LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Bab 59 (Season 3)


__ADS_3

Aiden mendapat sebuah panggilan dari salah satu temannya yang bekerja sebagai detektif swasta. Bibir Aiden melengkung menyerupai bulan sabit, saat mendengar kabar dari temannya. Lokasi keberadaan Cally dan penculiknya sudah diketahui. Aiden bergegas pergi menemui istrinya.


"Sayang, ada kabar gembira. Putri kita sudah ditemukan," ucap Aiden senang.


Syeilla yang mendengar kabar ini menjadi sangat bahagia. Ia tidak sabar ingin bertemu segera dengan putrinya. Rasa rindu sudah menggerogoti. Alya ikut tersenyum bahagia. Ia ingin memperbaiki hubungan mereka ke depannya. Ia ingin menjadi saudara yang bisa selalu membahagiakan Cally. Pengorbanan yang tulus tidak akan pernah bisa ia lupakan. Demi sang Mama, Cally tidak takut akan kematian jika semua menyangkut sang ibu.


"Mas, aku ikut ya," ucap Syeilla memohon.


"Sayang, kamu di rumah aja, ini bahaya karena kita berurusan sama penjahat. Alya, kamu ikut sama Papa ya."


Syeilla harus pasrah karena ini memang demi kebaikannya. Ia mengangguk lemah dan melihat kepergian mereka dengan lantunan doa yang dia baca tanpa henti.


Di sinilah mereka, di tempat yang kata Marten tidak akan bisa siapa pun menemukan mereka. Nayatanya rumah kecil itu sudah dikepung habis-habisan oleh pihak kepolisian yang berpengalaman. Tampilan mereka juga tidak sedang memakai baju dinas.


Seorang ketua memberi aba-aba pada anggotanya yntuk menyelinap masuk tanpa diketahui dan mereka hampir semuanya memiliki pengalaman yang luar biasa. Marten bahkan tidak sadar bahwa ada orang lain di dalam rumah tersebut. Di sana ia terlihat sedang menutup mata Cally dan mengikatnya ke sebuah kursi. Tujuannya adalah membuat sebuah video dan setelah itu ia akan membunuhnya.


Marten berdiri di depan Cally sambil meletakkan sebuah kamera lengkap dengan tripod. Ia akan memulai videonya.

__ADS_1


"Selamat malam keluarga Aiden yang terhormat," ejeknya sambil tertawa.


Keringat dingin mengucur keras dari pelipisnya, Cally sangat ketakutan. Namun, ia mencoba menahan dan tetap terlihat santai. Marten tersenyum melihatnya.


"Jadi, bagaimana kalau aku menyiksa putrimu, kau pasti akan sangat marah, iya kan." tawa Marten kembali membahana membelah kesunyian.


Jantung Cally berdegup kencang, di sinikah ajalnya akan menjemput. Setidaknya ia ingin bertemu untuk yang terakhir kalinya dengan sang ibu dan ayahnya. Lalu suara dobrakan pintu dan todongan senjata api mengarah pada Marten yang sangat kaget. Ia baru saja akan berlari ke arah Cally. Namun, segera ditahan oleh pria bertubuh besar.


"Angkat tanganmu!"


Ikatan Cally berhasil dilepas beserta penutup matanya. Ia sangat kaget saat melihat Marten sudah dibekuk dengan kasar. Alya dan Aiden turut masuk ke dalam dan memeluk Cally dengan sangat bahagia. Bahkan Alya sampai dibuat menangis. Aiden berjalan ke arah Marten yang menatapnya sangat tajam. Aiden menepuk pundak Marten dan berkata.


"Ada satu hal yang harus kamu ketahui, Marten. Kematian ibumu tidak ada sangkut pautnya dengan kami. Jeslyn adalah wanita yang sangat baik. Tuhan juga memanggilnya dengan cara yang baik."


"Kau pendusta! Ibuku mati karena mendonorkan jantungnya pada istrimu!" teriak Marten marah.


"Itulah kebenarannya Marten, ibumu memiliki riwayat penyakit jantung, bagaimana mungkin dia bisa mendonorkan jantungnya pada orang lain."

__ADS_1


"Marten dengarkan paman, siapa pun yang sudah membuatmu berpikir bahwa Jeslyn meninggal karena keluarga kami, maka orang itulah yang pendusta Marten."


Marten tampak berpikir panjang, ia ingat terakhir neneknya lah yang memberitahu hal ini. Jadi selama ini nenek yang sangat ia sayangi telah membohonginya. Marten tampak menangis dan mendekati Cally beserta Alya. Ia memohon maaf atas apa yang sudah ia lakukan.


"Marten, kamu nggak salah, karena ini murni kesalahpahaman yang ditimbulkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab."


"Marten, Cally benar. Kamu sebenarnya cowok yang baik tapi kamu terluka," ucap Alya memberi kekuatan melalui tatapannya.


Marten tersenyum menatap keduanya. "Terima kasih, berkat kalian aku jadi tahu kebenarannya."


Cally dan Alya mengangguk bersamaan. Semua hal yang terjadi pada mereka selalu ada hikmahnya. Seandainya mereka tidak diculik, mungkin Marten akan memendam dendam seumur hidup dan kebenaran tidak akan pernah terungkap. Terkadang untuk mencri kebenaran, kita butuh jalan yang salah untuk memberi pelajaran berharga.


----------


TAMAT


tunggu extra part selanjutnya....

__ADS_1


__ADS_2