LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
SEASON 4 (Bab 9)


__ADS_3

Rapat pun sudah berlalu dan kini Elena sedang berada di kantin kantornya, bersama beberapa teman kantornya. Mereka terlihat sedang menertawakan Elena sambil memegang perut yang sakit akibat terlalu banyak tertawa.


"Kalian tadi sudah berjanji tidak akan mentertawakanku." kesal Elena cemberut.


"Kau tahu Elena, kau sangat lucu dengan tingkahmu yang sekarang, apa kau sudah bosan hidup El." ucap Lisa salah satu temannya.


"Ya mana aku tahu kalau dia bos kita Lis, saat itu ingin rasanya aku menenggelamkan diri ke sungai nil." ucap Elena kesal dan malu.


Mereka bertiga hanya bisa menertawakan kebodohan Elena. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Elena masih berada di kantor karena ada beberapa berkas yang harus disiapkan untuk meeting beberapa hari lagi. Berhubung meeting ini sangat penting, maka Elena tidak ingin membuat kesalahan.


“Kenapa kau belum pulang?” tanya Altaf sedatar tembok.


"Ya Tuhan, Pak Altaf," ucap Elena sambil mengelus dadanya karena kaget.”


"Kau belum menjawab pertanyaanku!" Altaf berujar kesal.


"Pertanyaan yang mana Pak?" tanya Elena bingung.


"Ckck kau ini, kenapa kau belum pulang?" tanya Altaf mengulang pertanyaan dengan penuh selidik.

__ADS_1


"Masih ada beberapa berkas penting yang harus saya selesaikan, Pak. Mengingat beberapa hari lagi kita akan ada meeting yang bersifat sangat penting. Saya tidak ingin melakukan kesalahan. makanya saya siapkan jauh-jauh hari, Pak," ucap Elena memberi penjelasan.


“Oh, apa sekarang kau sudah selesai?”


“sudah, Pak,” ujar Elena sembari bangkit dari kursinya dan memberskan meja kerjanya.


“Lalu kau pulang naik apa?"


“Naik odong-odong, ya naik tasi lah Pak.” seru Elena sewot tanpa sadar.


"Biar saya antarkan saja kamu."


"Eh tapi pak rumah saya jauh dari sini."


Tanya Altaf kesal entah mengapa ia merasa


Elena meremehkannya.


"Eh bukan seperti itu maksud saya Pak, saya kan tidak pernah berkata seperti itu," ucap Elena membela diri.

__ADS_1


"Kau ini cerewet sekali, cepat masuklah." perintah Altaf kesal dan tidak ingin di bantah.


Elena pun mengikuti Altaf memasuki mobil mewah bos nya ia sedang malas berdebat karena lelaki seperti Altaf bukan tipe orang yang akan mengalah. Itulah pikir Elena. Mereka tidak langsung pulang, Altaf mampir ke suatu tempat yang dengan pemandangan yang sangat indah. Ia pun segera menepikan mobilnya.


"Loh pak kita mau kemana, bapak tidak berniat macam-macam bukan?" tanya Elena dengan waspada.


"Kau ini apa otakmu itu hanya ada hal-hal negatif tentangku? Lagipula siapa yang selera dengan tubuh kecilmu itu." dumel Astaf dengan kesal.


"Hehehe maaf, Pak." ucap Elena tak enak hati.


Elena mengikuti Altaf dari belakang dan ia sangat terpukau dengan pemandangan yang tersaji indah di hadapannya. Lampu-lampu kota yang terlihat sangat indah, dan beberapa lampu tambahan yang berwarna warni juga dihiasi bintang di langit menambah kesan keindahan di tempat tersebut.


Elena pun mengikuti Altaf yang berbaring dan melihat beribu bintang yang menghiasi langit. Ia menerawang jauh mengingat dulu ia juga sering pergi ke tempat seperti ini bersama sang kakak. Dulu ia tertawa bebas dengan penuh kebahagiaan namun memori itu lenyap digantikan dengan kenangan buruk yang menimpanya. Ia memegang dadanya yang terasa sesak dan mengatur napasnya yang sempat tersengal.


"Apa anda sering kesini sebelumnya?" tanya Elena memecah keheningan.


"Iya, dulu aku selalu kesini bersama dengan orang yang aku cintai." ucap Altaf menerawang jauh.


Mendengar hal itu membuat jantung Elena seperti diremas. Air mata hampir saja jatuh dari matanya. Ia menguatkan hati untuk bertanya. "Lalu kemana kekasih Anda, Pak?"

__ADS_1


"Ia telah pergi jauh meninggalkan saya dikarenakan perbuatan orang yang tidak bertanggungjawab!"


-----


__ADS_2