
Tit... Tit.... Tit.... Tit...
Suara EKG berbunyi dengan merdu di pagi harinya. Suara itulah yang selalu setia menemani seorang pria yang selalu setia berada di samping wanita tersebut.
Ia terkadang pulang ke apartemennya seminggu sekali, itupun jika ada hal tertentu yang harus ia hadiri.
Seorang dokter masuk ke dalam sambil menghela napasnya dengan berat. Di sisi lain ia sangat salut dengan sahabatnya namun di sisi lain ia juga merasa kasihan.
"Ril, kamu pulang dulu, lihatlah penampilanmu sangat kacau." ujar Mark dengan pelan. Ariel hanya berdehem dengan pelan sambil melihat oenampilannya yang memang sangat kacau.
"Baiklah. Tapi tolong jaga dia dengan baik," peringat Ariel pada Mark selaku dokter yang menangani perempuan tersebut.
"Baiklah, aku berjanji. Sudah pergi sana!" usir Mark dan Ariel pun segera melangkah pergi dari sana unyuk pulang ke apartemennya.
Mark atau nama lengkapnya Karlen Mark Alexi menatap lekat sosok yang sudah dua tahun lamanya menjadi pasiennya, ia berdecak kagum melihat semangat hidupnya yang bahkan jika orang lain ada di posisi pasiennya mungkin sudah lama berpulang. Namun wanita itu sungguh berbeda, itulah yang membuat Mark bertekat untuk menyembuhkannya.
"Kamu tampak seperti wanita baik, sampai-sampai Ariel mau merawat dan menjagamu selama ini." gumam Mark pelan.
Jika dilihat kembali wajah perempuan itu sangat cantik meskipun terlihat tirus dari yang seharusnya namun tetap memancarkan aura kecantikannya.
Ia melakukan kegiatan tersebut selama lebih kurang 20 menit.
__ADS_1
Tok... Tok...
Seseorang mengetuk pintu ruang rawat wanita tersebut dan langsung di suruh Mark untuk masuk.
"Maaf dok, pasien ruangan Matricaria sudah siuman." beritahu suster tersebut dalam bahasa Rusia.
"Saya akan menyuruh dokter Zeno kesana." ujarnya yang langsung di angguki oleh suster tersebut kemudian berlalu pergi.
Mark kembali mengalihkan tatapannya ke arah wanita tersebut. Ia melihat nama yang tertera di ranjangnya yang sebelumnya tidak begitu bermakna baginya.
"Syeilla. Nama yang cantik, sesuai dngan orangnya." gumam Mark tersenyum.
Aiden berjalan dengan gontai memasuki apartemennya. Ia merebahkan tubuhnya yang lelah ke sofa panjangnya dan memejamkan matanya sampai ia tertidur dalam buaian mimpi.
"Kenapa kamu tidak menungguku... Apa kamu sudah lelah selama dua tahun ini? Kenapa kamu tega."
Dengan napas ngos-ngosan ia terbangun dari tidurnya... Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam itu artinya ia sudah tertidur selama satu jam. Namun apa maksud dari mimpinya yang barusan.. Bahkan rasanya sangat nyata.
"Apa maksud semua ini." bisiknya pelan lalu berlalu ke kamarnya karena tubuhnya sudah snagat lengket.
Dion menatap langit malam dengan sendu seolah taburan bintang yang terhampar di pekatnya malam mampu memahami seluruh perasaannya saat ini.
__ADS_1
"Bahkan dari ribuan bintang kau masih yang paling terang dengan sinar kecilmu yang tampak menawan. Bahkan bintang setepelan sirius juga mampu kau kalahkan." kekehnya dengan pelan.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya sebuah suara dengan datar.
Dion tidak menghiraukan kedatangan pria tersebut dan masih lekat menatap bintang yang menurutnya merupakan Syeilla.
"Ck selalu saja menatap bintang sampai air liurmu menetes." decih pria tersebut dengan sinis dan sontak Dion langsung menyapu sudut bibirnya dan tindakannya mampu membuat pria tersebut tersenyum geli.
"Masih sama seperti dulu bro." kekehnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.
Sedangkan Dion hanya menatapnya dengan kesal dan kembali melakukan aktivitasnya yang sempat terganggu.
❤❤❤❤
Kalian masih ingat sama Dion???
Kalian bertanya siapa itu Auxillia?
Kalau Syeilla masih hidup lalu siapakah Auxillia???
Ayo siapa dia... Hahahha
__ADS_1