
Clashhhh
Clashhhh
Bak kilatan petir salah satu iblis generasi berlarian di atas hutan silver Alaska. Ia berlari di atasnya, telapak kakinya membakar seluruh belantara yang ia lewati. Hal itu membuat beberapa iblis rendahan di bawah sana berlarian keluar mencoba menghindar dari kegilaan seorang petinggi.
"Petinggi sudah kehabisan akal sepertinya?" ujar salah seorang iblis rendahan sambil berlari.
Walaupun mereka mampu beregenerasi tetapi mereka masih mampu merasakan sakit. Ini sudah dah cukup lama bagi para petinggi, menyimpan dendam kesumat mereka kepada Rey.
Rey lah yang menghabisi segala saudaranya. Rey yang menghabisi Tuan tercinta mereka, Iblis seratus juta jiwa. Tentu saja, kegilaan ini datang bukan karena alasan. Salah satu iblis yang emosinya rawan tersulut adalah Rauw.
Dari arah kastil Barsh melesat ke arah Rauw. Ia terbang di atas langit sambil memandanginya dahulu, sebelum mendekat. Rupanya, saudaranya itu benar-benar sudah tidak waras.
Clashhhh
Greppp
"Hei, lepaskan aku!!!" teriak Rauw ketika Barsh mencengkram lehernya membawanya terbang ke atas lalu berhebti tepat di udara.
Dalam kesakitan itu Rauw melemparkan tatapan tajamnya. Begitu pula dengan Barsh, keduanya sama-sama mencoba mendominasi di sini.
"Kau gila ya?" tanya Barsh kepadanya.
Namun Rauw di sana hanya berseringai. Ia tak takut kepada Barsh ataupun amarahnya. Ia hanya tak habis pikir, mengapa Tuan mereka sama sekali tidak melakukan perlawanan.
"Kalian yang gila! Mengapa tidak ada perlawanan sama sekali? Padahal waktu itu kita hampir mampu merebut pedang itu dari tubuhnya. Tapi kau, betapa pengecutnya dirimu melarikan diri hah?" tanya Rauw dipenuhi emosi.
Cengkraman Barsh kepada Rauw seketika meregang. Ia benar-benar tak habis pikir, akan di pojokan dengan kenyataan itu.
__ADS_1
"Aku benar bukan, Barsh? Jawab aku, bukankah kau tangan kanan kesayangan Tuan? Lantas katakan padaku, apa rencananya?" tanya Rauw lagi.
Barsh menjauh dari Rauw, kemudian ia menghela nafas panjang. Astaga, menjadi iblis kesayangan Tuannya memang sangat rumit. Ia harus meladeni saudaranya yang lain seperti ini.
Barsh menepuk bahu Rauw. Kemudian di sana ia memperlihatkan sesuatu. Sebuah diskusi antara dirinya dan Tuannya. Sebuah pinta dari Tuannya, yang akan mereka jalankan dalam waktu dekat ini.
Lagi pula, mereka juga sudah tidak sabar memangsa para manusia di dalam Rensuar. Mereka benar-benar merindukan cita rasa daging manusia di luar sana. Kekuatan mereka akan bertambah pesat apabila memakan para manusia.
Ketika Rauw selesai melihatnya ia pun tersenyum ke arah Barsh. Di sana Barsh juga tersenyum kepadanya. Adalah rencana yang luar biasa. Sebuah pertaruhan luar biasa juga besar.
"Hahahaha... aku senang melihat cara Tuan, memilih bagaimana mengeksekusi Arlert di sini! Akulah yang akan memenggal kepala Rey Arlert nanti dalam perang besar itu!"' ujar Rauw tertawa mendongak menatap ke arah langit di atasnya.
Langit itu masih hitam, cahaya tak mampu masuk kepada kegelapan kelam yang mengusung area itu.
"Manusia benar-benar akan musnah! Dan kita akan berkuasa hahaha..." ujar Rauw lagi, kemudian ia kembali melompat ke arah lain meninggalkan Barsh sendiri di sana.
Melihat itu, Barsh pun pergi ke arah benteng. Hanya butuh waktu beberapa menit untuk sampai ke sana. Di atas sana, dengan kedu netranya ia menatap area itu. Area yang semakin luas merampas Silver Alaska.
Kembali Barsh mengepalkan kedua tangannya. Apabila ia mengingat itu, ia pun juga merasa gagal. Hampir, sungguh jika Debora saat itu tidak mengamuk, maka Barsh pasti sudah berhasil kali ini.
"Rey, lihat saja! Mengenai gadis putih itu aka ku lenyapkan juga nanti! Sebabnya aku, kalah dalam pertarungan itu! Kau yang menghambat kemenangan kami, akan kuberikan kematian tragis bahkan sangat menyakitkan." ujar Barsh kepada Rey jauh di dalam Rensuar.
Sepertinya angin membawa pesan itu tepat kepada Rey yang saat ini berlatih di halaman markasnya. Perasaan mengancam itu sejenak membuatnya terhenti, Debora yang duduk di atas tumpukan jerami agak jauh darinya memperhatikan itu.
"Apa ini, mengapa mendadak aku khawatir begini?" lirih Rey sambil memegangi dadanya.
Kemudian netranya beralih ke arah Debora yang duduk sambil memandanginya. Debora di sana tersenyum kepadanya, melihat itu tentu saja Rey juga membalasnya namun hanya sebuah senyuman tipis.
"Kucing putih, padahal kau di sini bersamaku. Namun entah mengapa rasanya seperti ada sesuatu yang sedang mengincarmu? Sesuatu itu gelap, sesuatu itu tragis! Aku berjanji kucing putih, tidak akan kubiarkan satu jari iblis manapun menyentuhmu lagi! Tidak akan!" ujar Rey lirih.
__ADS_1
Kemudian ia kembali menumpas habis target latihan simulasi di hadapannya. Menjatuhkannya meratakannya, begitu luar biasanya kekuatannya semakin hari semakin menguat.
Rey tida sendiri di sana, ada Justice juga menemaninya latihan. Menikmati latihan bersama Rey adalah hal yang menyenangkan bagi Justice. Sebab Rey, dia adalah rival untuknya.
"Lelah juga ya?" ujar Justice sambil mengusap peluh yang mengucur membasahi keningnya.
"Ya, mau bagaimana lagi? Kurasa ini sudah sekitar tiga jam lamanya kita berdiri dan mengayunkan pedang." ujar Rey kepadanya.
"Istirahatlah dulu, ayo!" ujar Riley yang baru saja datang dari dalam markas.
Riley membawakan beberapa camilan juga minuman di atas nampannya. Ia berjalan menghampiri Justice beserta dengan Rey di sana. Melihat itu Rey dan Justice pun tersenyum, pedang mereka kembalikan ke dalam Domain. Lalu mereka berlari kecil menghampiri Riley di sana. Tangan-tangan itu mulai mencomot camilan, juga segelas minuman.
Mereka duduk di atas jerami sambil menikmati jamuan sederhana itu. Sambil menatap langit Debora berkata,
"Sepertinya dia hari lagi Noella akan mengadakan rapat besar!" ujar Debora sambil masih menatap langit.
Rey menoleh kecil ke arah Debora di sampingnya.
"Rapat?" tanya Rey kepadanya. Hal itu membuat Debora mengangguk.
"Sebuah rapat akhir, dari perjuangan kita! Dan katanya, ini akan menjadi salah satu babak finalnya! Jadi, kuharap kalian bisa mempersiapkan diri ya!" ujar Debora kepada seluruh rekannya.
Mereka bertiga terkejut mendengar itu, terlebih lagi Rey. Ia tak terima jujur saja, jika sebelumnya ia begitu haus peperangan. Namun saat ini tidak, sebab, Deboranya baru saja bangun. Rey takut jika melihat Debora kembali dalam keadaan tak berdaya lagi.
"Kenapa mendadak sekali Debora?" tanya Rey kepadanya. Hal itu membuat Debora menoleh, ia tersenyum kemudian.
"Lebih cepat lebih baik bukan? Kita harus segera menyelesaikan ini, Arlert! Manusia non sihir, mereka semua lelah hidup dalam kukungan setan ini. Maka hanya kitalah yang mampu membebaskan mereka dengan kekuatan kita! Lakukan yang terbaik ya, aku harap kalian selamat!" ujar Debora.
Kalimat terakhir itu di ucapkan begitu lirih, Debora mengucapkan itu sambil mengalihkan netranya tepat ke arah langit. Mendoakan itu sambil menghadap ke arah Rey adalah pantangan buatnya. Air matanya bisa tumpah jika berlama-lama menghadapnya.
__ADS_1
Mimpi itu kembali mengingatkan Debora, bahwasannya hasil akhir dari pertempuran besar yang akan terjadi, nantinya ada di tangannya. Apakah ia sanggup melakukan itu atau tidak, itu tergantung kepadanya.
Sanggup atau tidaknya Debora, ia harus melakukannya! Rey adalah kehidupannya, namun dia juga adalah kunci bebas dunia!