LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Part 43


__ADS_3

Pemaaf bukan karena ia lemah hanya saja terlalu malas menghakimi karena lidah lebih tajam dari sebilah pedang.


******


Altaf melangkah dengan lesu menuju ranjang istrinya yang masih dirawat di rumah sakit dan hari ini istrinya sudah bisa pulang.


"Mas kamu kenapa?" tanya Elena dengan lembut.


Altaf menatap dalam manik istrinya dengan sendu.


"Sayang setelah kamu keluar dari rumah sakit ada baiknya kita menjenguk Syeilla bersama mama dan papa juga." ujar Altaf dengan pelan.


"Kakak kenapa mas?" tanya Elena dengan penasaran.


"Syeilla masuk rumah sakit." ujar Altaf sambil menarik napasnya dengan kasar.


"Kita menjenguknya sekarang saja ya mas."


"Tidak sayang, kamu masih lemah. Kita akan menjenguknya besok dan mengajak mama dan papa serta."


"Baiklah mas."


Sejujurnya Elena masih bingung lantaran raut wajah suaminya yang terlihat sedih sekaligus ucapan suaminya mengenai kedua orang tuanya yang harus ikut serta. Apa terjadi sesuatu pada kakak (monolog batin Elena)


""""""


Zia melangkah dengan lesu menuju ruangannya matanya yang sembab menggambarkan betapa ia sangat kacau saat ini. Ariel dan Elka sudah berada di ruangannya untuk meminta penjelasan atas penampilannya yang terlihat kacau.


"Kamu kenapa Zi." Ariel berjalan mendekati Zia dan menuntunnya ke sebuah sofa yang tersedia di ruangannya. Mendengar pertanyaan itu tubuh Zia kembali bergetar dengan hebat. Ia memeluk Ariel dan kembali menangis dengan pilu. Ariel hanya mengelus pelas punggung Zia sedangkan Elka yang tau penyebabnya menatap Zia dengan raut sedih dan iba.


"Syeilla Ril, Syeilla..." isak Zia dengan suara sesegukan.


"Syeilla kenapa?" tanya Ariel dengan bingung.


Namun Zia tidak mampu melanjutkan kalimatnya karena ia kembali mennagis bahkan matanya sudah bengkak. Elka menghela napasnya dengan oelan dan menatap Ariel dengan serius.


"Tumor Syeilla sudah memasuki stadium empat."


Suara Elka bagaikan sebuah petir yang menyambar ulu hatinya di siang bolong. Lalu ia merungkai pelukan Zia dan menatap Zia dengan sorot bertanya dan Zia menganggukkan kepalanya. Ariel bahkan tidak tau harus berkata apa lagi untuk saat ini.


"Tadi pagi ia dibawa Altaf ke sini karena pingsan di taman dan jantungnya sempat berhenti saat di UGD. Aku sangat takut Ril." isak Zia, ia bahkan tidak tau bagaimana cara menghentikan agar tangisannya berhenti.


"Apa...!!" teriak Alka dengan bingung.


"Di ruangan berapa kamar rawatnya?" Elka segera bangkit dari sofa dan bersiap hendak pergi.


"Kamar 312."


"Kalau begitu aku juga akan kesana. Apa kau mau pergi?" Ariel menatap Zia yang langsung di angguki olehnya. Mereka bertiga pun segera pergi menuju kamar rawat Syeilla.

__ADS_1


Sesampainya di depan ruang Syeilla mereka bertiga menghentikan langkahnya saat mendengar suara isak tangis yang mereka duga suara Aiden.


"Sayang tolong jangan menghukumku lagi seperti ini. Kalau kau marah katakan agar aku memukuli diriku tapi bangunlah dan tatap mataku." isak Aiden dengan lirih.


Ariel mengajak keduanya untuk pergi dari sana dan memberi Aiden waktu bersama Syeilla.


""""


Dua hari kemudian...


"Engggg..." Syeilla menggerang saat matanya disambut silauan pijar lampu yang membuat matanya sakit. Aiden segera mendekat dengan mata lelahnya dan tersenyum saat Syeilla membuka kedua matanya.


"Hai..." sapa Syeilla dengan suara lemahnya. Air mata Aiden pun mengalir tanpa ia sadari. Sungguh ia sangat bersyukur Tuhan masih mendengar doanya.


"Terima kasih sayang... Terima kasih sudah kembali." ujar Aiden dengan haru. Syeilla meraih wajah suaminya dan menghapus air matanya dengan gerakan lemah.


"Mas sangat jelek kalau sedang menangis." ujar Syeilla yang disambut tawa Aiden.


"Aku tidak masalah dengan hal itu sayang."


Zia segera masuk setelah Aiden mengabarinya.


"Syeilla..." Zia segera mendekat dan memeriksa Syeilla dengan seksama. Setelah selesai ia duduk dan menatap Syeillaa dengan serius.


"Apa yang kamu rasakan?" tanya Zia.


"Aku tidak merasakan apap-apa."


"Sebekum aku jatuh pingsan sakitnya bahkan terasa seperti kepalaku ditimpa batu besar tapi untuk sekarang tidak."


"Syukurlah. Kita akan terus melakukan pemeriksaan berlanjut."


"Aku akan menunggumu kembali sehat karena ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Zia melangkah pergi dari sana dan tinggallah Aiden berdua bersama istrinya. Syeilla menatap kepergian Zia dengan tanda tanya.


"Sayang." ucapan Aiden membuyarkan tatapannya. Ia beralih menatap wajah Aiden yang tampak sangat kelelahan.


"Apa mas."


"Jangan pernah seperti ini lagi. Kamu tau kalau mas tidak akan pernah sanggup kehilangan kamu." pinta Aiden dengan wajah memelasnya.


Syeilla meminta Aiden untuk duduk di ranjang dan Aiden pun menurut sambil menaikkan kepala ranjangnya agar Syeilla tidak bisa bersandar dengan nyaman.


Syeilla meraih dengan pelan tubuh Aiden lalu memeluknya dengan erat. Air matanya jatuh tak terbendung tanpa suara.


"Aku tidak bisa memberimu sebuah janji yang sewaktu-waktu bisa saja aku ingkari mas. Tapi aku bisa mencintaimu sampai kapanpun tanpa batasan waktu." bisik Syeilla di telinga Aiden. Tubuh Aiden sudah bergetar hebat tak mampu menahan tangisnya.


"Sayang mas juga akan mencintai kamu sampai kapanpun tanpa batas." isak Aiden. Ia tidak pernah semelow ini selama hidupnya bahkan saat ia kehilangan Jeslyn sekalipun ia tidak pernah setakut dan sekalut ini.


"Mas jangan menangis. Tuhan maha tau segala-galanya. Jika kita ditakdirkan bersama maka kita akan selamanya bersama." Syeilla merungkai pelukannya dan menatap Aiden dengan senyuman tulusnya.

__ADS_1


"Kamu adalah lelaki kedua yang membuatku mampu memperjuangkanmu dengan cintaku dan melalui berbagai kepahitan. Aku tau kenapa begitu sulit mendapatkanmu itu semua karen kamu istimewa mas." Syeilla mengusap lembut air mata Aiden yang masih setia mengalir. Mas kenapa kita malah sedih seperti ini hm?"


"Bagaimana mau bahagia kalau hati mas sangat sakit sayang."


"Ssstttt mas tatap mataku." Syeilla menggangkat kepala Aiden agar menatapnya.


"Jangan pernah bersedih dengan segala hal yang sudah terlewati. karena semua tidak akan kembali meski ditangisi dengan darah sekalipun. Mas suami yang baik untukku dan aku bahagia karena hatiku memilih dirimu untuk kucintai." Syeilla tersenyum tulus menatap wajah sembab suaminya.


"Semua akan baik-baik saja mas. Sekarang mari kita lupakan tentang apapun yang terdengar menyakitkan dan kita akan memulai dengan hal yang indah." Aiden memeluk kembali tubuh Syeilla.


"Mas berjanji akan mencoba melupakannya dan membangun kenangan indah yang bisa aku kenang nantinya." Syeilla membalas pelukan suaminya.


"Kita akan memulai awal yang baru menuju sebuah kebahagiaan dan lupakan tentang hal yang pernah menyakitkan di masa lalu."


Aiden mengangguk setuju sambil mencoba tersenyum dengan tulus namun mata Syeilla kembali membuat pertahanannya runtuh.


Bagaimana jika nanti ia tidak melihat lagi tatapan cinta itu, bagaimana kalau ternyata hari ini ia terakhir melihat istrinya, bagaimana dan kata bagaimana selalu menghantui pagi, siang dan malamnya.


Ia bahkan sangat takut hanya sekedar mengedipkan matanya.


"Wajahmu tampak kelelahan mas."


"Karena aku tidak bisa menutup mataku sedetikpun."


"Tapi kamu bisa sakit.


"Aku lebih takut tidak melihatmu lagi saat aku bangun."


"Mas jangan seperti ini lagi ya. Kalau kamu sakit siapa yang akan membawaku ke tempat impianku hm."


"Apa tempat impianmu sayang, kita akan kesana setelah kamu sehat."


"Panti asuhan Peduli kasih mas."


Aiden mengernyitkan keningnya. Biasanya tempat impian seseorang pasti tempat yang indah memiliki fasilitas yang mewah.


"Aku ingin berbagi kasih bersama mereka yang hidupnya kurang beruntung namun memiliki hati yang kuat." mata Syeilla berbinar saat mengingat panti asuhan yang selalu mampu membuat hatinya menghangat.


"Apa kau bahagia?"


"Sangat mas. Karena dengan berbagi aku merasa kehangatan memelukku dari sini." tunjuknya pada dadanya.


"Kita akan membangun panti asuhan untuk mereka yang kurang beruntung sayang. Apa kamu mau?" tanya Aiden tersenyum bahagia saat melihat binar kebahagiaan terpancar jelas di manik istrinya.


"Aku mau mas. Terima kasih banyak untuk semuanya." Syeilla sungguh merasa bahagia karena impiannya untuk membangun panti asuhan akan segera terwujud. Tidak semua anak seberuntung dirinya yang dilahirkan dalam kekayaan. Ia ingin berbagi namun bukan hanya sekadar formalitas belaka. Ia ingin sesuatu yang nyata dan membuat mereka tersenyum karena pada akhirnya ada tempat untuk mereka kembali.


❤❤❤❤❤


***kebaikan bukan tentang bagaimana kamu dikenal melalui ucapan tapi bagaimana kamu dikenal melalui tindakan.

__ADS_1


Bahagia itu sederhana..berbagilah dengan mereka yang membutuhkan maka kau akan menemukan arti kebahagiaan***.


Syeilla ❤❤ Aiden


__ADS_2