
Pagi itu Syeilla dikejutkan dengan sebuah panggilan misterius. Ia tidak tau siapa orang itu hanya saja apa yang diucapkannya membuat Syeilla terusik. Ia pun mengatakan pada Aiden mengenai apa yang barusan terjadi namun Aiden mengganggapnya kalau Syeilla hanya berhalusinasi sebab dari tadi tidak ada panggilan masuk.
Syeilla pun menghela napasnya dan mungkin suaminya benar bahwa ia hanya sedang berhalusinasi belaka, namun semuanya tampak nyata. Mungkin ia harus lebih waspada.
"Sayang, mas berangkat dulu ya." ujar Aiden pamit sambil mencium kening istrinya dengan lembut.
"Hati-hati di jalan mas." ujar Syeilla dengan wajah sedih. Ia tidak tau apa ini berhubungan dengan kehamilannya yang dua hari belakangan ia periksakan ke dokter kandungan.
"Kenapa wajahnya sedih begini hm?" ujar Aiden membelai lembut pipi tirus Syeilla.
"Tidak ada mas, mungkin hanya merindukanmu karena kita tidak akan bertemu selama enam jam." cicitnya dengan pelan. Aiden terkekeh mendengarnya. Ia senang jika istrinya sering merindu dan tak ingin berjauhan dengannya.
"Ah waktunya mas berangkat, jaga diri baik-baik di sini. Ingat ya jangan pergi kemana-mana tanpa mas." peringat Aiden dan berlalu pergi menuju perusahaannya. Syeilla mengangguk dengan lesu. Ia berjalan menuju sofa dan menghidupkan tv untuk menghilangkan kebosanannya.
Tring..... Tring..... Tring.....
Kembali suara panggilan terdengar dari ponselnya. Ia melihat si pemanggil tanpa nama. Ia memutuskan unguk tidak menjawabnya namun panggilan tersebut terus berbunyi membuat Syeilla kesal.
__ADS_1
"Halo..." ia akhirnya mengangkat panggilan tersebut. Namun tidak ada suara yang menjawabnya. Syeilla pun hendak mematikan panggilannya sebelum suara seseorang terdengar seperti disamarkan.
"Halo Syeilla, lama tidak bertemu."
"Siapa kamu?" tanya Syeilla dengan gemetar. Ia merasakan bahwa orang tersebut berbahaya mengingat jika ia baik untuk apa menyamarkan suaranya.
"Aku, aku adalah orang yang akan menendangmu jauh dari dari suamimu hahahha." tawanya membahana memenuhi gendang telinga Syeilla.
"Jangan bermain-main." teriak Syeilla dengan gemetar.
"Oh sayang, apa kau pikir aku tidak punya kerjaan lain hm? Kau sudah menjadi target." kekeh suara misterius itu yangbterdengar sangat menyeramkan. Syeilla langsung mematikan panggilannya. Ia menangis dengan tangan gemetar. Sekarang ia bertanya-tanya apa semua ini hanya halusinasinya semata.
"Ha.. Halo Zia, Zia aku.. Aku." Syeilla menangis karena tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Orang di seberang tercekat mendengar suara yang sangat ia kenali. Ya orang yang Syeilla pikir Zia, ternyata nomor Dion lah yang ia panggil. Minggu kemarin Ari memberinya nomor Dion.
"Syeilla." ujar Dion dengan suara gemetar.
"Di mana kau, aku akan segera kesana." Dion segera pergi dan izin keluar karena ada urusan penting. Hanya itu yang ia katakan. Ia segera menuju tempat dimana Syeilla berada. Jantungnya berdegup kencang tidak karuan. Tanpa sadar air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. Ia tidak masalah jika akan di cap cengeng.
__ADS_1
Sesampainya di depan apartemen Syeilla tinggal, Dion mengabarkan pada Syeilla bahwa ia sudah berada di bawah. Tampak dari kejauhan Syeilla terlihat dan melambaikan tangannya pada Dion.
Wajah Dion tidak pernah berhenti terpaku dari Syeilla. Ia antara mimpi dan kenyataan saat melihat Syeilla kini berdiri tegak di hadapannya.
Mereka pergi ke sebuah taman tempat biasa warga sekitar duduk dan mengombrol.
"Tanyakan saja." ucap Syeilla saat menyadari tatapan kebingungan dari Dion.
"Aku hanya kebingungan antara bermimpi atau benar-benar tidak sedang bermimpi." gumam Dion.
"Awwww" ringis Dion saat tangan Syeilla sudah menancap lalu memutar kulitnya dengan sangat tipis.
"Artinya kau sedang tidak bermimpi." Ucap Syeilla dan melemparkan tatapannya pada area sekitar.
❤❤❤❤❤
Ah akhirnya masuk juga ke area konflik...
__ADS_1
Apa kalian sudah siap...
Hahaha... Siapkan hati aja.