LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Part 56 (S2)


__ADS_3

*Dua tahun yang lalu


Syeilla dinyatakan meninggal dunia akibat benturan hebat saat ia terlempar jauh ke sisi jalan. Bahkan kedua bayi kembarnya juga tidak selamat. Peristiwa kelam yang menyadarkan seorang Aiden. Lelaki yang dikenal angkuh dan sombong, tidak berdaya sama sekali. Peristiwa kelam yang membuat nya sadar betapa pentingnya sosok Syeilla sebagai supley pernapasannya.


Denyut jantung Syeilla berhenti berdetak, Ariel datang saat semua sudah terlambat. Ia menangisi kebodohannya, puas menangis. Ia mendekati mayat Syeilla dan menggenggam tangannya.


"Maaf, maaf karena gagal menjagamu." lirihnya. Ia bahkan tidak pernah menangis sebelumnya. Namun, sosok Syeilla mampu membuatnya mengeluarkan air mata berkali-kali.


"Zia akan sedih kehilangan kamu. Maafkan aku Syei."


"Dokter, jantung pasien kembali berdetak. Namun ada yang salah dengan tubuhnya." terang seorang perawat.


Ariel melihat mesin EKG nya kembali berjalan dan tidak berbunyi nyaring lagi. Namun, seperti yang dikatakan perawatnya bahwa ada yang salah dengan tubuh Syeilla.


Tring.... Tring....


Bunyi suara panggilan mengalihkan atensinya. Seorang perawat menyerahkan ponselnya. Ariel melihat nama seseorang tertera di sana.


"Mark." gumamnya saat teringat sesuatu.


Mereka sedikit berbincang mengenai rencana kedatangan Ariel ke Rusia, tempat Mark tinggal.


"Mark, apa kau bisa membantuku." ujar Ariel pelan. Ia sangat berharap banyak Mark bisa membantunya.


"Mengenai apa?" tanya seseorang di sebrang benua.


"Aku meiliki seorang pasien. Dia kecelakaan hebat yang menyebabkan terjadinya trauma di areal perut dan kepala." terang Ariel dengan gamblang.


"Apa di sana tidak ada yang bisa menanganinya?"

__ADS_1


"Dia baru saja meninggal." lirih Ariel membuat Mark kebingungan.


"Kalau sudah meninggal untuk apa memberitahuku." kesal Mark dengan candaan.


Ariel menarik napas.


"Jantungnya kembali berdetak. Namun, sangat lemah. Kemudian ada sesuatu yang membuatku bingung dan aku rasa hanya kamu yang mengetahuinya Mark.


"Miracle." mark berdecak kagum sekaligus salut dengan pasien sahabatnya.


"Bisa dikatakan seperti itu. Jadi apa bisa kamu mengurus administrasinya di sana. Aku akan mengirimkan semua data yang diperlukan."


"Baiklah. Aka aku urus semuanya."


"Terima kasih. Kami akan segera terbang ke sana."


Ariel pun mengakhiri panggilannya. Ia akan membawa Syeilla berobat , meski ke Rusia sekalipun. Untuk itu, Ariel memerlukan persetujuan dari Lisa dan Wira, bukan Aiden. Psikologi Aiden sedang tidak stabil. Ariel tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas yang telah Tuhan berikan padanya. Elka, Zia dan semuanya tidak boleh mengetahui kecuali Syeilla sudah dinyatakan sembuh.


Dari kejauhan Ariel melihat sosok yang dulu terkenal. angkuh kini terduduk lemas tidak berdaya.


"Aku melakukannya bukan karena kau Aiden. Tapi karena Syeilla sudah kuanggap seperti keluarga. Dia tidak pantas berakhir seperti ini."


Ariel melihat Lisa dan Wira tampak sedang menangis. Kesedihan merek ada tiga.


Mereka harus kehilangan cicit kembar yang sudah mereka nantikan kelahirannya. Mereka juga harus kehikangan cucu menantu yang di mata mereka bak malaikat tanpa sayap dan sekarang. Aiden seperti orang kehilangan akal.


"Nyonya Lisa, Tuan Wira. Bisa berbicara sebentar?"


"Tentu saja." jawab Wira, ia menatap lekat lelaki yang kini ada dihadapannya.

__ADS_1


"Ini mengenai Syeilla."


"Ada apa dengan cucu saya dokter." tanya Lisa sambil berusaha menghalau air matanya.


"Syeilla masih hidup."


Wajah keduanya tampak kaget, mereka seperti tidak percaya dengan penuturan Ariel. Bagaimana bisa orang yang sudah meninggal masih bisa hidup.


"Nak, tolong jangan bercanda." ujar Wira tegas.


"Bisa dikatakan ini keajaiban Tuan, namun saya perlu memastikan sesuatu. Untuk itu, izinkan saya membawa Syeilla berobat Ke Rusia."


Penuturan Ariel membuat keduanya kaget.


"Benarkah? Aiden harus mengetahuinya dok."


"Tidak, Nyonya. Aiden tidak boleh mengetahuinya. psikis Aiden sedang drop. Kondisi Syeilla benar-benar tidak stabil. Ia bisa meninggal kapan saja. Untuk itu, saya sendiri yang akan membawanya ke Rusia."


Keduanya tampak terdiam. Apa yang dikatakan Ariel ada benarnya. Pikir keduanya.


"Lakukan yang terbaik dokter." ujar Wira dengan tegas. Senyuman lega terpancar di sudut mata Ariel.


"Saya akan melakukan apapun untuk Syeilla Tuan, Nyonya. Dia wanita yang paling baik yang pernah saya kenal." Ariel pun segera undur diri dan berlalu dari sana.


❤❤❤❤❤


Masalah medisnya, setelah selesai akan autor riset ulang yessss....


Semoga kalian suka.

__ADS_1


Jangan lupa vote dan komen hahahahhaha


😘😘😘😘*


__ADS_2