LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
SEASON 4 (Bab 20)


__ADS_3

Hari ini Altaf akan pergi selama seminggu ke Jerman untuk urusan bisnis. Sebenarnya ia tidak tega meninggalkan anaknya yang masih kecil ditambah istrinya yang lagi koma, namun pertemuan ini sangat penting dan harus dia sendiri yang hadir disana. Sebelum berangkat ia menyempatkan diri ke rumah sakit. Melepas rindunya sekalian berpamitan. Ia memandangi wajah istrinya dengan tatapan teduhnya, dan memegang tangan kanan yang kini terlihat kuyu.


"Sayang, nanti siang aku akan pergi ke Jerman. Kamu baik-baik ya disini. Aku akan segera kembali untukmu dan anak kita."


Altaf mencium tangan kemudian beralih ke kening istrinya. Ia melangkah dengan gontai menuju ke parkiran. Sebelum ia berangkat beberapa kali berpesan pada orang tuanya agar menjaga anak dan istrinya dengan baik sampai telinga Merisa panas.


"Mommy harus sering cek keadaan Elena kalau ada apa-apa jangan lupa untuk segera menghubungiku." ucapnya berulang kali membuat Merisa merasa jengah.


"Son kau sudah mengatakannya berkali-kali. Mommy mu sampai jengah mendengarnya." tegur Charli sambil tertawa.


"Baiklah dad. Aku pergi.” ucapnya dan mencium seluruh wajah malaikat kecilnya.


Di lain tempat tampak pergerakan kecil dari tangan seorang pasien yang telah lama tertidur. Tangan Elena tampak bergerak meski pun gerakannya terlihat pelan. Suster yang melihat itupun segera memanggil dokter yang menangani Elena. dokter yang bertugas pun segera memeriksa Elena dan ia takjub sungguh maha kuasanya sang pencipta pikirnya. Tanpa pikir panjang pihak rumah sakit segera mengabari keluarga Elena. Merisa yang sedang sarapan bersama suami dengan cucu di gendongan babby sitter pun tampak terkejut dan bahagia bukan main saat mendapati kabar tersebut.


"Ada apa saying?" tanya Charli, tidak biasanya istrinya sebahagia itu semenjak menantunya koma, pikirnya.


"Elena sudah sadar yang." ucapnya dengan antusias.


"Syukurlah. Kalau begitu ayo kita segera ke rumah sakit." ujar Charli semangat.


Mereka pun segera menuju rumah sakit untuk melihat Elena.


"Cucu grand ma yang cantik mommy sudah sadar sayang." ucapnya sambil mengelus kepala cucunya dengan sayang.


"Kamu pasti rindu kan dengan mommy." hanya dibalas celotehan ala bayi oleh cucunya yang membuatnya gemas.


Sesampainya mereka disana. Merisa menangis haru saat melihat menantunya sudah membuka matanya.


"Sayang menantu mommy." ia memeluk Elena dengan berurai air mata bahagia.


"Syukurlah kamu sudah sadar saying." ucap Merisa dengan bahagia ia sampai meneteskan air matanya.


Namun Elena tidak membalas ia hanya merespon dengan senyuman. Merisa yang melihat itupun dibuat bingung. dokter yang melihat itupun segera menjelaskan keadaan Elena. Ia mengajak Merisa dan Charli ke ruangannya.


"Apa menantu saya amnesia?" tanya Merisa tak sabaran.

__ADS_1


"Begini tuan dan nyonya. Nona Elena memang sudah sadar dan dia tidak anmesia seperti yang nyonya katakan. Namun terjadi sesuatu dengan pita suaranya akibat tekanan pada saat ia memuntahkan darah sebelumnya. Tapi anda jangan khawatir ini tidak akan berlangsung lama." terang sang dokter.


"Syukurlah kalau begitu dok." Merisa merasa tenang setelah mendengar ini.


Kabar bahagia ini pun telah sampai pada telinga Altaf. Tanpa membuang waktu ia segera terbang dari Jerman menuju ke Indonesia tepatnya di Surabaya. Meski perjalanannya tidaklah singkat ia tidak peduli.


Ia langsung menuju ke rumah sakit Harapan Bunda tempat istrinya di rawat. Barangnya sudah dibawa pulang oleh supir yang menjemputnya ke bandara.


Sesampainya di ruangan Elena ia sangat bahagia tanpa pikir panjang lagi ia berlari memeluk istri yang sangat dicintainya.


Ia tak mampu menjelaskan bagaimana bahagianya ia saat ini namun senyumannya seketika luntur karena tidak mendapat respon seperti yang ia harapkan. Ia merungkai pelukannya. Ia melihat kearah Elena dengan raut wajah bingungnya. Ada apa dengan Elenanya pikir Altaf bertanya-tanya.


Ia melihat tubuh Elena tidak bereaksi sama sekali hanya matanya yang terkadang mengeluarkan air mata.


"Sayang apa kau tidak bahagia aku disini?" tanya Altaf dengan parau. Entahlah ia sendiri bingung selama ia hidup dengan Elena ia sangat mudah menangis.


Elena menggeleng pelan. Sangat pelan, jika Altaf tidak teliti ia tidak akan tau bahwa Elena menjawabnya dengan gelengan.


"Lalu mengapa kamu tidak mengatakannya langsung sayang hm. Ayolah jangan malu begitu." ucapnya yang masih belum mengetahui kondisi Elena yang sebenarnya.


Melihat itu air mata Elena tambah mengalir. Melihat respon Elena, Altaf menyadari sesuatu. Ada yang salah dengan Elenanya.


Altaf berlari untuk menemui dokter yang menangani istrinya.


"Jelaskan apa yang terjadi pada istriku." tuntut Altaf meminta penjelasan.


Riko yang sedang berkonsultasi dengan pasien pun dibuat kaget oleh dobrakan yang dilakukan Altaf.


"Ok tuan silahkan duduk sebentar." ucapnya mempersilahkan.


Ia mengalihkan matanya pada pasiennya dan berkata


"Bu nanti kita lanjutkan kembali setelah urusan saya dan tuan ini selesai." ucapnya dengan sopan. Pasien itupun hanya menganguk dan berlalu.


"Tolong jelaskan." pinta Altaf tak sabaran.

__ADS_1


Riko menarik napasnya dengan panjang.


"Sebelum itu saya akan mengatakan sesuatu mengenai penyakit nyonya Elena."


"Kalau masalah itu kau tidak usah menjelaskan kembali dok karena saya sudah tau penyakit istri saya." ucap Altaf memotong kelajutan ucapan yang akan disampaikan oleh Riko.


"Apa penyakit nyonya tuan?" tanya Riko ingin memastikan.


"Bukankah sudah jelas ia menderita tumor, dan setau saya tumor bisa disembuhkan dengan operasi. dan bisakah kau jelaskan apa yang terjadi?" sungut Altaf dengan kesal.


“Benar mengenai penyakitnya namun lebih spesifiknya adalah tumor ganas grade tiga atau lebih di kenal dengan nama Meningioma. tumor ini menyerng jaringan selaput otak dengan tingkat keganasan yang sedang namun dapat eningkat jika sudah berkembang para grade III dan di sini lah penyakit pasien. itu artinya tumornya dapat menyebar ddengan cepat dan akan elbih sulit dihilangkan tanpa terapi dan pembedahan."


"Tuhan hukumlah aku jangan kau timpakan cobaan ini pada pundak istriku" doanya menangis pilu. Ia tak habis pikir separah itukah kondisi istrinya.


Sebuah tangan menepuk pundaknya dengan pelan.


"Son semua sudah diatur oleh Tuhan. Kita sebagai manusia tidak dapat mempungkirinya. Takdir Elena telah digarisnya dengan begitu indah dimatanya meski kita melihatnya sebagai luka." Charli mencoba menenangkan anaknya walaupun ia tau tidak akan mudah bagi anaknya menerima kenyataan ini.


"Daddy juga sudah tau penyakit Elena." tanya Altaf dengan lemah.


"Tumor." ucap Charli singkat.


Tampak Altap menggelengkan kepalanya lemah dan kembali menangis. Lebih dari sekedar tumor dad." Ucapnya dengan parau.


"Apa separah itu." Altaf hanya menganguk lesu.


"Son sama seperti tumor pasti ada obat untuk penyakit itu."


Kembali Altaf menggelengkan kepalanya. "Semua prosesnya akan sangat menyiksa untuk Elena dad namun untuk merelakannya pergi aku tidak sanggup dad. Bisakah aku egois untuk selalu mempertahankan Elena agar tetap berada disisiku sedangkan ia akan sangat kesakitan." isaknya pilu.


Charli pun terdiam mendengarnya ia tak tau lagi harus berkata apa. Mengapa menantunya bisa mengalami hal seperti ini.


"Tuhan andai engkau mengijinkan aku meminta satu hal padamu. Tolong sembuhkan istriku. Aku tau tidak ada yang mustahil bagimu." doanya dalam hati.


------

__ADS_1


Komen yahhhhhh kalau kalian suka



__ADS_2