
Dirga menatap langit malam dan mengenang semua kisahnya bersama Alya. Gadis sederhana yang ia cintai. Namun, ia kehilangan hadis itu saat kesalahpahaman terjadi di antara keduanya. Ia melampiaskan pada Cally yang berimbas melukai Alya. Dirga menyesal karena pernah melakukan hal tersebut. Ia sudah melukai Cally yang jelas-jelas sangat mencintainya. Tapi hati tidak bisa dipaksa.
"Alya, lo kemana sih? Gue kangen sama lo."
Zia menghampiri putranya ke kamar. Ia tersenyum sedih melihat kondisi Dirga yang jauh dari kata baik-baik saja. Mungkin fisiknya baik-baik saja, tapi hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Dir, jangan sedih lagi ya, Alya pasti ketemu."
Dirga mengalihkan tatapannya pada sang ibu. Ia berharap seperti yang ibunya katakan. "Semoga ya Ma."
Keduanya larut dalam diam, sesekali Diega tampak menghela napas panjang. Zia melihat kekejauhan dengan tatapan berkaca-kaca.
"Kamu tahu nggak, Alya itu gadis yang kuat, begitu juga dengan Cally, keduanya lahir dengan penuh perjuangan."
__ADS_1
Dirga mengusap pipi ibunya dan memeluknya dengan lembut. "Mama jangan nangis dong, Dirga juga jadi sedih kalau liat Mama nangis."
"Mama nggak akan nangis asal kamu bisa bangkit. Mama kangen sama anak Mama yang dulu," ujar Zia dengan lemah.
"Dirga janji akan move on, asal Mama jangan sedih lagi ya."
Zia tersenyum senang, ia mengangguk kecil dan memeluk putra kesayangannya dengan senang. Ariel tersenyum di balik pintu melihat keduanya.
Alya membuka matanya pelan. Ia melihat ke sekeliling dan menemukan Marten sedang memegang sebuah kertas yang tidak dimengerti oleh Alya. Rasa pening di kepalanya membuat ia tidak bisa duduk.
"Marten, makasih sudah merawatku," ucap Alya meski pun ia tahu pria itu suda menculiknya tapi tetap saja ia harus berterima kasih.
"Kalau lo mati, gue nggak akan senang jadi jangan lebay lo!" dengkus Marten sinis.
__ADS_1
Alya mendumel kesal dalam hati, kenapa kematiannya menjadi sebuah kesenangan untuk pria itu.
"Marten, sebenernya apa yang membuatmu sangat membenci keluargaku," gumam Alya pelan.
Marten yang sedang serius melihat kertasnya yang sedikit membuatnya kebingungan, ia mengalihkan tatapannya pada Alya yang menatapnya dengan sedikit takut-takut. Ia melempar berkas yang di tangannya dengan kasar dan keluar dari kamar dengan membanting pintu kasar.
Alya menarik napas panjang, ia sempat melihat raut wajah Marten yang jauh dari kata baik-baik saja. Kemarahan tampak jelas di matanya.
"Ada apa dengan Marten," gumam Alya. ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh Marten.
🌺🌺🌺🌺🌺
TBC
__ADS_1