LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Part 38 (S2)


__ADS_3

Elka mengajak Dion bertemu dan di sinilah mereka kini berada. Sebuah cafe yang terletak di pinghir jalan, namun memiliki nuansa yang menarik nan indah.


"Ada apa?"


Dion duduk sambil menatap keluar dengan pikiran berkecamuk. Ia tampak tidak berminat sama sekali.


Namun karena Elka memintanya ia akhirnya datang.


"Ada apa dengan wajah busukmu?"


Dion mendelik kesal ke arah Elka yang saat ini sudah menyengir kuda di kursinya.


"Aku tidak banyak waktu untuk mendengarkan bualanmu."


Elka menatap wajah Dion dengan serius.


"Menurutmu jika jantung berdegup kencang, tandanya apa?"


Dion mengernyitkan dahinya dengan heran.


"Kau seorang dokter, harusnya lebih tahu dari pada aku." Dion memutar bola matanya dengan kesal.


"Kau benar. Tapi masalahnya dalam ilmu kedokteran tanda-tanda tersebut tidak masuk dalam kategori apapun." desahnya dengan lesu.


"Coba kau tanyakan pada rumput yang bergoyang." Dion kembali melayangkan tatapannya ke luar.

__ADS_1


"Apa kau sedang ada masalah?" Elka memulai introgasinya.


"Tidak ada, kau tidak perlu memikirkan masalahku. Pikirkan saja masalah jantungmu. Jangan sampai kau stadium akhir." Dion segera pergi dari sana dan meninggalkan Elka yang ketakutan.


"Hei, aku belum selesai bercerita!" teriaknya sehingga membuat beberapa orang menataonya dengan aneh.


"Sorry." ujarnya dan langsung menyusul Dion yang sudah menghilangbterlebih dahulu setelah selesai membayar minuman mereka.


"Kemana makhluk itu." dengus Elka dan membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh dari sana sambil mencak-mencak. Padahal ia belum sempat bercerita.


Dion menyembulkan kepalanya dari balik tembok, setelah tidak melihat sosok Elka ia segera pergi dari sana dengan napas lega. Ia tau ini sangat memalukan, tapi hanya itu satu-satunya cara intuk menghindari Elka.


Dion berjalan dan matanya menatap sosok yang sangat ia kenal, ia berjalan dengan cepat ke arah wanita yang tampak sedang berbincang dengan sahabatnya. Tubuhnya tepat membelakangi Dion.


"Auxillia." panggil Dion membuat wanita tadi membalikkan tubuhnya dan tersenyum.


"Sebenarnya di mana kau?" tanya nya lebih pada diri sendiri.


Ia kembali berjalan dengan langkah lunglai, sudah satu minggu lebih ia tidak melihat Auxillia, bahkan keberadaan wanita itu pun tidak bisa ia endus.


Dion menghela napasnya dengan kasar dan pergi dari sana.


"""""'""


Elka berjalan namun sesekali mulutnya berubah ekspresi seperti cemberut, manyum, kesal. Ia menjadi tatapan gratis para ibu-ibu yang kebetulan lewat di sana.

__ADS_1


"Dion benar-benar menyebalkan, setelah mengatakan aku stadium akhir, dia malah pergi begitu saja. Cih!" dengusnya.


Bruk


Mata Elka membulat saat matanya melihat wanita yang tempo hari ia tabrak di museum.


"Hai..." ucapnya dengan wajah berseri.


"Kalau jalan jangan sambil tidur, kerjaan nabrak irang aja." dengus wanita tersebut dan langsung pergi dari sana. Elka speechless di tempatnya. Padahal saat di museum wanita itu baik-baik saja. Jantungnya kembali berdetak tak karuan. Ia semakin takut jika apa yang dikatakan Dion akan kejadian.


"Ada apa dengannya. Terakhir bertemu dia baik-baik saja." Elka tidak habis pikir dengan wanita tersebut.


Namun satu yang ia simpulkan dari lertemuan mereka.


"Kami pasti berjodoh." kalimat tersebut tidak pernah alfa ia ucapkan. Lagi pula pernikahan Ariel dengan Zia akan segera dilaksanakan. Mereka bersua juga sudah kembali ke Indonesia. Namun sebelum ia kembali ke Indonesia, bukankah ada baiknya ia memperjelas hubungannya.


"Tunggu, apa Elka benar-benar berharap wanita tadi adalah jodohnya. Pede sekali dia." bisik setan di bahu kirinya yang tersenyum mengejek.


"Kau tidak boleh merendahkannya, meskipun dia tampan tapi dia jomblo sejati yang kurang laku dipasaran." balas hantu putih di bahu kanannya.


"Sama saja dodol." kedua hantu tersebut kembali bermusuhan.


❤❤❤❤❤


Kalian mungkin bertanya-tanya kenapa aku nggak up..

__ADS_1


Huh filek kembali melanda saat tubuh terserang dingin dan itu udah dari tadi pagi... Ngeselin yakk...


__ADS_2