LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Part 16 (S2)


__ADS_3

Elka sudah sampai di bandara dan dijemput oleh seseorang yang sangat ia kenal.


"Thanks bro." ujarnya dengan senang walaupun pada kenyataannya dialah yang meminta untuk dijemput. Dion memutar bola matanya tanpa peduli.


"Kita sudah lama tidak bertemu dan kau malah bersikap dingin, ck." decak Elka kesal namun tatapan Dion kembali membuatnya bungkam.


"Baiklah, baiklah. Apa kau senang sekarang?" kesal Elka saat ia memutuskan untuk diam.


Dion segera melajukan mobilnya menembus jalanan yang sudah tampak memancarkan jingganya.


Elka tidak tau mengapa dari jutaan umat manusia di bumi ini, kenapa harus Dion yang ia kenal. Bikin senewen jadinya.


Sesampainya di apartemen Dion, Elka segera turun dari mobil dan langsung menuju apartemennya yang terletak di lantai 32, tepat disamping apartemennya Dion.


"Cih anak itu, kenapa dulu aku sangat takut padanya." dengus Dion kesal dan berjalan memasuki sebuah lift menuju lantai apartemennya.


"""""""


Ariel menghisap cerutu rokok yang kini bertengger manis di bibirnya yang sedikit tebal dan terkesan seksi, ia terus melakukan hal tersebut berulang-ulang hingga cerutunya tinggal setengah. Ia lalu mematikan puntung rokoknya lalu membuangnya ke tempat sampah.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Mark sambil menyodorkan minuman kaleng pada Ariel yang sedang duduk santai di rooftoft rumahnya.


"Tidak ada, hanya sedang teringat seseorang saja." ujarnya dengan tenang.


"Apakah dia cantik?" tanya Mark yang mulai tertarik.


"Dia tidak cantik tapi sangat cantik, wajahnya, hatinya, sifatnya, semua kecantikan meliputi dia tanpa celah." ujar Ariel sambil tersenyum.


Mark dengan setia memperhatikan raut wajah Ariel saat menceritakan sosok wanita yang ia deskripsikan barusan membuat jiwa penasaran Mark mencuat kepermukaan. Jika ia bertanya maka tidak akan sopan tapi kalau dia tidak bertanya dia akan penasaran. Hanya satu jalannya yakni mencari tau sendiri.


"Baiklah, lalu di mana dia sekarang? Apa kau tidak ingin menemuinya?" tanya Mark sambil mengerutkan keningnya. Ariel menatap langit malam sambil menghela napasnya dengan berat.


Mark semakin dibuat bingung, apakah telah terjadi kisah rumit layaknya Romeo dan Juliet, pikir Mark dalam hati.


"Lalu apa yang akan kau lakukan agar dia tidak marah?"


"Menjauh untuk sementara waktu darinya sampai aku benar-benar siap untuk bertemu kembali dengannya."


"Baiklah, tapi sebagai temanmu aku hanya menyarankan, terkadang perempuan lelah menunggu jika menunggu terlalu lama, ingat bro wanita punya hati dan perasaan jangan sampai perasaan mereka mati." Mark menepuk pundak Ariel pelan lalu beranjak pergi dari sana karena ia ada tugas malam sebentar lagi.

__ADS_1


Ariel duduk termenung mencernai perkataan Mark yang benar adanya, Ariel juga mengakui dan kembali rasa takut menguasai pikirannya.


"Semoga kamu tidak lelah menunggu ku Zia," gumamnya pelan lalu ikut bangkit dari kursinya.


Auxillia menatap ruangannya yang ternyata masih ada Dion di sana, harusnya ia sudah bisa pulang lebih celat karena dia memang baik-baik saja namun karena ia sangat ingin berlama-lama dengan Dion, akhirnya ia memutuskan untuk menetap sampai malam hari. Entah apa yang merasuki pikirannya sampai berbuat sejauh itu.


"Kau sidah bangun?" ujar Dion datar. Ia kembali ke rumah sakit setelah menjemput dan mengantar Elka ke apartemennya. Punya teman tapi merepotkan, walaupun merepotkan tetap sayang.


"Kau masih di sini?" ujar Auxillia basa basi.


Dion tidak menjawabnya karena baginya tidak penting.


"Ku antar kau pulang." empat kata yang mampu membuat jantung Auxillia kembali berdetak dengan cepat.


❤❤❤❤


**Masih mau???


Komen yang panjang wkwkwkwk**

__ADS_1


__ADS_2