LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Part 46 (S2)


__ADS_3

Elka merenung semalam penuh, ia baru tidur saat jarum jam menunjukkan pukul lima, ia bangun pukul 08:10 WIB, pagi ini ia akan menemui Syeilla untuk minta maaf. Ia seperti kekanakan yang merajuk pada ibunya padahal umurnya sudah cukup tua unyuk melakukan semua itu. Ia sungguh malu, memangnya mau ditaruh di mana wajah tampannya.


Ia segera mandi dan membersihkan diri, sebelum pergi menemui Syeilla ia mampir ke sebuah toko bunga untuk membeli bunga Hyacinth sebagai permohonan maafnya atas tindakannya kemarin malam.


Ia menjalankan mobilnya menuju kediaman Syeilla sambil membawa buket bunga di tangan kirinya.


Jantungnya sempat deg deg an takut dimarahi oleh Aiden yang garangnya mengalahkan induk kucing garong yang janda mendadak.


Ting.... tong.....


Mobilnya sudah di depan gerbang yang terbuka secara otomatis, ia sudah masuk ke pekarangan kediaman Aiden yang mewah, membuat jiwa misqueennya meronta keluar. Apalah dia yang hanya memiliki tabungan 50 miliar.


Mereka berempat berhenti dari kegiatannya saat mendengar suara bel berbunyi.


"Aiden hendak bangun namun ditahan oleh Syeilla, mas nikmati saja makanannya, biar Syeilla yang buka." Syeilla berjalan ke arah pintu, Syeilla membukanya dengan pelan. Di sana sudah berdiri seorang lelaki yang membuat Syeilla menangis sedang mengulurkan sebuket bunga yang melambangkan kata maaf.


Syeilla segera memeluk tubuh Elka, ia terlampau senang hingga tidak menyadari suaminya mengekorinya ke depan pintu. Tatapan Aiden setajam silet yang mengupas tuntas segala gosip artis tanah air yang tiada habisnya, terakhir kabar Lucinta Luna yang dikabarkan hamil membuat Elka merinding tanpa henti.


"Ekhem." Aiden mengisyaratkan agar Elka segera melepaskan istrinya, apa Aiden tidak melihat? Bukan dia yang memeluk, tapi Syeilla.


"Sayang." panggil Aiden dengan lembut, Syeilla sadar dan segera melepaskan pelukannya sembari menatap Aiden dengan sengiran kuda.

__ADS_1


"Ada apa kemari?" aura Aiden tampak tidak bersahabat. Elka menelan susah payah ludahnya yang seperti tersangkut tulang ikan paus.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Syeilla." ucap Elka saat otak kananya sudah kembali lurus. Kini ia sudah mampu berpikir dengan benar. Ia berdehem untuk menetralkan jantung beserta suaranya agar tidak terdengar seperti tikungan tajam.


"Kalau mau berbicara, berbicara saja. Anggap saja aku kecoak nyasar." ujar Aiden masih mempertahankan raut wajah datarnya. Elka mengangguk dengan patuh, toh yang bersangkutan mengatakan anggap saja ia tidak ada.


Mereka pun masuk ke dalam, tepatnya di ruang tamu. Sedangkan Lisa dan Wira memutuskan pergi menikmati masa tua mereka ke sebuah taman yang tidak jauh dari kediaman mereka. Kini tinggal ketiganya di sana.


Seorang pelayan, mengantar minuman ke hadapan ketiganya dengan sopan.


"Terima kasih mbak." ucap Syeilla sambil melempar senyum. Aiden masih melancarkan mata tajamnya saat menatap wajah Elka. Ia sebenarnya tidak tega menatap tajam seperti ini, namun Elka sudah memeluk istrinya sembarangan.


"Sebelum aku memulai, bisakah alihkan mata tajammu dari wajahku?" ucap Elka dengan pelan.


"Apa kau mencoba merebut istriku!" kesal Aiden yang sangat sensitive. Syeilla memutar matanya jengah, namun ia tetap tersenyum menatap suaminya.


"Sayang, bunga ini melambangkan permohonan maaf, bukan makna cinta atau sejenisnya." terang Syeilla, Aiden hanya mangut-mangut tidak jelas. Tatapannya masih pada bunga yang masih dipangkuan istrinya.


Yang namanya bunga tetap saja bunga. Apa bedanya anggrek dengan mawar, melati dengan lily, toh mereka sejenis bunga. Rutuk Aiden dalam hati.


"Syeilla, maaf atas tindakanku tadi malam yang sudah keterlaluan. Aku sadar bahwa aku terlalu kekanakan." Elka menatap Syeilla dengan tulus.

__ADS_1


"Maaf, matanya bisa dikondisikan." intruksinya dengan kesal. Elka menarik napas panjang.


"Kenapa dengan mataku?" tanya Elka yangbsudah kehilangan kesabaran.


"Jangan menatap mata istriku." peringat Aiden sengit.


"Terus, aku harus menatap apanya?" balas Elka tak kalah sengitnya.


"Tatap saja lampu atau taplak meja, yang pasti jangan menatap istriku!"


Syeilla segera beranjak, drama keduanya tidak akan habis sampai 100 episode.


"Aku pergi." Syeilla melangkah pergi dari sana dan meninggalkan keduanya.


Elka maupun Aiden hanya mampu menarik napas panjang.


❤❤❤❤❤


**Maafkan jiwa humorku yang seketika muncul di Season ke dua ini.


Jujur autor sendiri heran mengapa jatuhnya malah ke humor. Padahal autor mau serius nulisnya wkkwkwk.....

__ADS_1


Tapi nggak papa kali ya, sebab projek autor yang akan datang sad story, jadi ada baiknya juga kita senyam senyum dulu.


🎶🎶**


__ADS_2