
Empat bulan kemudian....
Kandungan Syeilla sudah berusia sembilan bulan. Kata dokter ia akan melahirkan satu minggu lagi. Aiden selalu siap siaga menunggu kelahiran buah hatinya. Menjelang kelahiran kedua buah hatinya, Aiden terserang panik, apalagi saat istrinya sering mengeluh kesakitan saat kedua bayinya menendang secara aktif.
"Mas, punggung sama pinggangku sakit," keluh Syeilla saat rasa nyeri menyerang tubuhnya.
"Sini biar, Mas pijat sayang," Aiden mengambil minyak kayu putih lalu mengusapkan pada bagian punggung serta pinggang istrinya. Kemudian ia melanjutkan memijatnya dengan pelan.
"Masih sakit sayang?" tanya Aiden lembut. Syeilla menganggukkan kepalanya dengan lesu. Aiden sangat kasihan melihat wajah nelangsa istrinya. Andai bisa, ia ingin menggantikan rasa sakit istrinya.
Aiden mendekatkan wajahnya pada perut buncit istrinya.
"Anak Papa, jangan buat mama sakit ya, Nak. Kasihan Mama sayang," bisik Aiden yang sukses membuat rasa nyaman. Syeilla tersenyum hangat menatap punggung suaminya.
"Terima kasih, Mas," ujarnya lembut.
"Tidak sayang, Mas. Yang seharusnya berterima kasih, terima kasih karena sudah merelakan segala demi mengandung anak kita," ucap Aiden dengan tulus. Ia sungguh terharu sekaligus takjub dengan perjuangan istrinya.
"Mas, itu sudah menjadi tugas seorang istri," Syeilla membelai lembut kepala suaminya.
__ADS_1
"Dan tugas Istri sungguh mulia sayang," Aiden mengecup punggung tangan Syeilla dengan lembut dan penuh perasaan.
"Seminggu lagi kita akan bertemu dengan mereka berdua sayang, Mas, benar-benar sudah tidak sabar," Aiden sangat antusias menyambut kelahiran kedua buah hati mereka.
"Iya, Mas. Aku juga sudah tidak sabar," Syeilla mengusap perutnya dengan lembut.
Mereka berbincang sekitar perlengkapan bayi mereka sebelum Syeilla mengaduh kesakitan.
"Aduh, Mas, perutku sakit," ringis Syeilla. Ia seperti merasa mulas," rasa sakit kian mendominasi.
"Jangan-jangan kamu mau melahirkan sayang, kita harus segera ke rumah sakit," seru Aiden.
"Mang ... Mang, siapkan mobil kita akan ke rumah sakit sekarang juga." teriak Aiden membuat lelaki paruh baya tersebut terkejut dan segera mencuci wajahnya dan berlari membuka garasi dan memanadkan mobil.
"Oma, Opa, bangun. Kita akan ke rumah sakit sekarang juga. Syeilla mau melahirkan," teriak Aiden membuat keduanya kaget. Dan segera berkemas.
Untuk perlengkapan Syeilla sendiri, Aiden sudah menyiapkannya dari jauh-jauh hari,"
"Ayo, sayang," Aiden memapah tubuh Syeilla. Ia hendak menggendongnya namun ia takut tersandung karena tidak melihat jalan. Lisa berlari mendekat dan segera membantu Aiden memapah Syeilla menuju mobil. Wira sendiri segera meraih tas yang dijinjing oleh Aiden dan membawanya ke mobil.
__ADS_1
Wajah Syeilla tampak kesakitan, sekali lagi wajah Aiden dirundung kesedihan saat teringat masa lalu. Di mana ia tanpa perasaan menelantarkan istrinya yang sedang mengandung. Ternyata perjuangan seorang istri untuk melahirkan anak mereka sungguh luar biasa. Bahkan segudang uang tidak bisa menggantikan pengorbanan mereka.
Mereka segera meluncur ke rumah sakit tempat Syeilla akan melahirkan. Rumah Sakit Kasih Bunda.
Lima belas menit kemudian mereka sudah sampai di depan rumah sakit dan beberapa suster segera membawa brankar menuju tempat Syeilla berada. Mereka segera membawanya menuju ruang persalinan.
Aiden dengan setia mendampingi proses persalinan istrinya yang terbilang lama, tapi untungnya sudah memasuki pembukaan ke delapan. Jantung Aiden berdetak dengan menggila. Ia sungguh tidak tega melihat istrinya menahan sakit saat kontraksi berlangsung.
"Baik, Pak. Sekarang Bu Syeilla sudah memasuki pembukaan ke sepuluh," beritahu dokter membuat degup jantung Aiden semakin menggila.
"Apa Ibu sudah siap?" Tanya dokter tersebut dan segera memberi aba-aba setelah Syeilla menganguk.
❤❤❤❤❤
Elka menyusul di Flash Back ya....
Maaf aku mangkir beberapa hari... Autor sempat drop dan harus nginap di klinik 😊😊
Semoga kalian suka ya.
__ADS_1