Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Perjalanan Tanpa Suara


__ADS_3

Siratan dari atas langit berupa ribuan bahkan jutaan air masih berlomba-lomba turun. Tidak ada pejalan kaki yang berjalan di bawah derasnya hujan. Hanya Rey dan Debora saja yang saat ini memilih masih berjalan menyusuri trotoar.


Rey masih menggenggam tangan kanan Debora. Kedua netranya sama sekali tidak menatap Debora. Dia hanya menatap ke depan, ke arah jalan. Sesekali Debora menggembungkan pipinya meniup-niup udara. Pertanda bahwa dia kedinginan saat ini.


"Rey, dingin!" lirih Debora.


Namun Rey tetap diam, tidak ada jawaban yang ia berikan atas apa yang Debora keluhkan. Debora melirik Rey sejenak, tatapan pemudanya kosong seperti sedang melakukan sesuatu.


"Rey!" rengek Debora padanya.


Mendengar itu Rey pun menoleh ke samping. Ditemukannya wajah itu menggigil.


"Kau kedinginan?" tanya Rey padanya lembut.


Debora mengangguk menjawab apa yang Rey tanyakan. Melihat itu Rey melepas jaket miliknya lalu memakaikannya pada Debora. Kemudian satu tarikan kecil membawa Debora semakin dekat padanya.


Rey melihat ada sebuah halte bus yang sepi. Segera dia dan Debora pun melipir ke sana. Bangku panjang itu hanya diduduki mereka.


Ketika Rey selesai melipat payungnya. Netranya kembali menatap ke arah Debora yang saat ini sedang menggosok-gosok kedua telapak tangannya.


Rey tak tega melihat itu. Rey mencoba menghentikan aktivitas Debora. Kemudian dia menatapnya lembut sekali membuat Debora terpaku saat itu juga ketika pandangan mereka bertemu.


Rey tersenyum lalu menggosokkan telapak tangannya sendiri satu sama lain. Setelah cukup menciptakan kehangatan di sana, Rey menempelkan telapak tangan hangat miliknya menangkup wajah Debora.


Debora terkejut namun dia tetap terpaku. Terhipnotis oleh senyuman Rey yang begitu manis untuknya.


"Apakah sudah hangat?" tanya Rey padanya.


Pertanyaan itu membuyarkan lamunannya seketika. Debora tertunduk lalu tersenyum. Tangan kanannya menyentuh tangan kekar Rey yang saat ini sedang menangkup wajahnya.


"Ini hangat, terima kasih ya!" jawab Debora sambil menatapnya.


Sekarang giliran Rey yang dibuat terpanah rasanya. Kecantikan gadis ini benar-benar tidak ada tara baginya.


Namun ada banyak pertanyaan dalam kepala Rey saat ini. Perihal Elvas, dia sama sekali tidak mengenalnya. Dan mengapa pemuda itu terlihat dekat dengan Debora.

__ADS_1


Rey mengalihkan pandangannya ke arah lain kemudian. Melepaskan kedua telapak tangannya dari Debora. Rey menunduk kembali memikirkan apa yang baru saja terjadi.


"Kenapa Rey?" tanya Debora sambil menatap Rey memperhatikannya.


Rey menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Lalu tersenyum tipis.


"Debora, siapa pemuda itu?" tanya Rey padanya.


Sebisa tersenyum mendengar itu. Debora memperhatikan raut wajah itu sejak tadi. Debora yakin, Rey saat ini cemburu pada Elvas.


"Dia pemuda yang dekat denganku!" jawab Debora dengan nada nakalnya.


Dia ingin membuat Rey lebih cemburu lagi rasanya. Debora ingin tau, reaksi semacam apa yang akan Rey berikan padanya.


"Dekat denganmu? Maksudnya apa?" tanya Rey sambil menatapnya kali ini.


"Iya, dia dekat denganku sebelum kau datang! Dia bilang dia menyukaiku, dia ingin menikahiku..."


"Tidak!" ucap Rey tegas memotong apa yang Debora katakan.


"Kenapa tidak?" tanya Debora sambil menaikkan salah satu alisnya.


"Aku tidak suka saja kau dekat dengan pemuda lain selain diriku!" jawab Rey berpaling ke arah lain ketika mengatakan itu.


"Kau cemburu?" tanya Debora padanya.


"Entahlah, sepertinya begitu! Aku menyayangimu, jadi jangan ada pemuda lain selain diriku di sampingmu. Camkan itu!" ucap Rey padanya.


Permintaan yang cukup berani dari Rey Arlert. Permintaan itu tidak membuat Debora takut, justru dia bahagia dengan sifat Rey yang seperti ini. Ini begitu Debora rindukan. Sifat posesif ini ada akhirnya muncul. Permintaan itu adalah salah satu hal terindah yang Debora dengarkan.


"Terima kasih! Aku senang sekali mendengarnya, Rey!" ucap Debora padanya.


Rey hanya tersenyum lalu mengangguk. Sorot lampu mobil besar datang ke arah mereka. Itu adalah bus, Rey menghela nafas lega rasanya melihat bus datang.


Debora juga mengatakan pada Rey bahwa bus ini akan berhenti dan membawa mereka tepat di rumah. Rey menggenggam tangan Debora lalu menariknya masuk ke dalam.

__ADS_1


Mereka di sana duduk berdampingan. Debora yang duduk menghadap jendela dan Rey dia duduk di sampingnya.


"Kau sudah makan?" tanya Debora pada Rey.


Rey menggeleng pelan mendengar itu. Dia belum makan memang, tetapi dia sudah menyiapkan beberapa hidangan sebelum berangkat untuk mereka makan setelah pulang.


"Kenapa belum?" tanya Debora mulai khawatir.


"Aku menunggumu pulang, aku tidak akan makan jika kau belum makan." jawab Rey padanya.


Debora kembali dibuat tersenyum mendengar itu. Bahagia sekali rasanya mendengar segala ucapan manis dari Rey Arlert.


Debora mengapit lengan Rey lalu menyandarkan kepalanya di bahu Rey. Tak beberapa lama kemudian Debora pun tertidur.


Rey mengusap-usap pelan puncak kepala gadisnya itu. Memanjakan Debora agar tetap tertidur untuk beberapa waktu. Rey paham saat ini Debora pasti sangat kelelahan. Pekerjaan membuatnya letih sepertinya.


Beberapa menit berlalu pada akhirnya bus itu berhenti tepat di hadapan halte bus. Di belakang halte bus itu ada rumah mereka.


Debora masih tertidur di sana, Rey tidak tega membangunkannya. Segera ia gendong tubuh itu lalu keluar dari dalam bus.


Beruntungnya hujan sudah mulai reda. Itu cukup membuat Rey lega rasanya. Rey masuk ke dalam rumah itu. Sepi tak ada siapapun memang di sana. Hanya Rey dan Debora saja seorang.


Perlahan Rey berjalan menaiki anak tangga. Nafasnya sedikit ngos-ngosan rasanya, tetapi pada akhirnya ia pun sampai tepat di depan pintu kamar Debora.


Dengan hati-hati Rey mulai membukanya lalu masuk ke dalam. Tubuh itu dia baringkan di atas ranjang. Rey duduk di samping ranjang setelah meletakkan Debora.


"Cantik sekali kau, kucing putih! Pantas saja banyak lelaki yang datang berusaha merebut hatimu!" ujar Rey sambil masih menatap wajah Debora.


Tangannya mulai memainkan Surai milik gadis itu. Cukup lama bermain dengan wajah Debora. Rey pun memutuskan untuk ikut tidur juga.


"Sepertinya hidangan lezat yang ku masak tidak akan di makan! Lebih baik aku menyimpannya di lemari Es lebih dulu." ucap Rey.


Rey pergi dari kamar Debora. Dia menuju dapur. Menu makanan yang beberapa jam lalu ia buat masih tertata rapi di sana.


Rey pun membereskannya memasukkannya ke dalam wadah lalu menaruhnya masuk ke dalam lemari es.

__ADS_1


Setelah segalanya selesai. Barulah Rey memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Rey lelah, dia ingin istirahat sekarang.


__ADS_2