LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Part 31


__ADS_3

Syeilla masih terbaring lemah di ruang ICU bahkan tidak ada tanda-tanda kemajuan apapun. Aiden selalu menyempatkan diri untuk melihat Syeilla di sela kesibukannya mengurus perusahaannya. Tabiat yang suka marah kini tidak lagi terlihat oleh karyawan perusahaannya. Aiden cenderung menjadi pendiam dan tak tersentuh oleh siapapun.


Seperti saat ini ia sedang berada di perusahaannya. Sebuah ruangan yang bertuliskan CEO. Ia memandang lekat dua pigura yang setiap kali ia memandangnya akan menimbulkan sesak berkepanjangan. Syeilla dan twins.


"Maafkan papa sayang. Papa sudah jahat bahkan tidak pernah memberi kalian perhatian sekecil apapun. Apa ini balasan kalian dengan meninggalkan papa. Apa ini juga balasan mama kalian sehingga lebih betah tidur daripada melihat wajah papa" ujarnya dengan tatapan sendu. Air matanya juga ikut mengalir saat mengingat wajah damai kedua anaknya yang kini sudah berada di surga.


Tok tok


Bunyi suara ketukan pintu ruangannya pun terdengar. Ia segera menyimpan kedua pigura tersebut.


"Maaf pak sekretaris bapak sudah menunggu di luar. Apa beliau bisa masuk" ujar seseorang dari bagian HRD dengan sopan.


Aiden hanya memberikan isyarat tanda bahwa ia menyuruhnya masuk.


Seorang wanita cantik dan seksi terlihat masuk kesana dengan pakaian minimnya. Make up yang tebal ditambah polesan bibir yang semerah darah. Aiden menatapnya dengan tatapan dingin.


"Selamat pagi pak" sapa wanita tersebut dengan gerakan sensual.


"Kalau begitu saya permisi pak" ujar karyawan laki-laki tersebut dengan sopan.


"Tunggu" ujar Aiden sambil menatap karyawan tersebut dengan datar.


"Apa kalian tidak becus dalam bekerja? Aku mencari seorang sekretaris bukan wanita panggilan" desis Aiden dengan tajam sembari menilai semua yang dikenakan oleh wanita tersebut.


"Tapi pak dialah yang paling kompeten di antara semua yang melamar" bela karyawan tersebut.


"Apa kau sudah bosan bekerja?" masih banyak orang yang siap menggantikan posisimu" ujar Aiden dengan dingin.


"Maafkan saya pak" jawabnya dengan takut.


"Aku mau kau mencari sekretaris laki-laki tapi jika kau mengecewakanku untuk kedua kalinya maka tanggung sendiri akibatnya" marah Aiden dan menatap wanita tersebut dengan dingin.


"Bawa dia, saya tidak ingin melihatnya. Dan kau? Ini bukan diskotik tempatmu mencari kesenangan" tunjuk Aiden pada wanita tersebut sehingga membuatnya hampir menangis.


Ia dan karyawan lelaki itu pun segera pergi meninggalkan ruangan Aiden dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


"Memuakkan" desis Aiden lalu kembali mengambil pigura istrinya dan menatapnya dengan sendu.


"Sayang. Apa kau masih marah?" tanya nya pada angin yang seolah membisikkan sumpah serapah padanya.


******


Aisyah berjalan dengan angkuh di lobi perusahaan milik Roy. Ia juga segera memasuki lift dan menuju ruangan Roy berada namun ia tidak mendapati sekretarisnya di mejanya dengan kesal ia pun masuk dan mendapati kedua sejoli tersebut sedang memadu kasih di dalam sana.


"Brengsek. Dasar wanita murahan!" teriak Aisyah pada sekretaris Roy lalu menatap Roy dengan tajam.


"Aku tidak bisa menerima penghianatan ini Roy. Tunggu balasan dariku" ancam Aisyah lalu segera keluar dari sana sambil membanting pintu dengan kuat.


"Bagaimana ini bos?" tanya sekretarisnya dengan khawatir.


"Tenanglah sayang putra ku akan segera membereskannya. Aku juga sudah muak melihatnya yang selalu merasa dialah segalanya.


Roy mengeluarkan telpon pintarnya dari saku jasnya dan segera melakukan panggilan.


"Halo son. Papa ada pekerjaan untukmu. Habisi wanita yang bernama Aisyah karena dia sudah tidak lagi berguna untuk kita" ujarnya pada seseorang di seberang telpon.


"Dion akan segera mengurusnya untuk kita sayang" ujar Roy dan kembali melanjutkan aktivitas mereka.


Dion segera memberi isyarat pada mobil yang mengikuti nya dari belakang untuk menabraknya sedangkan ia akan menabraknya dari depan menggunakan sebuah truk.


"Sekarang" perintah Dion dan mobil yang di belakangpun segera memojokkan mobil Aisyah dengan cara menabraknya hingga mobilnya oleng kekanan sedangkan Dion datang dari arah depan dan menghantam mobil tersebut hingga ringsek dan jatuh ke jurang.


Aisyah bahkan tidak sempat mengelak saat tabrakan itu terjadi, dengan posisi kakinya terjepit ia bahkan tidak mampu mengeluarkan dirinya karena tidak lama setelah tabrakan sebuah truk menghantamnya dari depan dengan keras.


Booom....


Terjadi sebuah ledakan setelah mobilnya menyentuh dasar jurang bahkan tim evakuasi akan kesulitan menjangkaunya dan mungkin mayat Aisyah tidak akan dikenali. Setelah pekerjaannya beres ia segera menelpon Roy untuk melapor.


"Mission complete" ujarnya dan mengirim sebuah gambar pada papanya lalu segera pergi dari sana menggunakan mobil lain yang dibawakan oleh anak buah papanya. Sedangkan truk yang ia kemudikan tadi dibawa suruhannya ke tempat pemusnahan mobil rongsokan.


"Satu masalah beres. Sayang karang tinggal satu lagi. Syeilla" gumamnya sambil menyeringai keji.

__ADS_1


"Ah kalau aku menghabisinya sekarang, bukankah tidak akan seru karena tidak bisa melihat wajah kesedihannya. Baiklah Syeilla aku tidak akan mengganggumu sampai kau kembali sadar" kekehnya dan berlalu menuju apartemen kesayangannya sembari menonton berita yang sebentar lagi akan ditayangkan.


"Home sweet home" teriaknya dengan senang.


Senja pun kini telah menjelma menjadi malam dan tepat pukul 23:00 Aiden baru sampai ke rumahnya setelah ia sebelumnya mampir ke rumah sakit untuk sekedar melihat istrinya.


Ia segera merebahkan dirinya di ranjang empuknya dan memejamkan matanya dan tertidur karena kelelahan. Bahkan ia masih belum berganti pakaian sama sekali.


"Sayang jangan lari-lari" teriak seorang wanita cantik dengan gemas bercampur khawatir saat kedua bayi kecilnya berlari dengan langkah cadelnya.


"Mama.. mama.. mama" ucap keduanya memanggil wanita cantik itu dengan suara khas bayinya.


"Gendong" ucap keduanya dan wanita itupun menggendong kedua bayinya dengan wajah bahagianya.


"Sayang" teriak seorang lelaki dengan wajah sendu. Ia hendak melangkah ke tempat ketiganya berada namun ada saja buah penghalang tak kasat mata menghalangi jalannya. Ia terus berteriak memanggil wanita tersebut.


"Sayang" teriaknya hampir putus asa karena wanita yang ia panggil tak kunjung melihatnya.


"Sayang" teriaknya untuk terakhir kalinya sebelum wanita itu menatapnya dengan senyuman yang terpatri indah. Ia kemudian melambaikan tangannya seolah hendak pergi dari sana.


Wanita itu berkata padanya sebelum melangkah dan menjauh dari lelaki itu hingga membuat lelaki itu menangis.


"Aku sudah bahagia disini bersama mereka" dan bayangan wanita itu pun hilang dari pandangannya.


"Tidak, tidak Syeilla.... " teriaknya dan terbangun dengan napas ngos-ngosan.


Sebuah panggilan masuk ke telpon pintarnya. Ia segera menjawab setelah melihat nama yang tertera disana.


"Halo"


Handphone nya pun jatuh begitu saja dari genggamannya. Ia segera berlari sambil menggenggam kunci mobilnya lalu mengemudikannya dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di rumah sakit. Ia segera menemui dokter yang menelponnya demgan napas memburu.


"syukurlah masih bisa diselamatkan pak, telat sedikit saja nyawa pasien tidak akan tertolong" ujar dokter tersebut dengan lega kemudian pergi dari sana.


Aiden menatap sendu tubuh yang kini masih terbaring lemah dari balik pintu ruangan tersebut. Matanya memancarkan ketakutan, kekhawatiran dan keputusasaan disana. Bagaimana kalau istrinya ikut meninggalkannya, bagaimana kalau mimpinya adalah sebuah pertanda buruk baginya, banyak pertanyaan dalam kepalanya yang membuatnya begitu takut akan semua kemungkinan yang akan terjadi.

__ADS_1


Sungguh ia tidak akan pernah sanggup jika harus kembali kehilangan. Kehilangan kedua bayinya saja sudah menjadi mimpi buruk dan pukulan terpahit dalam hidupnya jika ditambah dengan Syeilla, tidak ia tidak akan pernah bisa lagi bernapas dengan benar.


❤❤❤❤❤


__ADS_2