Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Sebelum Matahari Hilang #2


__ADS_3

...Aku ingin kau bahagia...


...Aku ingin kau selalu tertawa...


...Meski aku tak tahu apa yang dapat kulakukan untukmu, tapi aku akan selalu berada di sisimu...



__________


.


.


Pembicaraan semalam membuat Rey sangat bersemangat pagi ini. Keempat rekannya menatap heran ke arah Rey. Mereka sedang berada di meja makan saat ini, menyantap sarapan pagi seperti biasanya.


Pemuda ini, pagi ini lahap sekali sungguh. Sudah sekitar tiga piring makanan habis dilahapnya. Debora memahami kebahagiaan yang hinggap dalam hati Rey. Ia hanya memperhatikan itu sambil tersenyum tipis.


Debora yakin, sekalipun hati mereka gundah, tetapi tugas tetaplah tugas. Tugas didepan mata tidak bisa ditolak.


Jika kau menjadi seseorang yang terpilih, mengemban harapan dunia di atas punggungmu, mundur bukanlah tindakan yang benar.


"Rey, kau bisa pelankan makanmu!" Ujar Debora lembut, namun disana Rey hanya mengangguk menanggapinya.


"Rey, apa kau ingin memakan seluruh makanan ini beserta meja makannya?"


Pertanyaan dari Justice itu membuat semua orang tertawa, kecuali Rey. Dia disana masih sibuk menyantap makanannya.



Tentu saja manusia satu ini akan sangat lahap. Pasalnya, menu pagi ini adalah daging Wagyu kesukaannya, ditambah yang membuat ini adalah Debora.


"Astaga, ini enak sekali!"


Rey yang puas bersandar di kursinya, sambil memuji makanan didepannya yang lezat menurutnya. Acara sarapan mereka usai sudah.


Hari ini misinya hanya satu, yaitu berangkat ke Silver Alaska saat malam. Pagi buta sampai senja menjelang, mereka akan sangat santai.


Rey yang masih merasa nikmat itu memikirkan sesuatu. Rey mengarahkan tatapannya tepat pada Debora. Gadis itu masih menikmati secangkir teh miliknya, sambil membaca buku abjad sihir miliknya.


Para rekannya sibuk dengan obrolan mereka masing-masing. Begitupun dengan Justice,Riley dan Mikhail.


"Debo?" Lirih Rey disampingnya.


"Iya?"


Debora menoleh ke arah samping, disana Rey tersenyum ke arahnya.



"Kau tak ingin pergi jalan-jalan?"


Mendengar itu, Debora meletakkan tehnya diatas meja. Gadis itu menautkan alisnya, tumben sekali rasanya.


"Jalan-jalan?" Tanya Debora memastikan. Rey mengangguk cepat mendengar itu.


"Wah, Ibu dan Bapak Negara ini sepertinya akan pergi ya?"


Kali ini Riley berucap, ia mendengar apa yang sedang mereka bicarakan disana. Pernyataan itu membuat Debora bersemu, namun tidak dengan Rey. Disana ia masih tersenyum sambil menatap ke arah Debora.


"Temani aku, Debora!"


Rey beranjak dari duduknya, tubuhnya berdiri saat ini sambil mengulurkan tangannya ke arah Debora. Mikhail yang tadinya sibuk dengan buku sihirnya, mulai mengarahkan netranya ke arah Rey dan Debora.


"Baiklah!" Ucap Debora memberi jawaban.


Debora menyambut uluran tangan itu. Mereka berdua sama-sama berdiri.


"Aku pergi dulu ya!" Ucap Rey dengan nada riangnya.


"Kau selingkuh Rey!" Kritik Justice sembari memasang raut muka kesal.



"Debora lebih menawan daripadamu, Just!"


Jawaban itu mengiringi langkah Rey beserta Debora keluar dalam markas. Hari ini, sebelum pergi ke Silver Alaska. Rey akan mengatakan segalanya pada Debora. Segala hal yang begitu sesak dalam hatinya.


"Rey, kita akan kemana?" Tanya Debora.


"Aku ingin menghabiskan waktuku denganmu sebelum pergi!"


Debora terkejut mendengar jawaban yang terlontar dari diri Rey. Bola mata itu menatap ke arah langit-langit. Bola mata itu sama sekali tak menatapnya.


Greppp


Sentuhan jari-jari dari tangan kekar Rey menyelinap, diantara sela-sela jarinya. Rey menggenggam tangannya, disana Debora diam mencoba menetralkan degupan jantung dalam dadanya.


Clingggg


Mereka berdua sudah berada diluar markas saat ini. Jalanan Asrama mereka sepi seperti biasanya. Para Musketeers pasti sedang bertugas di jam ini.


Hari ini, Rey memutuskan membawa Debora ke peternakan saja. Tak ada tempat lebih privasi selain disana baginya.


"Aku bosan berjalan seperti ini!" Protes Rey menghadap ke arah Debora.


"Lalu?"


"Mari rapal mantra Leviousa Debora!"


"Lantas kemanakah tujuan kita, Rey?"


"Kita ke peternakan saja!"


Jawaban itu membuat Debora membulatkan matanya. Mengapa pagi buta begini, Rey mengajaknya ke peternakan.


Bukankah biasanya Rey akan pergi kesana bersama Justice, lantas mengapa hari ini ia mengajaknya. Tak ingin mempermasalahkan hal itu, Debora pun menyetujui apa yang Rey katakan.

__ADS_1


Kedua tangan mereka saling terpaut, bersamaan dalam hitungan detik rapalan mantra Leviousa, membawa tubuh mereka pergi dari sana.


Sleppppp


Setibanya disana, peternakan sepi seperti biasanya. Gerbangnya masih terkunci rapat, tak ada seorangpun disana kecuali mereka.



Rey menggenggam salah satu telapak tangan Debora, tanpa berucap sepatah katapun diantara salju yang masih turun tangan itu membawanya, menuntunnya untuk mengikutinya.


Sama sekali tak ada protes terlontar dalam diri Debora. Karena bagi hatinya, berjalan dibawah buliran salju, bersama Rey itu sudah lebih dari cukup.


Kedua pemilik Surai putih ini berjalan mendekati peternakan. Namun Rey tak membawa Debora masuk kedalam peternakan.


Rey mengajak gadis itu dibelakang peternakan. Disana ada hamparan rumput tertutup salju, tanahnya lapang, ada bebatuan besar disana.


Itu adalah, dimana untuk pertama kalinya dirinya dan Riley mempelajari sihir disana, sebelum Rensuar merekrutnya.


"Mari kita duduk disini!"


Rey berucap sambil mendekati salah satu batu besar disana, sambil melepas genggaman tangannya, Rey duduk disana.



Debora tersenyum mendengar itu, ia pun mengikuti Rey disana. Tubuh mereka duduk diatas batu besar itu, buliran salju pagi ini turun menerpa tubuh mereka.


"Saljunya masih turun!"


Rey berucap sambil membuka telapak tangannya, dalam domain Baron menatap jenuh ke arah Rey disana. Mengapa lontaran kata-katanya begitu konyol, Debora gadis cerdas tentu ia tau bahwa salju masih turun.


"Pemuda tak berbakat masalah cinta!"


Ledekan itu membuat Rey terhenyak. Kakek Tua dalam domain ini berisik sekali, selalu saja mengganggu momen mereka berdua.


"Kau bisa diam?! Aku sedang berusaha!"


"Aku tak yakin kau mampu melakukannya!"


"Selain aku unggul dalam adu mekanik, masalah hati pun aku juga mampu! Kau yang masih melajang, selama ratusan tahun dalam domain, tau apa?"


Rasanya seperti ditampar akan ucapan Rey. Sekejap Baron didalam sana terdiam, lelaki Tua itu mengumpat didalam domain, lalu kembali membisu kemudian.


Rey tertawa penuh kemenangan dalam hatinya, untuk pertama kalinya ia mampu membuat Baron diam disana.


Sejak tadi, Debora memperhatikan Rey yang tersenyum sendiri. Mengapa pemuda ini selalu saja begini, sebenarnya ada apa dalam dirinya.


"Rey, kau sedang menertawakan apa?"


Debora bertanya sambil memiringkan kepalanya, Rey menatapnya kali ini sambil tersenyum lalu menggeleng.


"Tidak Debora, tapi, apa kau percaya Pedang bisa bicara?"


"Huh?"


Debora dibuat heran mendengar itu. Bagaimana mungkin, sebuah besi tajam mati itu bisa bicara. Selama ini bahkan, ia tak pernah sekalipun mendengar pedangnya berbicara.


"Bagaimana jika kukatakan, Baron dalam tubuhku ini mempunyai pikiran sendiri?"


"Aku tau hal itu Rey, tapi aku tidak akan percaya jika kau bilang dia hidup atau mampu melakukan hal-hal seperti kita. Kupikir selama ini yang mengambil alih tubuhmu, adalah kekuatannya yang belum mampu kau kuasai?"


"Iya, itu juga benar!"


Apa yang dikatakan Debora sebagian benar. Kekuatan yang belum mampu ia kuasai, selalu mengambil alih tubuhnya, itu benar.


"Debora, kemarilah!"


Ucap Rey seraya mengulurkan tangannya, Debora menyambut uluran tangan itu. Satu hentakan itu menarik Debora masuk kedalam pelukannya.



Debora membulatkan matanya, ketika beberapa gambaran melintasi kepalanya. Ini adalah kekuatan Baron milik Rey.


Mungkin hari ini Rey akan menjelaskan seluruhnya pada Debora. Baron didalam berjanji padanya, setelah seluruh penjelasan ini selesai. Dengan sihirnya, ia akan membuat Debora melupakannya.


Debora hanya akan mengingat apa yang dikatakan Rey disini, jika Rey mati. Tawaran semacam ini datang sejak malam, dimana disana sepulang dari Istana putih.


__________



Malam itu seperti biasanya, Rey mengalami insomnia sebelum sesuatu yang besar akan ia lakukan. Ia berfikir keras sejak malam, bagaimana caranya membawa dua pedang legenda itu bersamanya.


Bagaimana caranya melindungi seluruh rekannya saat di Alaska. Rey tidak akan pernah membiarkan, tangan laknat iblis kembali merenggut nyawa orang-orang yang ia cintai.


Jauh didalam Silver Alaska malam itu, rupanya Baron emas mengucapkan sesuatu pada Baronnya. Artinya semalam setelah pertemuan antara dirinya dan Harith, Syena didalam Silver Alaska datang kembali menemui dua pedang Legendaris itu lagi.



Disana beberapa percakapan terjadi lagi diantara mereka. Sebuah siasat yang mereka bertiga rencanakan. Ini demi dunia, dan jika itu menyangkut dunia, Rey akan melakukannya.


Isi percakapan malam itu, hanya sebatas antara Baron emas dan Baron Cahaya milik Rey saja.


"Baron Cahaya, melalui anak ini aku menyampaikan sesuatu!" Baron emas dari Silver Alaska bicara, melalui tubuh Syena.


"Apa itu?" Pertanyaan itu tersambung jelas pada Baron milik Rey di Rensuar.


"Penguasaan tiga pedang dalam satu tubuh akan membutuhkan waktu lama. Datang kemari adalah bunuh diri bagi kalian, tapi kami tidak mampu keluar dari dalam sini sendiri. Bagaimanapun juga, kami adalah sebuah pedang. Untuk pergi ke suatu tempat kami membutuhkan tubuh!"


"Lantas mengapa kau tidak mengambil alih tubuh Syena?"


"Bagaimana bisa kami mengambil alih tubuh, seseorang yang separuh tubuhnya dirasuki Iblis? Dia terkontaminasi, jika kami masuk kedalam tubuhnya maka Iblis petinggi disini mampu merasakan keberadaan kami."


"Jadi?"


"Kemungkinan fatal itu tidak akan terjadi jika, Rey kau bawa kemari. Dengan sulur kami akan menarik tubuh nya masuk kedalam domain kami. Mempelajari ilmu kedua pedang baru, cukup memakan waktu. Sementara, biarkan Rey bersama kami disini."


"Rencananya?"

__ADS_1


"Kami akan memanipulasi kematiannya, dengan syarat, bawalah Syena pergi dari sini setelah itu."


Diskusi malam itu membuat Rey beserta Baron sedikit tercengang. Namun mendengar tawaran tentang Syena, Rey mantap mengiyakan apa yang mereka tawarkan.


Mendengar penjelasan itu, semalam ketiga pedang itu dibuat takjub akan tekad Rey. Rey juga mengatakan pada mereka, bahwa ada seseorang yang sangat Rey cintai disini.



Manusia itu adalah Debora, sebelum menjalankan rencana bunuh diri ini. Rey ingin mengetahui segala perasaan Debora padanya, hanya itu.


Pinta itu sedikit menyulut simpati Baronnya, disana ia menawarkan sihir penghapus ingatan dengan jangka waktu sesuai yang diminta oleh Rey.


Tawaran itu menarik bagi Rey, disana ia mengiyakan tawaran baron. Rey akan menyatakan seluruh perasaannya pada Debora disini.


Seluruh penjelasan itu sudah Debora dapatkan sekarang. Disana ia melihat segalanya, percakapan Baron milik Rey beserta suara dari dua Baron didalam Alaska.


Ia juga mendengar, perihal rencana manipulasi kematian yang akan Rey lakukan. Masih dalam dekapan Rey disana, buliran air mata itu jatuh perlahan. Pemuda ini berani sekali menantang kematian.



"Kau bodoh!" Pekik Debora menangis disana.


Hinaan itu sama sekali tak menyulut emosi Rey. Ia membiarkan gadis ini menangis disana, mau bagaimana lagi, dia adalah manusia yang terpilih.


"Mengapa kau menyerahkan dirimu, kami bersamamu Rey!"


Sejujurnya Rey pun juga tak ingin melakukan ini. Terpisah dari rumah, terpisah dari orang-orang yang ia anggap keluarga.


Itu bukan keinginannya, tetapi takdir mengatakan padanya untuk melakukan itu, sebab dia adalah manusia yang terpilih.


Namun keluarganya yang lain juga sedang ada disana, Syena, sedang ada disana. Menangis, menahan seluruh luka yang disebabkan oleh Iblis padanya.


"Hei, kenapa kau menangis?"



Tanya Rey ketika Debora menjauhkan tubuhnya. Debora menghapus air matanya lalu menunduk. Rey disampingnya masih setia memperhatikan itu.


Gadis ini mengapa tidak mengatakan perihal perasaannya. Mengapa ia masih bungkam, enggan memberitahu dirinya bahwa dia pun juga sangat mencintai Rey.


"Debora?" Lirih Rey menatapnya.


"Apa?" Debora menjawab itu tanpa menoleh ke arahnya. Hatinya sesak rasanya.


"Palingkan wajahmu, setidaknya aku bisa mengatakan apa yang ada dalam hatiku padamu!"


Pernyataan itu membuat Debora mengalihkan netranya. Disana Rey tersenyum padanya.


"Apa kau mencintaiku?"


Lagi-lagi lontaran pertanyaan sulit itu Rey berikan. padanya. Bagaimana seorang gadis mampu menjawab hal itu secara terang-terangan.


Debora menundukkan kepalanya kembali, sekalipun hatinya sakit saat ini setelah melihat kenyataan yang akan terjadi, namun tiap Rey mempertanyakan perihal ini, semu merah selalu datang menghiasi wajahnya.



"Kata yang tak sempat diucapkan kadang berupa tetesan air mata. Dunia ini kejam, namun juga indah! Salah satu keindahan dunia yang kumiliki saat ini, adalah dirimu!"


Pada akhirnya jawaban itu terlontar dari Debora. Ia mengucapkan itu sembari menunduk, ia mengucapkan hal itu tanpa bertatap muka dengannya.


"Jika hari ini kau mempertanyakan perihal mengapa aku menangis, itu karena air mata ini adalah ungkapan. Pertanda bahwa aku disini masih belum siap kau tinggalkan!" Ucap Debora.


"Jadi apa kau mencintaiku?" Rey kembali memastikan perihal perasaannya terbalas saat ini.


Debora tersenyum, namun buliran air mata itu juga tetap jatuh. Perasaannya campur aduk saat ini. Debora menganggukkan kepalanya.


"Aku menyukaimu dengan rasa bukan dengan kata-kata.”


Wajah itu kembali berani menatap Rey. Hatinya tersentuh mendengar itu, penyataan itu indah sekali. Ketulusan dari dalam sana ikut Rey rasakan.



Rey meraih wajah itu mendekat ke arahnya. Sebelum pergi, ini adalah jawaban untuk Debora. Sebelum pergi, ini adalah hadiah terakhir untuk belahan hatinya yang akan Rey tinggalkan.


"Maafkan aku, Debora! Baron, tolong lakukan!"


Syuthhhhhhh



Di sela-sela ciuman mereka, sebuah kilatan cahaya muncul hal itu membuat Debora tak sadarkan diri dalam dekapan Rey pagi ini.


Sihir penghapus ingatan. Satu sihir yang hanya Baron saja yang tau mantranya. Rey membaringkan kepala Debora di atas pangkuannya.


Sambil menatap ke arah langit Rey tersenyum, rupanya ia juga menangis disana. Namun ia juga bahagia kali ini. Sebab Rey tau, perasaan antara dirinya dan Debora sudah terjawab disini.


"Merasa bersalah padamu bukanlah sesuatu yang kunikmati jika bangun di pagi hari!" Lirih Rey, sesekali tangannya bergerak mengusap surai putih Debora.


Baron dalam domain mendengar itu. Ia juga menyaksikan betapa pedihnya adegan yang baru saja terjadi ini. Ketika mereka berdua saling mencintai satu sama lain, takdir Tuhan mengatakan untuk mereka berpisah.


"Saat menangis biasanya manusia akan melihat kearah langit, supaya airmatanya tak tumpah. Kau boleh menangis, kau boleh juga lari, tapi kau tidak boleh menyerah! Aku terkesan padamu Rey, mari kita akhiri bersama kehancuran ini! Aku akan selalu berada disampingmu!"


Ucapan dari Baron itu kembali membuatnya lega. Ia kembali diingatkan perihal tugasnya.


"Terima kasih." Ucap Rey.


Sebuah hal besar malam nanti akan terjadi. Malam menjelang, Harith akan dihadapkan dalam posisi yang sulit. Bagaimanapun juga, rencana mereka harus berhasil kali ini.


Bersatunya tiga pedang dalam satu tubuh, akan menciptakan manusia sekelas guardian. Posisi itulah yang akan Rey ambil nanti.


...Di dalam dunia ini, kamu harus belajar menerima semua hal dengan doa syukur!...


...Jujurlah pada dirimu sendiri!...



__________

__ADS_1


__ADS_2