
Tubuh Alya berlari ke arah Dirga yang sudah berlumur darah. Ia memegang tubuh Dirga dengan hati-hati. Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Ia luruh ke lantai dan matanya menatap pisau yang tergeletak di samping tubuh Dirga. Dngan gemetar ia mengambil pisau tersebut dan memangis sejadi-jadinya.
Cally yang tadi keluar membeli cemilan ke super market pun dikejutkan oleh sesuatu yang membuatnya histeris. Bertepatan dengan datangnya Syeilla, Eiden beserta orang tua Dirga. Mereka syok melihat pemandangan yang tersaji di hadapan mereka.
"Alya ...!" teriak Eiden dengan bibir bergetar. Ia tidak percaya bahwa putrinya sanggup melakukan semua itu. Pisau itu jatuh dari tangan Alya membuat bunyi dentingan.
"Papa, Dirga ... Dirga ...."
Kalimatnya terpotong oleh teriakan histeris dari Zia. Ia mendekati putranya. Sedangkan Syeilla sudah memanggil ambulan. Tidak lama kemudian ambulan datang.
"Apa yang kamu lakukan sama anak saya!" teriak Zia, Syeilla menangis memeluk Zia. Namun, di tepis oleh wanita itu. Sedangkan Cally tampak mematung, tubuhnya tidak dapat bereaksi akibat syok.
__ADS_1
Mereka segera membawa tubuh Dirga ke mobil ambulan. Mereka semua pergi ke rumah sakit kecuali Eiden dan Alya. Gadis itu menangis tersedu-sedu dan bersumpah bahwa ia tidak pernah melakukan apa pun.
"Alya, Papa nggak nyangka kamu mampu melakukan semua ini, kenapa!" teriak Aiden marah campur sedih dan kesal pada dirinya sendiri.
"Pa semua nggak seperti yang Papa lihat, tadi ... tadi Alya baru pulang dan ... dan," ucapnya dengan sesegukan.
"Terus kenapa pisau itu ada di tangan kamu? Kenapa!"
Aiden meninju dinding sampai membuat tangannya berdarah. Alya menangis dan menatap mata ayahnya dengan dalam.
"Gimana bisa Papa percaya, gimana Alya! Pisaunya ada di tangan kamu! Kalau polisi sampai menyelidiki ini, kamu bisa masuk penjara."
__ADS_1
"Aku nggak salah, Pa. Aku nggak salah," ucap Alya menangis.
"Kemasi barangmu, sekarang!"
"Pa, Papa ngusir aku. Pa aku mohon jangan usir aku, Pa." ia memegang erat kaki ayahnya sambil terisak perih.
Eiden mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
"Pesan tiket ke Rusia sesegera mungkin."
Alya tersentak dan memohon pada ayahnya. Aiden menatap sendu wajah putrinya. Ia masih marah, antara harus percaya atau tidak. Ia kebingungan.
__ADS_1
"Papa sayang sama Alya, inilah cara Papa melindungi Alya. Dengarkan Papa kali ini," ucapnya sambil memeluk erat tubuh putrinya yang terlihat menggigil ketakutan. Sedih, kecewa, marah kini menyatu. Tatapan Alya berubah menjadi kelam.
🌺🌺🌺🌺🌺