Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Persiapan Untuk Berperang


__ADS_3

Seluruh pasukan Muskeeters berbaris rapi di halaman lapangan terbang. Di atas mereka terlihat para pemimpin pasukan, siapa lagi mereka jika bukan Rey beserta dengan seluruh rekannya.


Rey terbang di atas mereka tanpa bantuan Khufra. Sedangkan seluruh rekannya, mereka terbang menggunakan Khufra.


Seluruh pasukan ini berbaris sesuai dengan divisi mereka. Dari bawah sana mereka mulai memperhatikan para pemimpin mereka. Bisa dibilang, mereka yang berada di atas sana adalah jendral perang.


"Selamat pagi semuanya!" sapa Debora melalui sihir gema kepada seluruh Muskeeters di sana.


"Selamat pagi, Komandan!" jawab mereka serentak penuh dengan semangat.


"Cukup senang rasanya mendengar suara semangat juang kalian begitu tinggi. Beradanya kami di sini adalah untuk memberitahukan, perihal keputusan yang sudah dibuat oleh Nona Noella!" ujar Debora menjelaskan.


Para Muskeeters di bawah sana mulai berbisik-bisik kecil. Beritanya memang sudah menyebar, bahwa akan ada penyerangan terakhir setelah ini. Sebuah tahap penyelesaian.


"Hari berakhirnya penindasan akan segera tiba, dalam waktu dekat! Nona Noella memerintahkan kepada aku, kami, kita semua para Muskeeters untuk bertarung dalam pertempuran terakhir, apakah kalian sanggup memberikan juga mengerahkan seluruh kemampuan dan tubuh kalian di sini. Atas nama kebebasan, mari kita semua di sini berjuang sampai pada titik darah penghabisan!" ucap Debora mengucapkan hal itu dengan penuh emosi dan energi.


Terlihat dari atas sana wajah-wajah Muskeeters mulai tersulut api semangatnya perlahan. Rey tersenyum, Debora memang pandai sekali memainkan emosi orang lain.


Wibawanya keluar seketika ketika ia berdiri tepat di atas para Muskeeters. Kepemimpinannya selalu baik selama ini, dengan meminimalisir jumlah korban jatuh.


"Aku tidak bisa berjuang sendiri di sana nanti! Itulah mengapa aku membutuhkan kalian semua di sin, untuk mencapai kebebasan. Apakah selamanya, kalian ingin tinggal di dalam penjara ini? Hidup penuh ancaman, tiada kebebasan juga rasa aman terhadap manusia! Apakah kalian akan selamanya seperti ini? Tidak bukan, jadi kumohon pinjamkanlah kekuatan kalian di sini untuk mencapai kebebasan. Sebuah kemenangan, sebuah kemerdekaan, atas penindasan panjang yang sudah kita lalui. Mari, bumi hanguskan silver Alaska beserta dengan seluruh iblis di sana. Tunjukkan kepada mereka, bahwa manusia juga bisa mengalahkan mereka!" ucap Debora lagi.


Dari dalam domain, Debora mengeluarkan pedang miliknya. Lalu mengarahkannya ke arah langit, mengangkatnya sambil berteriak.


"Untuk kebebasan dan kemenangan!!!" teriaknya, hal itu disambut hangat oleh para Muskeeters di bawah sana.


Teriakan mereka mulai ramai menyambut ucapan Debora satu sama lain. Salah seorang dari mereka satu persatu mulai mengarahkan sihir mereka ke arah langit-langit. Menciptakan kembang api indah di sana.


"Siap komandan!!!" teriak mereka.

__ADS_1


Riley melipat kedua tangannya, kemudian ia mengarahkan Khufra miliknya ke arah Debora. Mereka terbang sejajar kali ini. Riley berseringai memperhatikan para pasukan yang sudah siap mengunjungi Medan tempur beberapa hari lagi.


"Kau hebat, sekarang dan dua hari ke depan kita akan sangat sibuk sepertinya!" ujar Riley.


Benar, apa yang Riley katakan. Setelah mental pasukan sudah didukung, setelah itu adalah latihan strategi tempur. Debora menghela nafas panjang setelah mendengar apa yang Riley katakan.


"Benar sekali ya, sepertinya memang kita tidak ditakdirkan beristirahat tenang jika masalahnya belum usai!" ujar Debora.


"Tentu saja bisa," ucap Rey mendekat ke arah Debora dan Riley.


"Setelah peperangan terakhir, kalian akan mendapatkan kebebasan. Istirahatlah setelah itu, sebab jika iblis seratus juta jiwa itu lebur. Maka dunia ini, pasti sudah aman. Kembalilah kepada dunia dan hidup kalian dulu!" ucap Rey lagi kepada mereka berdua.


Baik Debora dan Riley mereka menatap lekat ke arah Rey. Wajah itu tersenyum namun tidak memandang mereka. Wajah itu tatapannya hanya mengarah ke arah pasukan.


Riley dan Debora bertatapan sejenak kemudian mereka tersenyum. Lagi, netra mereka kembali menatap ke arah para Muskeeters yang masih bahagia di sana menyalahkan kembang api.


"Kalau begitu, mari cepat kita latihan kakak!" ujar Syena antusias.


Syena mengarahkan Khufranya ke hadapan Debora. Mereka bertatapan saat ini.


"Untuk pertempuran terakhir, kita harus semangat kakak! Aku dengar kakak Mikhail, juga menemukan ramuan baru untuk peperangan. Dia sudah bekerja cukup keras bersama dengan madam Geralda!" jelas Syena sambil melipat kedua tangannya. Netranya melirik ke arah Mikhail di sana.


"Ramuan apa itu?" tanya Justice kepada Syena.


"Sebuah ramuan yang katanya akan melebihi brolavor. Sebab, yang akan kita lawan iblis maka kualitas mana dan energi harus diutamakan. Sepertinya durasinya akan lebih lama nanti, tidak seperti Brolavor biasa." jelas Syena kepada mereka.


"Sepertinya kau sering mengajak Syena bersamamu ya akhir-akhir ini?" tanya Rey kepada Mikhail yang hanya diam memperhatikan Syena yang bicara.


Perkataan Rey membuat Mikhail tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Aku hanya meminta bantuannya saja!" jawab Mikhail apa adanya sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Pedofil itu sala tingkah..." Riley berbisik kecil kepada Debora.


Sontak saja lelucon itu membuat Debora terkekeh. Mikhail mengerutkan keningnya, ia tau ia sedang dibicarakan di sini.


"Kalian ini, selalu saja! Memang kenapa jika aku menyukai Syena di sini?" tanya Mikhail kepada keduanya.


Kalimat suka itu diucapkan dengan lantang. Hal itu membuat Syena tertegun, sedangkan Debora dan yang lain juga terkejut. Kemudian Rey tersenyum, ia terbang mendekati Mikhail kali ini.


"Kau sangat menyukai adikku ya rupanya?" tanya Rey kepada Mikhail, ia berbisik.


Mikhail masih menatap Syena di sana, yang juga menatapnya.


"Ya, tatapan asmara tidak mampu diputuskan!" sindir Justice sambil memperhatikan keduanya.


Rey terkekeh melihat itu, kemudian ia mendekatkan dirinya pada Mikhail. Di sela-sela lamunannya itu, Rey berbisik tepat di rungunya.


"Aku akan merestui kalian bersama! Tapi, berjanjilah jangan membuat Syena kecewa padamu. Seumur hidupku, aku tidak pernah memarahi ataupun membentaknya. Maka, jangan lakukan itu padanya! Jaga dia Mikhail, akan kuberikan Syena padamu, akan kupercayakan dia padamu. Jaga dia, jangan lepaskan! Jika saja kau mengecewakan kepercayaanku ini, maka aku akan membunuhmu!" bisik Rey di akhiri dengan ancaman.


Mikhail terkejut mendengar itu, namun tatapannya masih enggan lepas menatap Syena. Sedangkan Syena, memilih berbalik mencoba menghindari tatapan Mikhail.


"Tentu saja akan kujaga dia, kakak ipar baka!" jawab Mikhail kepada Rey.


Riley tertawa mendengar bahasa Jepang ejekan itu Mikhail lontarkan kepada Rey.


"Dia masih kecil, jadi rebut hatinya pelan-pelan!" tutur Justice kali ini ikut bicara.


"Ah, sudahlah! Mari kita latihan sekarang! Aku akan mendahului kalian!" ujar Syena mengerahkan Khufranya mendekat ke arah pasukannya.

__ADS_1


Debora tau, Syena malu setelah mendengar perkataan Mikhail tadi. Itulah mengapa ia lebih memilih menghindarinya, lalu terjun ke bawah menghampiri pasukannya.


Digiringnya pasukannya untuk mengikutinya. Syena pergi bersama pasukannya ke arah hutan. Hal itu pun di ikuti oleh Rey beserta rekannya yang lain. Pelatihan strategi alam segera dimulai.


__ADS_2