
Di sebuah ruangan khusus bernuansa hitam putih, berdiri sosok pria tampan berwajah dingin. Siapa lagi kalau bukan Altaf. Matanya menatap dengan sorotan tajam sebuah foto seorang gadis yang sedang tersenyum. Setiap melihat senyuman gadis itu, mata Altaf akan berkilat tajam nan dingin. Yakinlah saat kau bertemu dengannya pada kondisi sekarang kau tak akan selamat.
"Ternyata kejadian lima tahun silam tidak lantas membuatmu sadar. Kau membuatku kehilangan banyak hal maka, aku juga akan membuatmu kehilangan banyak hal. Bahkan jauh lebih menyakitkan dari apa yang pernah aku rasakan, nyawa dibalas dengan nyawa," ucapnya dingin sambil menggoreskan foto tersebut dengan pisau lipatnya hingga menjadi bentuk yang abstrak.
Elena saat ini sedang menonton film kesukaannya dari negara Korea. Walaupun banyak orang yang bilang negara tersebut artisnya rata-rata muka plastik. Namun, jika ditilik dari segi filmnya, negara tersebut termasuk memproduksi film yang sukses di beberapa negara bahkan hingga ditayangkan di televisi lokal.
"Oppa saranghaeyo!" teriaknya antusias saat adegan pernyataan cinta tokoh pria dalam film tersebut.
Terkadang jika adegannya sedih Elena akan menangis hingga matanya bengkak. Ia terlalu menghayati film tersebut. Bukan tanpa alasan mengapa ia menangis, bukan karena ia gadis yang manja, ia hanya teringat akan perjalanan hidupnya. Karena terkadang alur cerita dalam film tersebut hampir sama dengan kisah kehidupannya.
Bagi mereka yang tak mengenal sosok Elena akan beranggapan bahwa, ia hanya sosok gadis manja dan hidupnya penuh warna. Namun, percayalah bahwa hidup Elena tidak sesimpel itu. Bahkan ia pernah berada di titik terendah dalam hidupnya.
__ADS_1
Elena tinggal di sebuah apartemen mewah hasil jerih payahnya selama lima tahun ini. Tidak ada yang tahu bahwa ia adalah salah satu anak orang terkaya nomor 100 di dunia karena ia memang tidak ingin memberitahukannya. Karena toh dia juga bukan lagi bagian dari keluarga tersebut.
“aku lupa belanja lagi, ya Tuhan,” ujarnya frustrasi. “inilah akibatnya Elena kalau kau keasyikan nnton oppa.” omelnya pada diri sendiri.
"Mari kita lihat apa yg harus dibeli."
Tenang dia tidak gila hanya saja itulah kebiasaannya. Selesai mencatat barang belanjaannya ia segera bersiap dan melaju membelah jalan raya menuju super market. Sibuk dengan kegiatannya memilih barang tanpa sadar ia menabrak punggung pria yang membelakanginya.
"Apa kau tidak punya kerjaan selain menabrak orang." marah Altaf dingin.
"Maafkan saya Pak, tadi saya terlalu asyik berbelanja hingga tak melihat ada Anda di depan saya." jelas Elena dengan sekali tarikan napas.
__ADS_1
Tanpa mendengarkan penjelasan Elena, Altaf berlalu pergi begitu saja tanpa permisi.
"Hah Elena kenapa kau harus bertemu dengan bos beku itu sih." rutuknya pada dirinya sendiri. Selesai membayar Elena bergegas kembali ke apartemennya.
Moodnya tiba-tiba berubah kalau bertemu bos beku nya. "Aku jadi malas memasak gara-gara si beku. Laparku juga ikut hilang." dumelnya. Padahal ia ingin makan masakannya sendiri karena sudah lama ia tidak memasak.
"Kakak, apa kau juga sudah melupakanku." lirih hati Elena sebentar.
"Apa aku tidur saja ya, ah sudahlah," ucapnya berlalu ke kamarnya.
Setelah memikirkan semua kemungkinan balas dendamnya pada Elena. Altaf akan memanfaatkan perasaan wanita itu. Ia akan membuat Elena mencintainya, dan menjadikan dirinya sebagian dari hidupnya hingga rasanya jika tanpa Altaf. Elena akan lebih memilih mati. Itulah cara yang akan dipakai oleh Altaf untuk membuat Elena menderita baik fisik maupun batin.
__ADS_1
-------