LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Part 68 (S2)


__ADS_3

Syeilla dan kedua putrinya sedang bermain di ruang tamunya. Sedangkan Aiden sudah berangkat bekerja. Syeilla tampak menanggapi celotehan keduanya dengan gembira.


Ting... tung...


Suara bel berbunyi, salah satu asistennya segera membukakan pintu. "Siapa Mbak," tanya Syeilla masih fokus pada kedua bayinya.


"Bilang saja teman lama," ujar orang tersebut sambil tersenyum ramah.


Pembantunya segera memberitahu sambil mempersilahkan keduanya masuk setelah disuruh oleh Syeilla.


"Mbak, tolong jaga mereka sebentar, ya." Syeilla segera melihat tamu yang bertandang ke rumahnya.


"Selamat siang," sapa Syeilla dengan lembut. Keduanya tampak takjub melihat betapa sopan wanita yang kini ada dihadapan mereka.


"Siang. Nak Syeilla," sapa keduanya sambil tersenyum.


Syeilla pun ikut tersenyum dan mempersilahkan keduanya duduk. Sebenarnya Syeilla sempat kaget saat mereka mengetahui namanya. Namun, ia tidak beetanya lebih lanjut. Pasti nanti akan ada penjelasannya.


Mereka mengamati Syeilla dengan seksama. Rumah sebesar ini dihuni oleh nyonya yang berpenampilan sederhana. Mereka salut sekaligus kagum melihatnya.


"Nak, kami berdua adalah teman dari almarhum kakekmu. Perkenalkan saya Dimitri dan ini istri saya Alia." Wajah tua itu tersenyum lembut ke arah Syeilla.


"Ah, benarkah. Salam kenal, bagaimana saya harus memanggil kalian?" tanya Syeilla. Keduanya mengingatkan dia pada almarhun kakek serta kakek dan neneknya Aiden yang kini sudah kembali ke Rusia.


"Panggil saja seperti kamu memanggil kakekmu, Damian." ujar Dimitri membuat perasaan hangat mengalir deras di sanubarinya.

__ADS_1


"Terima kasih karena sudah memperkenankan saya memanggil kalian dengan sebutan kakek dan nenek," ujar Syeilla terharu membuat keduanya tersenyum lembut.


Bayangan akan kasih dan sayang dari kakeknya melintas jelas diingatannya. Seorang lelaki yang telah berjuang untuknya meski dengan cara tersembunyi.


"Kalian berdua mengingatkan saya pada almarhum kakek dan..." kalimatnya terhenti saat bibirnya hendak menyebut nama neneknya. Namun kembali ia urungkan.


"Keduanya tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga Damian. Karena Damian sendiri pernah memberitahunya. "Tidak perlu disebutkan bila kamu tidak nyaman sayang," ucap Alia lembut sembari mengusap pundak Syeilla memberinya kekuatan.


"Terima kasih, Nek," ucapnya dengan tulus.


"Silahkan Nyonya dan Tuan," pembantu Syeilla membawakan dua cangkir minuman untuk keduanya.


"Terima kasih," ucap mereka membuat Syeilla kagum. Keduanya tidak menunjukkan status yang lebih tinggi seperti kaum pada umumnya.


"Siapa namanya, Kek," tanya Syeilla. Keduanya tersenyum.


"Namanya...,"


"Selamat siang,,," teriak suara dari arah pintu. Bahkan sumbernya tidak hanya dari satu suara tapi lebih.


"Eh, ada tamu hehhee," kekeh Elka dan segera menyalami keduanya.


Aiden, Elka, Ariel masuk terlebih dahulu sambil membawa beberapa bingkis makanan untuk dijadikan cemilan. Ada juga beberapa mainan untuk kedua putri Aiden.


Zia masih tertinggal di belakang sambil menemani Salma dan Auxillia yang sedang dalam kondisi hamil. Sedangkan Dion masih berada di kantornya. Ia menitipkan istrinya pada Zia dan Salma. Setelah selesai ia akan segera menyusul.

__ADS_1


"Hati-hati," ucap Salma, mereka bertiga memasuki ruang tamu sambil bercanda. Begitupun dengan mereka yang saat ini sudah bergabunf bersama Syeilla, Dimitri dan Alia.


Callia dan Callyasta sudah di monopoli oleh Elka yang senantiasa mengerami keduanya. Ia mengeluarkan mainan yang ia beli khusus untuk keduanya.


Pandangan mereka semua beralih ke arah datangnya ketiga wanita cantik. Termasuk Alia, ia tampak kaget melihat cucunya turut hadir dengan perut yang tampak membesar.


"Cucu, Nenek" pekiknya dan langsung bangun menghampiri Auxillia yang juga tampak terkejud.


"Nenek sama Kakek kapan datangnya, kenapa tidak memberitahu?" rengek Auxillia dengan manja. Mereka yang ada di sana menjadi bengong. Apalagi Syeilla.


"Jadi Auxi, cucu yang kalian maksud Nek?" tanya Syeilla dengan terpana. Mereka berdua mengangguk. Alia dan Auxillia.


"Ayo kita bermain ini," Elka membuka mainannya sambil bersenandung riang.


Keduanya tampak bingung dengan apa yang Elka tunjukkan. Bahkan bulu hidung Elka terasa lebih menarik dari permainan unfaedah yang ia belikan.


Keduanya menggerayangi wajah Elka dengan gemas. Tangan Callia bahkan sudah masuk dalam lubang hidung Elka. Setelah selesai Callia memasukkannya ke dalam mulut Elka membuat lelaki itu histeris saat rasa asin menyentuh ujung lidahnya.


Keduanya terkejud dan menangis. Sontak Aiden si harimau jadi-jadian segera menghampiri biang kerok yang sudah menyebabkan kedua putrinya menangis. Andai Aiden memiliki cakar serta taring mungkin bagian yang tersisa dari Elka hanya bulu ketiaknya yang panjang dan sedikit bergelombang.


Salma beberapa kali menyuruhnya untuk mencukur bulu ketiaknya. Namun, kata Elka sayang. Mereka sudah dianggap seperti peliharaan sendiri.


❤❤❤❤❤


Mata mengantukkkk... Maaf kalau banyak typo... Ini aku nulisnya jam 2 malam wkwkwkkw...

__ADS_1


__ADS_2