
Nevan sedang melamun di dalam kamarnya. Matanya menatap lekat pada sbuah bingkai yang berisi foto Alya. Gadis itu tersenyum lembut menatap kamera. "Coba aja kalau kamu bisa memberiku sedikit dari bagian hatimu."
Ia menghela napas pelan saat ia sudah selesai dari lamunannya. Sebuah ketukan membuatnya sedikit kaget. Elka masuk dngan wajah menyengir kuda. Ia membawa sesuatu di tangannya.
"Kata Mamamu, kamu lagi muram, kenapa?" Elka bertanya kepo.
Elka menatap malas dan melempar tatapannya ke luar jendela. Elka balas menatap kesal pada putranya yang selalu berlagak jual mahal padanya.
"Kepo!"
"Loh, harusnya bersyukur dong karena Papa suka kepo. Coba kamu lihat, di mana ada seorang Papa yang perhatian sama anak lelakinya. Kalau pun ada itu cuma dalam film."
__ADS_1
Nevan menatap serius wajah Elka lalu berdehem pelan.
"Pa, gimana caranya membuat seorang gadis kembali menyukai kita."
Elka tampak berpikir dengan keras. Ia berjalan mondar-mandir layaknya setrikaan. Sesekali ia berdehem sekadar membuang angin yang terperangkap di sela giginya.
"Sebenarnya Papa punya cara ampuh cuma Papa yakin efeknya kamu akan dibenci sama orangnya."
"Kamu nikahi secara paksa."
Nevan mendengkus kesal mendengar ucapan ayahnya. Bori-boro dipaksa. Diculik sekalipun ia tidak akan pernah tega.
__ADS_1
"Saran Papa sangat manjur buat nabokin Papa."
"Ya ya baiklah, Papa akan keluar aja." Elka keluar dengan wajah senyum penuh dusta.
Di sebuah ruang bernuansa ungu dengan corak sakura menghiasi dinding. Ia melamun jauh, dalam benaknya banyak hal yang bergentayangan. Setitik air mata lolos dari kedua pipinya.
"Kenapa sih Al, selalu kamu yang lebih beruntung dari segala hal."
🌺🌺🌺🌺🌺
Halowwwww..... Ceritanya akan segera memasuki konflik.
__ADS_1