
"Nih kamu minum dulu biar pikiran kamu bisa tenang." pria itu menyodorkan segelas teh hangat pada Alya. Gadis itu menerimanya sambil tersenyum.
"Terima kasih," ucapnya.
"Tidak perlu berterima kasih Alya," ucapnya sambil tersenyum.
Mereka berdua sedang berada di apartemen pria itu karena Alya tidak tahu pulang kemana. Ponselnya bahkan terbuang entah di mana. Ia tidak ingat melemparnya ke mana. Ia mencemaskan Nevan. Ia melihat ke pria tersebut dan hendak memunta sesuatu.
"Apa boleh aku meminjam ponselmu?" tanya Alya.
Pria itu menoleh dan menganguk. Ia memberikan ponselnya pada Alya dan kebali melakukan aktivitasnya. Alya segera mencari tombol panggilan dan menulis nomor Nevan. Namun, tidak ada jawaban sama sekali. Ia mendesah. Nevan pasti sangat mencemaskannya. Bagaimana ini pikirnya.
"Ada apa?" tanya pria itu.
"Telponnya tidak diangkat," ucap Alya dengan lesu.
"Coba kau telpon lagi."
Alya kembali melakukan hal yang sama. Namun, tidak diangkat sama sekali. Ia hanya mengingat nomor Nevan.
"Ya udah, kamu coba aja nanti." saran pria itu dengan tenang.
__ADS_1
"Baiklah," ucap Alya dan memberikan ponsel itu kembali ke pemiliknya.
Lama mereka terdiam, Alya kemudian berkata. "Nama kamu siapa?"
Pria itu menghentikan kegiatannya yang sedang bekerja di tab-nya. Ia melihat Alya dan tersenyum.
"Namaku Marten."
Alya tersenyum mendengar nama tersebut. Ia hendak kembali bertanya. Namun, kepalanya mendadak pusing. Ia lalu terjatuh ke sofa. Pria itu bangkit dari duduknya dan segera mendekati Alya.
"Hampir saja aku terlambat menolongmu, semua tidak akan seru kalau kamu mati tanpa rasa sakit, Alya!"
Pria itu membawa tubuh Alya ke sebuah kamar. Tempat yang nantinya akan menjadi sangkar untuknya.
Ia kemudian keluar dan mengunci pintu tersebut.
------------
Syeilla sudah siuman, ia melihat kesekeliling. Firasatnya mengatakan akan ada hal yang tidak baik terjadi pada putrinya. Ia menatap mereka semua yang kini berada di kamarnya. Minus Nevan—pria itu sedang mencari keberadaan Alya.
"Perasaanku tidak enak, Mas. Mas, kita harus segera melaporkan soal Alya ke polisi." isak Syeilla.
__ADS_1
Aiden duduk dan menenengkan istrinya. "Sayang, kita akan melakukannya."
Sebuah panggilan terdengar di ponsel milik Aiden. Ia mengangkat saat nama Nevan tertera di sana.
"Iya Nevan? Apa sudah ketemu."
"Om," ucapnya tercekat. "Ponsel Alya kutemukan di sebuah jembatan taman bahkan sandalnya juga ada di sini." suara Nevan tampak bergetar dedangkan wajah Aiden sudah pias.
"Om akan segera ke sana." ia lalu mematikan panggilannya.
"Ada apa Mas, apa Alya ditemukan." tanya Syeilla.
"Sayang, ponsel Alya ditemukan di sungai buatan yang ada di taman dan sandalnya juga."
Syeilla kembali menangis. "Ya Tuhan, tolong selamatkan putriku."
"Ini semua gara-gara kamu, Mas. Kenapa sih kamu selalu membeda-bedakan anak kita! Kenapa! Tidakkah kamu belajar dari masa lalu, Hah!" teriak Syeilla histeris.
Cally menangis di balik pintu. Ia tadi keluar saat hendak mengambil air minum untuk ibunya.
"Apa kehadiranku, merusak kebahagiaan mereka." ucapnya sedih.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺
Duh duh duh. Yang bertanya kenapa up nya pendek2. Tanganku nggak kuat nulis panjang-panjang karena aku ngetiknya di hp.