
Aiden menatap haru kedua bayi kembarnya yang berjenis kelamin perempuan. Mereka secantik Syeilla, istrinya. Senyuman tidak pernah luntur dari bibir mungilnya. Terkadang Syeilla sampai dibuat bingung oleh tingkah pola Aiden.
"Sayang, lihat anak kita sangat cantik," seru Aiden dengan takjub. Ia menyentuh jemari nan kecil keduanya. Ada perasaan asing menyusup melalui pori-pori kulitnya dan merambat ke ulu hatinya. Hangat dan bahagia. Itulah yang ia rasakan.
"Siapa dulu ibunya," kekeh Syeilla dengan bangga yang dibuat-buat. Aiden tertawa dan mengecup mesra kening Syeilla.
"Siapa juga ayahnya," sombong Aiden membuat tawa Syeilla pecah berderai.
"Apa hubungan mereka sama kamu mas, mereka kan perempuan," ujar Syeilla menggoda suaminya.
"Kalau tanpa sumbangan mas, mana mungkin mereka lahir," jawab Aiden dengan wajah polos.
Brak..
"Halo kesayangan tante Zia," Zia masuk tanpa ada kesan manisnya langsung mengambil si kecil dari gendongan Aiden. Aiden hendak protes. Namun, saat melihat tatapan memohon Zia membuat jiwa lelakinya kalah telak. Lagi pula siapa yang mau adu mulut dengan wanita halim eh hamil.
"Alolo, keponakan tante tampan-tampan ya," ujar Zia membuat Aiden mendelik jengkel.
"FYI tante Zia, mereka perempuan," dengus Aiden yang entah kenapa masih saja sensitif.
"Ah, benarkah? Pantas saja mereka sangat cantik," kekeh Zia. Sedangkan Ariel hanya menghela napas melihat kekonyolan istrinya.
"Sudah berapa bulan Zi," tanya Syeilla sambil menatap perut buncit Zia.
__ADS_1
"Sudah memasuki bulan ke tujuh Syei," ujar Zia tersenyum bahagia.
"Hai ... hai keponakan om Elka yang manis dan cantik," giliran Elka datang bersama tunangannya yang berdarah Manado.
Tunangannya segera melangkah menuju ranjang Syeilla sambil meletakkan parsel buah di atas meja yang ada di sana.
"Calon pengantin baru," goda Sheilla membuat pipinya merona malu.
"Kakak jangan menggodaku," ujarnya sambil membenarkan letak jilbabnya yang sedikit turun.
"Elka sungguh pria beruntung yang mendapatkan bidadari seperti kamu Salma, kamu wanita yang baik," puji Syeilla membuat pipinya semakin merona.
"Kak, jangan memujiku berlebihan, aku hanya seorang hamba yang penuh dosa di masa lalu," ujarnya dengan lesu.
"Alhamdulillah, Kak. Allah masih menyayangiku," jawabnya pelan.
"Calon istriku yang budiman, rajin menabung dan sayang calon suaminya," Elka datang sambil membawa bayi Syeilla dalam gendongannya menuju tunangannya.
"Kamu nggak pernah berubah ya," jengah Syeilla dengan bibir terangkat sempurna.
"Bagaimana mau berubah Syei, aku kan bukan power rangers. Gimana dah," Salma terkekeh geli mendengar jawaban tunangannya.
"Loh, kenapa calon permaisuri tertawa?" unarnya sambil memberikan bayi Syeilla pada Salma.
__ADS_1
"Kamu sih, kak Syei maksudnya lain. Lah kamu malah jawab yang lain," jawab Salma dengan senyuman teduhnya.
"Halo every badeh. Apa kabar semuanya. Kok reunian yak?" Dion datang sambil menggandeng istrinya yang sedang membawa sebuah parcel buah.
"Hai kak Syei," sapa Auxillia sambil tersenyum.
"Halo Xia, terima kasih sudah datang," ujar Syeilla penuh syukur.
"Demi kakak dong," kekeh Xia tertawa. Ia juga turut berkenalan dengan Salma dan Zia yang kini turut duduk di sebuah kursi samping Syeilla. Mereka berempat asyik mengobrol dan para lelaki juga asyik mengobrol di sebuah sofa. Mereka sudah seperti kerja kelompok.
"Eh si tiang listrik nongol juga ente," seloroh Elka yang selalu sukses minta di panggang.
"Ah bosen banget lihat muka ente, bawaannya pengen berak," dengus Dion tak kalah sewotnya.
Hal seperti ini tidak akan langka jika keduanya sudah bertemu. Ditambah Ariel dan Aiden yang juga sering melempar tatapan tajam. Namun, meskipun begitu mereka akan merasa kurang satu sama lainnya jika ada yang tidak hadir.
❤❤❤❤❤
Autor gabut dan alhamdulillah bisa ngetik ini hehehe...
Masih sama, mohon doanya.
Semoga kalian suka yes.
__ADS_1