Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Sebelum Menjalankan Misi


__ADS_3


Matahari yang perkasa mulai menampakkan diri. Saat ini Justice sedang di hebohkan dengan hilangnya Rey. Dan Riley ia sedang di hebohkan dengan hilangnya Syena.


Semalam Rey ada disini di markas bersama dengan mereka. Namun Syena sejak semalam belum pulang. Sebab ketika Riley mengajaknya pulang, Syena mengatakan akan pulang sendiri bersama Aum.


"Kau ini bagaimana, kenapa mereka berdua bisa hilang seperti ini?" Ujar Mikhail.


Hatinya kalut rasanya mendengar Syena tidak ada di markas sejak tadi malam.


"Kau sendiri bagaimana hah? Kau yang terakhir kali mengajaknya bersamamu!" Ucap Riley sambil menunjuk-nunjuk Mikhail.


Debora yang baru saja bangun hanya memperhatikan keduanya. Dia yang baru saja menuruni anak tangga saat ini kembali ke atas.


Debora menuju ke lantai lima. Tempat dimana Rey akan senang sekali berada disini ketika sedang dalam masalah.


Dari atas sana ia menemukan sesuatu. Tumpukan jubah putih Rey yang kemarin tergeletak begitu saja di atas ayunan.


Debora mengambil itu logikanya mulai bekerja sekarang. Segera ia pun berjalan menuju ke arah lemari pakaian.


Lemari pakaian lantai lima adalah tempat untuk meletakkan seragam mereka. Disana ia melihat jubah putih milik Rey juga berkurang satu.


Sepertinya semalam Rey pergi ke suatu tempat entah dimana itu. Tak ada masalah sepertinya, asumsi Debora mengatakan mungkin Rey sedang mencari Syena.


Atau mungkin ia sedang berada di kastil putih sekarang menemui Axcel. Sebab Rey adalah pemuda yang akan merenungi apa yang tidak mampu ia jaga.


Kehilangan orang yang paling dekat adalah kelemahannya. Debora memaklumi itu.


Ketika ia akan pergi kembali ke bawah. Suara teriakan di halaman markas membuatnya terkejut.


Debora berjalan ke arah Balkon. Rupanya dibawah Rey dan Syena baru saja pulang. Entah darimana mereka berdua.


Namun melihat wajah keduanya yang sumringah sepertinya tidak ada hal buruk terjadi. Debora meletakkan kembali jubah itu lalu berjalan menuruni anak tangga.



"Aku pulang!" Ucap Rey sambil membuka pintu.


Ketika pintu itu terbuka ia di sambut dengan ketiga rekannya yang melipat tangan di dada sambil menatapnya tajam.


"Kalian kenapa?" Tanya Rey pada seluruh rekannya.


"Kau! Kau membuat kami jantungan! Kau pikir dengan kau pergi tanpa pamit adalah tindakan benar?"

__ADS_1


Riley mulai murka, ia meluapkan seluruh kekesalannya sambil berjalan mendekati Rey.


Syena disamping Rey bergidik ngeri melihat itu. Itu adalah emosi yang jarang sekali Riley tunjukkan.


"Maafkan aku Riley, semalam aku lapar! Jadi aku keluar untuk membeli makanan di kota. Saat aku keluar aku berpas-pasan dengan Syena. Jadilah aku mengajaknya!" Jelas Rey padanya sambil mengangkat kedua tangannya seperti seorang penjahat yang menyerah.


Mikhail memperhatikan Syena di samping Rey. Ia mendekatinya lalu menepuk bahunya.


"Kau sudah makan pagi ini Syena?" Tanya Mikhail padanya.


"Belum!" Jawab Syena menggeleng pelan.


Justice tersenyum miring menyaksikan itu. Akibatnya ia menirukan apa yang Mikhail lakukan.


Justice berjalan mendekati Rey lalu menepuk bahunya. Sambil tersenyum ia mengatakan pada Rey.


"Kau sudah makan pagi ini, Istri ku?" Tanya Justice dengan nada jahilnya.


Sontak hal itu membuat Mikhail memicingkan kedua matanya ke arah Justice.


Melihat itu Rey tak tinggal diam. Ia pun juga jadi ikut terpancing rasanya.


"Belum sayang, perutku lapar! Tolong buatkan aku sarapan!" Ucap Rey sambil merangkul Justice.


Mereka berdua pun berjalan ke arah meja makan meninggalkan Riley juga beberapa rekannya disana.


"Baiklah hari ini waktunya aku yang memasak! Kalian mandi lah!" Ucap Mikhail ia pun berjalan ke dapur.


Riley mengangguk ia pun meraih pergelangan tangan Syena.


"Bersihkan dirimu, adik!" Ucap Riley pada Syena.


Syena mengangguk ia pun berjalan ke arah kamar mereka.


Ketika menaiki anak tangga Syena jelas berpas-pasan dengan Debora yang masih berdiri disana.


Debora hanya membelai lembut puncak kepala Syena lalu turun. Pagi ini ia memilih mandi di lantai bawah saja.


"Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya!" Lirih Syena sambil menatap punggung Debora yang mulai menjauh.


Aktivitas di dalam markas berjalan seperti biasa. Mikhail yang sibuk dengan masakannya. Juga Riley, Justice dan Rey yang sudah ada di meja makan menunggu makanan Mikhail di sajikan.


Ketiganya sejak tadi mengobrol perihal Harith, Rensuar dan segala hal yang akan terjadi setelah ini.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu akhirnya masakan Mikhail pun matang. Dari anak tangga Syena turun dan dia begitu segar wajahnya. Cantik sekali gadis itu buat Mikhail sungguh.


Surai yang basah, wajah yang bersih sekalipun salah satu matanya enggan terbuka jika bukan karena kehendaknya. Namun tetap saja, Dimata Mikhail Syena tetap menawan.


"Uhukk..." Rey berpura-pura terbatuk ketika Mikhail memandangi adiknya.


"Cantik ya, bak bidadari turun dari langit!" Sindir Rey sedikit menggoda.


"Jika saja kau bukan calon kakak iparku, mungkin akan ku hantam spatula panas ini ke arahmu!" Omel Mikhail padanya.


Riley dan seluruh rekannya tertawa mendengar itu. Tibalah ketika Syena duduk disana. Debora juga terlihat cukup segar.


Hanya ada satu kursi kosong disana. Kursi itu letaknya tepat di samping Rey. Sekilas Rey menatap Debora yang duduk disampingnya lalu kembali menatap ke menu makanan mereka.


"Akan ada rapat besar untuk kita hadiri pagi ini jam delapan! Nona Noella memanggil kita!"


Ucapan Debora membuat seluruh rekannya mengangguk. Tak ada pertanyaan dalam hati mereka.


Sebab mereka sudah menerka, bahwa kehilangan Kaisar akan memunculkan rencana baru nantinya.


Rey menyantap makanannya begitupun dengan seluruh rekannya. Namun ada sesuatu yang cukup ganjal bagi Rey.


Sejak tadi Debora nya hanya diam saja. Itu adalah hal aneh menurutnya. Biasanya Debora akan bersuara sekalipun memang tak sering. Namun jika dekat dengan dirinya biasanya akan begitu.


Ketika Debora meletakkan tangan kirinya di pahanya sendiri. Rey sembari menyantap makanannya menggenggam tangan itu.


Tak lama ia melirik sekilas Debora nya. Namun gadis itu hanya diam seakan tidak merasakan genggaman tangan Rey.


"Kucing putih!" Lirih Rey padanya.


Panggilan itu sukses membuat Debora menoleh. Namun tetap diam, hanya menatap ke arah Rey.


Diam nya kali ini menyangkut apa yang ia lihat di mimpi semalam. Itu adalah hal yang sangat menyakitkan.


Debora membalas genggaman tangan itu lalu menggeleng dan tersenyum. Ia mencoba mengatakan pada Rey bahwa ia baik-baik saja dan Rey tak usah khawatir.


"Makanlah, aku tak apa!" Jawab Debora lembut lalu kembali makan.


Jawaban itu membuat Rey mengangguk. Ia pun kembali menyantap makanannya. Kedua tangan mereka masih terpaut satu sama lain.


Hanya Riley saja yang menyadari itu, namun ia tetap diam membiarkan Rey dan Debora seperti itu.


Hangat, tangan ini hangat sekali. Senang rasanya melihat Rey mampu memahami isi hatinya. Biarpun hanya seperti ini, namun ini cukup bagi Debora.

__ADS_1



___________


__ADS_2