LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Part 44 (S2)


__ADS_3

Dion duduk termenung di pojok kamarnya. Selama ini ia hanya berfikir tentang hidupnya tanpa mengetahui masih ada orang yang lebih menderita darinya. Elka, satu nama yang selama ini ia pikir hidupnya paling bahagia di antara semuanya. Ia tidak tahu bahwa ada luka dibalik senyuman dan candaan seorang Elka.


Ia mencoba menghubungi nomor Elka namun tidak aktif, ia kembali mengenang saat mereka zaman kuliah. Ia ingat orang yang pertama kali memintanya menjadikan ia sebagai seorang teman. Dion tertawa saat mengingat banyak kekonyolan serta tingkah absurdnya.


"Huh, kenapa kita seperti orang terbuang yang akhirnya saling berangkulan dalam satu lingkaran." desah Dion dengan panjang.


Tring.... Tring....


Sebuah panggilan masuk, ia segera mengangkatnya.


"Halo." ujarnya dengan lesu.


"Bagaimana kabarmu?" tanya penelpon tersebut.


Dion membeku di tempatnya. Ia melihat nama pemanggilnya, tidak ada nama.


"Apa aku menganggumu?" tanya suara di seberang dengan sedih.


"Ah, iya aku mau tidur." di sini sudah sangat larut." jawabnya. Suara di seberang tampak mendesah lalu mematikan panggilannya.

__ADS_1


"Dasar bodoh," rutuk Dion dengan kesal. Seharusnya ia tidak mengakhiri panggilannya. Namun ia tidak suka dengan wanita yang selalu mengganggunya. Hatinya sudah tersemat oleh seseorang yang menghilang entah kemana.


Saat ini pikiran Dion terbagi tiga, ia masih memikirkan Auxillia, ia juga mengkhawatirkan Elka ditambah ia mencemaskan kondisi Syeilla. Ia tahu sudah ada Aiden namun rasa cemas itu kerap muncul di hatinya.


""""""""


Elka menatap bulan yang sedang menerangi kota dengan cahaya purnamanya. Ia mendesah pelan sambil *** dadanya yang masih terasa menyakitkan. Ia bagai orang yang tidak berguna sama sekali. Selama ini ia sungguh tidak berguna.


Kenyataan yang sangat penting baginya namun malah tidak ia ketahui sedikitpun. Lantas inikah alasan mengapa Ariel menghilang. Inikah alasannya. Elka menjambak rambutnya dengan frustrasi. Ia telah lalai sebagai penjaga Syeilla.


Aaarrrrggggg.......


Elka menangis dengan ingus membanjiri hidungnya.


"Luka ini, kenapa luka ini belum juga sembuh." lirihnya memukul kuat dadanya yang terasa menyakitkan. Ia menangis seperti gadis belia yang baru saja kehilangan tas branded.


Sekilas ia terbayang wajah sedih Syeilla, ia kembali mengingat hingga pantulan raut sedihnya semakin terlihat jelas. Ia kembali merutuki dirinya yang terlihat menyalahkan Syeilla. Mungkin Syeilla tidak tahu apa-apa dan dia malah menuduhnya yang bukan-bukan.


"Aiss dasar bodoh." isaknya sambil menggerutu. Besok ia akan meminta maaf pada Syeilla. Ia tidak seharusnya menyimpulkan sesuatu seperti itu.

__ADS_1


Aiden sedang mengeloni Syeilla agar tidur tanpa beban. Ia dengan setia berjaga hingga larut malam. Ia tidak ingin melihat istrinya menangis di tengah malam,


"Ssttt...." Aiden kembali mengusap kepala Syeilla dengan lembut. Ia mengecupnya dengan penuh perasaan.


"Semua akan baim-baik saja sayang, mas janji sama kamu." Aiden membawa tubuh Syeilla kepelukannya.


Aiden melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 02:10 dini hari, sejujurnya ia sudah mengantuk namun biasanya Syeilla akan terjaga jam tiga karena kehausan. Ia ingin menjadi suami yang siaga dan artinya ia harus berjaga lima puluh menit ke depan.


Untuk mengurangi rasa kantunknya ia pun menonton film Horor besutan dari Jepang yang terkenal akan kehororannya. Namun ia perlu kejut jantung alami agar tidak terlelap. Ia memasang headset dan meninggikan volumenya. Sadako vs Kayako, melihat dari judulnya saja sudah membuatnya merinding total.


Baru saja film dimulai ponselnya sudah terbanting ke bawah saat hantunya keluar dari televisi. Jantungnya bahkan masih berdebar dengan kencang.


"Inilah alasan aku benci film horor." rutuknya dan masuk ke dalam pelukan Syeilla.


❤❤❤❤❤


Aiden, kamu waras??


Elka, kamu waras??

__ADS_1


__ADS_2