
Dirga menatap poto Alya dengan sndu. Bayangan duara tawa gadis itu tergiang di telinganya. Dulu mereka sangat bahagia tanpa beban. Sebelumnya semuanya berubah akibat ulahnya sendiri. Ia tidak menyangka kalau semuanya akan sekacau sekarang. Pemuda itu mengeram geram. Ia lalu teringat pada Nevan. Pria dengan sejuta tawa yang mampu membuat gadis nyaman saat bersamanya. Mengingatnya saja sudah membuat ia kesal.
"Alya, aku hanya ingin kita kayak dulu lagi." lirihnya pelan.
Suara ketukan yang berasal dari pintu membuyarkan nostalgianya. Ia bangkit dan berjalan mendekati pintu. Di sana wajah wanita yang cantik terlihat sedang tersenyum.
"Mama," ucapnya.
Zia tersenyum lembut. "Apa Mama boleh masuk?" tanyanya.
Dirga menganguk dan melebarkan daun pintu agar sang ibu bisa masuk dengan leluasa.
Zia melihat kesekeliling dan matanya tertuju pada poto Alya yang sedang tersenyum manis di samping putranya.
"Kalau dilihat-lihat kalian berdua itu serasi." Zia mengambil poto tersebut dan lagi-lagi ia tersenyum.
Hati Dirga berbunga-bunga saat kalimat keramat itu keluar dari mulut ibunya sendiri. Kini ia bisa meminta bantuan sang ibu untuk kembali mendekati Alya.
"Beneran, Ma." Dirga mendekati Zia dengan antusias.
"Iya, Sayang. Mama nggak bohong loh."
"Tapi Ma, Alya lagi marah sama Dirga."
__ADS_1
"Marah kenapa? Apa kamu membuatnya marah?"
Pemuda itu menarik napas sjenak dan mengembuskan perlahan. Ia pun menceritakan semuanya sampai membuat bola mata Zia hampir keluar dari sarangnya.
"Kalau Mama di posisi Alya, Mama juga akan pergi ninggalin kamu!" kesalnya membuat Dirga kelimpungan. Ia tidak ingin kehilangan dukungan.
"Ma, Dirga beneran khilaf saat itu." melasnya.
Zia melihat putranya yang terlihat lesu tanpa semangat, Ia tersenyum.
"Ga, kamu itu laki-laki, pantang menyakiti perempuan apalagi Alya. Kamu tahu nggak kisah lika liku rumah tangga Om Aiden dengan Tante Syeilla?"
Dirga menggeleng membuat Zia tersenyum.
Zia menepuk pelan pundak putranya dan berlalu dari sana. Dirga merenungkan semua ucapan ibunya dengan baik.
"Aku ingin memiliki Alya tanpa menyakiti Cally," ucapnya.
Di lain tempat, Nevan sedang berbicara dengan ibunya. Ia sangat menyukai segala hal termasuk Alya.
"Mama, bagusnya Nevan kasih hadiah apa buat Alya."
Salma melihat putranya yang kini sudah beranjak dewasa. Ia sudah tahu cintahcintaan membuatnya menggeleng.
__ADS_1
"Beri Alya hadiah yang membuatnya bahagia dan akan selalu dia kenang selamanya."
Salma mengedipkan mata jahil lalu pergi dari sana secepat kilat saat Elka memanggilnya dari bawah. Pria itu masih saja cemburu jika ia berlama-lama bersama putranya.
"Mama, benar. Tapi apa ya yang bisa membuat Alya bahagia dan akan selalu dia kenang. Masa iya ngasih Papa ke Alya. Kasian gue dong." rutuknya.
Di bawah Elka sedang batuk-bstuk saat makan pop mi pedas sambar gledek. Matanya bahkan memerah menahan pedas yang menggerogoti hidung, tenggorokan dan mulutnya.
Salma meringis pelas melihat suaminya yang hampir menangis menahan pedasnya pop mie doer sambar gledek.
"Pedas banget, Yank." tangidnya hampir saja pecah.
"Siapa yang mengumpat saat aku lsgi makan," dengkusnya dan masih menahan kepedasan.
Salma merasa kasihan dengan kondisi suaminya yang memprihatinkan. Ia berjalan mendekat membuat pria itu gugup.
"Yank, kamu mau apa?"
"Berbagi kepedasan denganku." bisiknya membuat Elka meriang alias merindukan kasih sayang.
🌺🌺🌺🌺🌺
Maaf aku lama baru nongol akibat kesibukan di dunia nyata yang menguras tenaga dan emosi.
__ADS_1