
Cally mencoba mengingat sesaat sebelum kejadian. Alya menelponnya dengan nada cemas. Namun, Cally mengabaikan ucapan Alya. Jika Alya sudah seperti itu, artinya ada seseorang yang sudah merencanakan ini semua. Seseorang yang mencoba mengecoh Alya dengan menyakiti Cally, alih-alih dirinya malah Dirga yang kena. Cally berusaha memutar otak. Hanya satu orang yang bisa ia mintai petunjuk. Ia mengeluarkan ponsel dengan apole digigit dan melakukan panggilan.
"Halo, Paman. Ini Cally, ada yang harus kita bicarakan, ini sangat penting! Iya, Paman, kita bertemu di Cafe."
Setelah selesai, ia segera mematikan panggilannya. Dengan pelan ia mengembuskan napas. Ia harus bisa menguak fakta ini. Dengan segera Cally pergi ke tempat tujuan perjumpaan keduanya.
Di lain sisi, Alya menatap nanar figura sang ibu yang sedang menggendongmya dengan wajah ceria. Raut bahagia itu tergambar jelas bahkan mampu menggetarkan relungnya. Damai, dan tentram! Adalah dua hal yang selalu ia temukan saat maniknya menatap mata yang amat meneduhkan.
Ia mengambil poto tersebut lalu memeluk dan menciumnya. "Mama, maafin Alya. Semua demi kebaikan kita semua, Alya harus pergi. Semua ini nggak akan terjadi kalau Alya tidak lahir ke dunia ini. Terima kasih Mama, karena pernah mengandung dan melahirkan Alya."
__ADS_1
Ia mengusap air matanya, dengan mengendap-endap ia melangkah pergi dari kediaman keluarganya. Meninggalkan secarik kertas yang mampu menjungkir balikkan kehidupan Syeilla dan Eiden nantinya.
"Paman, apa Papa atau Mama punya musuh?" tanya Cally dngan serius pada Dion.
Pria itu menatap heran ke arah Cally. "Seingat Paman ada, cuma sudah pada mati semua."
"Paman, yakin?" tanya Cally memastikan. Jika mereka sudah mati semua, lalu siapa yang mencoba mengecoh keluarganya sampai pria yg dia cintai menjadi korban.
"Siapa Paman?"
__ADS_1
"Pria itu teman masa lalu ibumu, kemungkinan pria itu yang sekarang mencoba menganggu keluargamu." terang Dion dengan serius.
Cally terdiam seketika, ia berpikir jika pria itu adalah masa lalu ibunya, maka kemungkinan ada sebuah dendam di antara mereka. Ini pertanda tidak baik.
"Aku harus menyelamatkan keluargaku, Paman."
"Cally, Pamanmu bukan satu, tapi ada banyak. Kami akan membantumu."
Gadis itu tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺