang petarung. Jika terlibat dalam sebuah pertarungan, mereka akan cepat lelah. Itulah mengapa mereka di karunia kecerdasan hebat. Sebuah pemikiran luar biasa.


Saat ini Debora merasa lemah rasanya. Belum lagi kemampuan pemikirnya ia bagi dengan seluruh rekannya. Jubah putih miliknya lusuh kotor di penuhi tanah.


"Uhukkk.." Debora terbatuk, dengan kedua tangannya ia menutup mulutnya.


Beberapa iblis rendahan mulai mendatanginya dengan rasa lapar. Mereka meraung-raung mendekat ke arah Debora.


"Hahahaha... matilah kau!"


teriak salah satu iblis menggila berlari ke arahnya sambil menghunuskan cakarnya. Refleks Debora mengarahkan kedua tangannya ke depan.


Clashhhhhhh


"Aaaaaaaaaaaa!!!"


iblis itu berteriak kesakitan ketika sebuah sekat besar turun menimpanya. Melihat itu sontak saja Debora membulatkan kedua matanya tak percaya.


"Hah!" lirih Debora sambil menatap ke bawah ke arah Iblis yang berusaha berontak dari sekat itu.


"Debora!!!" teriak Rey yang baru saja tiba bersama Syena.


"Rey!" teriak Debora menatapnya sebentar lalu kembali menatap ke depan ke arah Iblis-iblis yang masih ingin memangsanya.


"Sial kalian! Menjauh darinya!!!" teriak Rey ia pun terbang menukik ke bawah menghampiri gadisnya yang berusaha menahan serangan.

__ADS_1


Crashhhhhh


"Huh!" pekik Rey matanya membulat melihat apa yang sedang menghalaunya untuk menghampiri Debora.


"Kita bertemu lagi, Arlert!" ujarnya, kebencian mulai membara dalam diri Rey.


Kekuatan pedang yang ia tingkatkan membuat keduanya sama-sama terhempas ke belakang. Itu adalah Barsh.


Barsh berseringai menatap tepat ke arah Rey. Rey sungguh tidak percaya akan berada dalam momen ini. Sejenak ia menatap ke arah Syena, adiknya itu perlahan menoleh.


Syena menarik sudut bibirnya kedua matanya mulai memerah disana. Sedangkan Barsh ia hanya tersenyum sambil menatap ke arah Rey yang masih terpaku melihat Syena.


Adiknya tidak bergerak disana, namun Rey melihat itu. Syena menangis, Rey mulai paham sekarang. Sejak tadi adiknya berusaha menghindari iblis sialan yang berada di di hadapannya ini.


"Pergilah kakak!!!" teriak Syena sebelum sihir kutukan menguasainya sepenuhnya.


"Kubilang apa padamu, hah? Kau, pasti akan kalah Syena!" ucap iblis kutukan lagi dari dalam diri Syena.


"Sial! Mengapa harus sekarang tubuhku diambil alih olehnya! Tuhan, kumohon selamatkanlah keduanya!" pinta Syena sambil mengadah ke atas langit.


"Persiapan selesai..." lirih Barsh sambil masih menatap ke arah Rey yang masih terpaku.


Perlahan namun pasti Rey kembali menatap tajam ke arah Barsh disana. Debora yang sedang bertahan itu merasa kalut rasanya. Syena, sudah diambil alih oleh Barsh.


"Situasi sulit macam apa ini! Jika aku menggunakan kemampuanku pada Rey mungkin aku bisa fokus membaca serangannya lalu memikirkan rencananya. Tapi tubuhku, dan ini, kemampuan apa yang baru saja kukeluarkan ini? Bukankah ini kemampuan milik sihir abjad A, sihir pertahanan tameng milik Rey dan Syena? Lalu, mengapa aku bisa menggunakannya?" lirih Debora.


Netranya memperhatikan kedua tangannya yang masih bertahan dengan sihir tamengnya. Kemudian ia memiliki satu ide gila dalam kepalanya.


Di luar, apa yang Debora pikirkan tergambar jelas dan dilihat langsung oleh para rekannya. Sungguh mereka benar-benar frustasi rasanya.


"Maafkan aku, tetapi di dalam terlalu genting situasinya! Jika tidak kulakukan maka Rey akan mati disini! Dia sembrono, bertindak terburu-buru ketika emosi. Sifat-sifat itu harus aku redam sebisa mungkin, aku akan memindah kesadaranku pada Rey. Lalu meminjamkan seluruh kekuatanku padanya!"


ucap Debora mengatakan hal itu kepada para rekannya. Setelah itu Debora kembali menatap ke atas dengan sisa mana miliknya yang hanya tinggal sedikit, ia mengeluarkan sulurnya menarik Rey masuk ke dalam tameng pertahanannya.


Tepat ketika Rey berada di hadapannya Debora menangkup kepalanya. Lalu mendekatkannya ke arahnya, sebelum ia melakukan ini ia berbisik kecil pada Rey.


"Tidak peduli seberapa frustasinya kau karena kehilangan sesuatu, satu-satunya pilihan yang ada adalah terus hidup dan berjalan! Bukan hanya semangat, gunakan juga kepalamu. Berfikir, berfikir, berfikir! Melalui pertahanan ini aku akan bertahan, maka lawanlah iblis itu dan bawa Syena kembali pada kita!"


lirih Debora pelan kepada Rey yang ada di hadapannya. Kemudian ia menarik kepala itu lebih dekat ke arahnya, ketika kening mereka bersatu satu sama lain. Debora pun kehilangan kesadarannya.


Rey menyandarkan tubuh Debora di pohon besar. Setetes air mata turun dari kelopak matanya. Ketika hatinya sudah cukup mantap ia pun berdiri. Rey menatap tajam ke atas. Dimana disana Syena beserta Barsh sudah menantinya untuk bertarung.

__ADS_1


__ADS_2