
Nevan menunggu Alya di ruang tamu. keduanya akan berangkat ke sekolah bersama-sama, hal ini akan berlanjut sampai seterusnya. Meski beda usia, Nevan tidak pernah mempermasalahkan selagi ia bahagia dengan pilihannya.
"Sayang, Nevan sudah menunggu sejak tadi di ruang tamu." Syeilla datang sembari menyerahkan segelas susu pada Alya yang sedang bersiap memakai bedak tipis.
"Makasih, Ma." gadis itu menerima gelas tersebut lalu meneguknya dengan perlahan. Ia sangat menyukai susu buatan ibunya yang sangat berbeda dengan buatan siapa pun.
"Buruan, Sayang. Kasian Nevan loh," ucap Syeilla mengingatkan. Alya hanya menyegir kuda mendengar kalimat ibunya.
"Ma, meskipun Alya bertapa 1000 tahun sekali pun, Nevan bakalan tetep nunggu kok."
"Hus, kamu ini sembarangan kalau bicara."
"Seriusan, Ma. Dia bucin banget sama Alya." Tawanya membahana membelah pagi itu.
Syeilla menatap wajah ceria putrinya saat membicarakan Nevan. Senyuman bahagia di wajah cantiknya terlihat sangat tulus. Hatinya menghangat saat melihat senyum yang tidak kunjung ia lihat, kini terpatri indah di wajah Alya.
"Tetaplah seperti ini! Putri, Mama yang ceria."
Alya menghentikan tawanya, ia melihat saksama ke arah Syeilla, sudut bibir yang awalnya melengkung itu perlahan memudar sebelum tubuhnya menubruk tubuh ibunya yang sangat tulus dalam melakukan segala hal untuknya.
__ADS_1
"Kalau, Mama. Bahagia, Alya juga sangat bahagia. Kebahagiaan, Mama kebahagiaan Alya juga," ucap gadis itu sambil memeluk erat tubuh langsing itu.
"Udah, ah! Nevan pasti sudah menunggu lama."
Alya tersenyum dan mencium pipi ibunya dengan lembut. "Ayo ke bawah, Ma."
Syeilla turun bersama dengan Alya. Sedangkan Cally sudah sarapan di bawah bersama Nevan dan Aiden.
"Selamat pagi semuanya!" sapa Alya.
Nevan tampak mengabaikan kehadiran Alya, ia sibuk mengunyah makanannya. Sesekali menanggapi guyonan dari Cally. Hal tersebut membuat Alya kesal setengah mati. Ia duduk sambil cemberut di sebelah ibunya. Rasa tak suka muncul saat Nevan duduk bersisian dengan Cally.
"Pagi juga sayang," ucap Aiden dengan lembut.
"Wah, kita cocok dalam bidang kesukaan." kekeh Nevan.
Alya bangkit dari kursinya. Lalu berjalan cepat ke arah pintu garasi, dengan kesal ia memakai sepatunya yang tersusun rapi di rak sepatu.
Nevan tampak terkejut sekaligus merasa senang akan reaksi Alya. Ia sangat yakin perasaannya akan berbalas. Ia melihat ke arah Syeilla dan Aiden yang terlihat tersenyum.
__ADS_1
"Tante, sepertinya Alya ngambek, Nevan susul dulu ya." Nevan segera bangkit dan menyusul Alya. Ia tersenyum melihat gadis itu terlihat mencak-mncak di depan mobilnya.
Ketika Nevan datang, Alya enggan menatapnya. Bibirnya bahkan sudah manyun 1 cm. Membuatnya mirip dengan bebek.
"Kamu kenapa, Al?" tanya Nevan pura-pura bodoh.
Alya menatap Nevan tajam, lalu ia membuang pandang ke arah lain. Napasnya terlihat memburu. Dapat dipastikan bahwa jika hal tersebut meledak, Nevan beserta mobilnya akan hangus menjadi abu.
"Ayo masuk," ucap Nevan dan berjalan ke pintu kemudi. Ia tertegun di tempatnya saat melihat Alya komat kamit mengucap sumpah serapah.
Ia kembali memutari mobil dan berdiri di depan gadis itu sambil tersenyum. "Di dunia ini, hanya kamu yang benar-benar sangat kuinginkan, bukan yang lain. Untuk itu silakan masuk, putri angsa." Nevan segera membuka pintu mobil supaya Alya bisa masuk.
Gadis itu masuk dengan menahan senyum. Dari seberang pagar Dirga mengepalkan tangannya geram melihat hal tersebut.
🌺🌺🌺🌺🌺
*Kisah Elena akan dikupas perlahan-lahan.
Elena adalah sepupu dari Syeilla
__ADS_1
Altaf adalah mantan Syeilla yang menikah dengan Elena.
Tunggu kisah Elena selanjutnya*....