
Guys mungkin setelah part 35 autor tidak akan up selama beberapa hari karena harus mengedit naskah Lost My Heart untuk proses penerbitan mengingat novelnya juga belum selesai jadi autor harus menyelesaikan itu terlebih dahulu. Terima kasih untuk pembaca setia Lelah
******
Elka berjalan dengan cepat menuju ruangan Syeilla. Jantungnya hampir copot saat mengetahui jantung Syeilla sempat berhenti berdetak. Ia seharusnya baru pulang lusa namun ia memutuskan segera kembali karena mendapat sebuah pesan dari nomor yang tidak ia kenal.
Saat sampai di lorong menuju ruangan Syeilla ia melihat seorang lelaki sedang memukul kepalanya dengan kuat dan tentu hal itu menarik perhatian Elka lalu tak lama setelah itu ia melihat seorang dokter keluar dengan wajah seriusnya dari ruangan Syeilla. Elka masih belum menampakkan dirinya dan masih mengamati percakapan keduanya.
Swtelah melihat kepergian dokter pun ia segera menghampiri lelaki yang hampir mencelakai Syeilla yang ternyata teman lamanya.
"Apa kau sudah puas?" tanya Elka dengan tatapan membunuh pada lelaki yang dulu menjadi sahabat baiknya itu.
"Elka aku, aku sangat bodoh" ujarnya sembari menatap Elka dengan sedih.
"Memangnya sejak kapan kau pintar. Bukankah sudah aku katakan untuk jangan menyakitinya tapi kau masih saja dengan dendam bodohmu" maki Elka dengan sengit.
"Ah dan jangan lupakan satu hal Dion dia wanita yang sangat baik, kuat dan tangguh. Kau tau? Dia bahkan masih bisa bertahan hingga sekarang dan melawan penyakitnya demi kedua bayinya tapi kau malah kembali menghancurkan impiannya!" desis Elka dengan tajam.
"Apa maksudmu Elka?" tanya Dion sembari memegang kerah leher Elka meminta jawaban.
"Kalau kau ingin tau jawabannya maka cari sendiri. Bukankah kau ahli akan hal ini!" selesai mengatakan kalimatnya Elka pergi meninggalkan Dion yang saat ini mematung di tempatnya.
Begitulah Elka, ia tidak menyukai kekerasan tapi sebuah kalimat dari mulutnya mampu membuat lawannya bungkam seribu bahasa karena baginya lidah lebih tajam daripada pedang.
*****
Aiden segera mengakhiri rapatnya saat sebuah panggilan masuk dari Elka dan jantungnya hampir copot saat mendengar penuturan Elka mengenai Syeilla yang jantungnya sempat berhenti berdetak. Demi apapun ia tidak akan sanggup jika harus kehilangan untuk yang kedua kalinya. Ia tidak mau itu terjadi.
Dengan tergesa-gesa ia segera menuju ruangan Syeilla sesaat setelah ia sampai ke rumah sakit.
"Bagaimana kondisinya?" ujar Aiden dengan wajah khawatirnya.
"Sudah di tangani oleh dokter dan jantungnya sudah kembali berdetak" ujar Elka dengan datar.
"Syukurlah" lega Aiden penuh syukur.
__ADS_1
"Kita harus siap dengan apapun yang akan terjadi ke depannya" ujar Elka dengan pelan.
"Apa maksudmu?" tanya Aiden meminta penjelasan.
"Penyakitnya sudah stadium 4 dan harapan kita sudah tipis" ujar Elka dengan pelan. Sebagai seorang dokter ia tau betul mengenai kemungkinan ini.
"Apa maksudmu Elka. Syeilla pasti akan segera sembuh" geram Aiden dengan marah.
"Tugasmu sekarang hanya satu. Bahagiakan Syeilla selagi kau sempat. Jangan menunggu pria lain datang untuk membahagiakannya" selesai dengan kalimatnya ia segera pergi dari sana meninggalkan Aiden yang masih menatapnya dengan geram. Namun mengiyakan kalimat Elka untuk membahagiakan istrinya.
Di kediaman keluarga besar Elena mereka masih diliputi duka setelah ditinggal pergi Aisyah kurang lebih sepuluh hari. Elena juga masih dalam mode berduka.
"Permisi" teriak seseorang dari depan pintu rumah yang besar tersebut dan Elena pun segera membukanya.
"Permisi bu ini ada sebuah paket dari seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya" ujar pembawa paket tersebut sembari menyerahkan kertas tanda terima kemudian memberikan paket tersebut yang berupa amplop berukuran besar.
"Terima kasih" ucap Elena kemudian berlalu ke dalam rumah mamanya dengan amplop di tangan kirinya.
"Siapa sayang?" tanya Lita saat melihat putrinya baru saja masuk dan membawa sebuah amplop di tangan kirinya.
"Ada paket pa tapi tidak ada tertera namanya disana" ujar Lita pada Johan suaminya yang langsung mengambil amplop tersebut yang di berikan Elena padanya.
Mereka pun segera menuju ke sofa ruang tamu lalu Johan segera membukanya dengan perlahan. Pertama yang ia lihat adalah sebuah foto yang mampu membuat jantungnya memompa dengan cepat. Bahkan amplop itu pun jatuh dari tangannya.
"Ada apa pa?" tanya Lita namun matanya melihat sebuah poto yang membuat suaminya gemetar.
"Apa ini semua?" tanya Lita dengan wajah tak percayanya.
"Mama ini pasti tidak benar" ucap Elena dengan sedih.
Bagaimana mungkin sosok nenek yang ia anggap selama ini baik nyatanya menyimpan sebuah rahasia yang menurutnya sangat menjijikkan. Disana terlihat Aisyah sedang berpelukan mesra dengan seorang lelaki yang tidak ia kenali namun umurnya sepantaran dengan almarhum kakeknya.
"Sayang" teriak Altaf dari arah pintu masuk namun tidak ada yang menjawabnya. Ia pun langsung menuju ruang tamu dimana ketiganya berada dengan pikiran masing-masing.
"Sayang ada apa?" tanya Altaf dengan lembut namun tangisan Elena membuatnya khawatir akan suatu hal yang buruk.
__ADS_1
"Sayang kamu kenapa? Apa ada sesuatu yang membuatmu menangis seperti ini?" kembali Altaf bertanya dengan nada khawatirnya.
"Mas ini, kamu lihat ini mas hiks" tangis Elena sembari memberikan lembaran foto pada Altaf dan Altaf pun sempat kaget melihatnya.
"Sayang kamu tenang ya, mungkin saja ini hanya editan orang iseng. Jaman sekarang teknologi sudah cangggih jadi bisa saja ini hanya hasil di rekayasa" ujar Altaf menenangkan istrinya.
"Tidak mungkin mas, kamu lihat ini bahkan ada tanggalnya disana dan itu artinya nenek sudah menyelingkuhi kakek bertahun-tahun lamanya" isak Elena dengan sedih.
"Kenapa nenek tega melakukan ini pada kakek mas. Kakek adalah sosok yang baik dalam keluarga ini tapi kenapa bisa seperti ini" Altaf membawa istrinya ke dalam dekapannya dan mengelus kepala Elena dengan pelan sembari membisikkan kata-kata penenang.
Di rumah sakit tempat Syeilla dirawat Zia sudah mengamuk dengan murka saat mengetahui kabar mengenai Syeilla yang hampir kehilangan nyawanya.
"Apa kalian semuanya tidak bekerja dengan becus hah!" teriaknya pada semua staff yang ada disana.
"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Syeilla apa kalian mau bertanggung jawab. Sudah bosan hidup kalian semuanya!" teriaknya kembali murka. Air matanya jatuh dengan perlahan membasahi wajah bengisnya.
"Saya tau bahwa kalian tidak terikat apapun dengannya tapi ingat tugas kalian sebagai seorang perawat selain merawat kalian juga harus memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi pada pasien. Kalau kalian telat sedikit saja bagaimana? Bagaimana?" teriak Zia dengan wajah memerah kemudian ia jongkok sambil menutup wajahnya dengan bahu bergetar. Ariel yang melihatnya pun segera membawa Zia ke pelukannya. Ia tau betul bagaimana arti seorang Syeilla dalam hidup Zia.
"Kalian pergilah dan pastikan kejadian seperti ini tidak terulang kembali" ujar Ariel dan membubarkan mereka yang sudah berwajah pucat.
"Ssttt Syeilla akan baik-baik saja" ucap Ariel menenangkan.
"Aku tidak mau kehilangan Syeilla Ril aku tidak mau" tangis Zia dengan sesegukan.
"Aku tau kamu sangat menyayanginya. Kita akan meningkatkan penjagaannya dengan ekstra lagi dan sepertinya kita harus menyewa dua orang yang cukup profesional" ujar Ariel pada Zia, lalu Zia mengangkat kepalanya dengan pelan.
"Aku akan menyewa dua orang untuk menjaga Syeilla selama 24 jam. Aku tidak mau ada orang yang berniat mencelakainya lagi" ujar Zia dengan ngan hidung semerah tomat dan suara yang sudah serak.
"Inilah Zia ku yang mampu melakukan apapun untuk Syeilla nya. Nah sekarang ayo kita melihat Syeilla tapi sebelum itu cuci dulu wajah badutmu ini" kekeh Ariel sembari menjawil hidung Zia dengan gemas.
"Kau!" dengus Zia tapi tetap mengikuti saran Ariel untuk segera membersihkan wajahnya.
"Kau sangat lembut dan baik hati Zia" ujar Ariel dengan pelan dan menatap tubuh Zia yang sudah menjauh dengan sendu.
❤❤❤❤
__ADS_1