LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Part 2 (S2)


__ADS_3

Aiden berjalan keluar dari Bandara International Airport Sheremetyevo, Rusia. Ia melihat seseorang yang sekiranya berusia 23 tahun sedang memegang sebuah kertas bertuliskan namanya. Ia segera menghampirinya.


"Ayo." ujarnya tanpa basa basi karena baginya itu tidak penting sama sekali. Pemuda yang tadi membawa papan namanya yang terbuat dari kertas segera mengikutinya tanpa mencoba menyela. Ia sudah mengetahui sifat tuan barunya ini yang terkenal dingin.


"Jalan pak." ujar pemuda tersebut dengan sopan. Di mobil juga ia tidak berniat membuka suaranya, ia takut di cap sebagai pria yang terlalu banyak bicara. Ia tidak ingin menciptakan imej yang tidak baik yang berujung kehilangan pekerjaannya.


Aiden menatap datar suasana kota Moscow, ia hanya diam tanpa berniat mengeluarkan sepatah dua patah dari bibirnya.


Mereka akhirnya sampai setelah menempuh sekitar 20 menit ke apartemenya yang berada di jantung kota Moskow. Setelah sampai Aiden langsung menuju apartemennya dan meninggalkan pemuda tersebut yang masih menatapnya dengan kosong lalu ia pun segera beranjak.


Aiden sudah berada di depan pintu apartemennya, ia langsung memasukkan beberapa digit nomor yang diberikan oleh pemuda yang tadi menjemputnya ke bandara.


Ia menatap kosong ruangan yang tampak besar dan mewah sambil menghela napasnya dengan pelan.


ia merebahkan dirinya di sebuah sofa berwarna kuning emas di ruang tamunya.

__ADS_1


Ia menatap langit-langit dengan kosong.


"Andai kau bersamaku saat ini sayang." lirihnya saat mengingat istri yang sangat ia cintai dari dulu hingga sekarang.


"Apa kau bahagia sekarang? Hah kau pasti sangat bahagia di sana karena ditemani oleh kedua anak kita." kekehnya dan sebulir air matanya jatuh tanpa ia undang.


"Air mata ini masih saja jatuh meskipun sudah berlalu selama dua tahun." kekehnya yang entah kenapa terdengar sangat menyakitkan.


Luka itu hingga sekarang belum juga usai, ia masih betah mengendap di relung hatinya yang paling dalam, bahkan rasanya baru kemarin mereka bercengkrama mesra.


Ia pun tertidur dalam ketidakberdayaannya...


Seorang wanita yang bertubuh ramping dengan rambut hitam memanjang sampai pinggangnya, ia menatap pigura nya di sebuah cermin sambil mengernyit bingung.


"Apa ini?" tanya nya dengan heran.

__ADS_1


Ia bahkan sampai bolak balik menghadap cermin mana tau dia hanya salah lihat namun nyatanya ia benar adanya. Sebenarnya siapa dia. Pikirnya dngan bingung.


Jika kalian bingung kenapa dia sudah bisa berjalan, semua karena usaha dan kerja kerasnya selama seminggu ini karena ia sangat bosan jika harus terbaring dan terdiam di atas ranjang rumah sakit.


"Sayang..." teriak sebuah suara dari balik pintu kamarnya yang bernuansa biru laut dengan berbagai furniture yang disusun sedemikian apiknya sehingga menambah kesan mewah dan asri pada kamarnya.


Ia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Sejujurnya lidahnya masih kaku jika harus mengucapkan kata 'mama' namun ia tidak mau rasa canggung itu membuatnya keki untuk itu ia sudah membiasakan diri dengan panggilan tersebut.


"Ada apa ma?" tanya nya dengan pelan.


Rose tersenyum menatap putrinya yang sudah kembali sehat dengan cepat.


"Papa dan semuanya sudah menunggu di bawah sayang, ayo turun biar kita makan malam." ujar Rose sambil mengusap wajah putrinya dengan sayang.


Auxillia mengangguk dan segera turun mengikuti langkah mamanya, ia melihat sudah ada papa, kakek, serta neneknya di meja makan yang menunggunya sambil tersenyum saat ketiganya melihat ke arahnya.

__ADS_1


❤❤❤❤❤


Apa sudah ada yang paham??? Wkwkwk


__ADS_2