LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Bab 52 (Season 3)


__ADS_3

Kondisi kesehatan Syeilla menurun, ia drop dan jatuh sakit. Sudah dua minggu semenjak Alya menghilang tanpa kabar. Bahkan pihak polisi juga tidak mendapatkan hasil apa pun. Alya seolah lenyap di telan bumi, tanpa ada satu pun petunjuk yang mereka dapatkan. Aiden menatap sedih tubuh istrinya yang harus terbaring di rumah sakit. Semua hal yang menimpa keluarganya adalah kesalahannya. Andai ia tidak melakukan hal ini, keluarganya pasti masih bisa utuh! Ia sudah gagal menjadi seorang ayah yang seharusnya melindungi putrinya.


tapi malam itu, ia dengan tanpa pikir panjang, menyuruh Alya pergi dari rumah. Betapa jahatnya ia sebagai seorang ayah, putrinya juga pasti masih syok melihat Dirga yang berlumuran darah. Kenapa dia tidak mendengarkan penjelasan Alya pada saat itu, alih-alih mendengarkan, ia malah langsung menghakimi putrinya. Ia tidak ingat kapan terakhir kali memeluk Alya.


"Sayang, maafkan Papa, Papa sangat berdosa karena sudah bersikap tidak selayaknya sebagai seorang Papa."


Cally hendak masuk ke kamar rawat ibunya mengurungkan niat saat mendengar suara tangis ayahnya. Cally tetap berdiri di depan ruangan tersebut, andai saja ia tidaj hadir mengganggu kebahagiaan keluarganya, andai ia bisa memutar waktu dan andai ia bisa memilih, sungguh Cally tidak ingin pernah lahir ke dunia ini.


Keluarganya akan baik-baik saja tanpa dirinya, Alya adalah sumber kebahagiaan ayah dan ibunya. Ia harus mampu mengembalikan kebahagiaan yang sudah ia renggut tanpa ia sadari. Bahkan Dirga yang juga sangat mencintai Alya, ikut ia rebut.


"Al, maafin gue ya," ucapnya sedih.

__ADS_1


Ia mengambil ponselnya yang bergetar di tas slempang kuning kunyit yang ia gunakan. Nama Dirga tertera di sana. Cally tersenyum dan langaung menjauh dari sana dan mengangkat panggilan tersebut.


"Gue mau kita ketemu di taman dekat rumah sakit," ujar Dirga dari seberang telpon.


Cally menatap layar ponselnya yang sudah menghitam, ia tersenyum pahit mendengar Dirga yang tidak menanyakan kabarnya sama sekali. Padahal mereka sudah lama tidak bertemu. Ia bergegas ke taman dan di sana ia sudah melihat Dirga sedang menunggunya. Tidak ada senyuman seperti biasanya dilemparkan oleh pria itu padanya.


"Hai, Dirga," ucap Cally memasang wajah senyum.


Ucapan Dirga bagai sebuah petir yang menyambarnya di siang bolong, Dirga juga perlahan mulai meninggalkannya. Cally tidak memperpanjang masalahnya. Ia tersenyum sedikit dan mencoba mengatur pita suaranya. Ia tidak mau menangis di hadapan Dirga.


"Iya, makasih ya Dirga selama ini lo udah mau jadi temen gue sekaligus pacar gue."

__ADS_1


Cally meraih tangan Dirga, cowok itu tampak kaget dan sedikit tersentak.


"Semoga lo bisa bahagia sama saudara gue."


Cally pergi dari sana dengan berlinang air mata. Kembali ia merasakan rasanya tidak diinginkan. Ia memutuskan untuk menenangkan diri di taman kota. Ia harus menata kembali hati dan perasaannya. Ia memang harus siap hancur kapan saja karena orang jahat sepertinya memang pantas mendapatkan semua itu.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Hayo siapa yg nunggu Cally


Cally sedih yakkk ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

__ADS_1


__ADS_2