
Elena melangkah dengan riang saat memasuki lobi kantornya. Sesekali ia menyapa setiap karyawan yang ditemuinya.
"Selamat pagi Bu, Pak." sapanya pada cleaning service. Begitulah setiap ia melewati siapa saja, tidak memandang pangkatnya apa, ia akan selalu menyapanya.
"Pagi Mbak El," sapa mereka berdua sambil tersenyum kagum pada sosok Elena. Meskipun mereka hanya bekerja sebagai cleaning service. Namun, Elena tidak pernah membedakan mereka yang nota bene memiliki posisi tinggi di kantor tersebut.
"Ibu El baik sekali ya Min, andai semua karyawan disini seperti beliau yang tidak memandang seseorang dari derajatnya," ucap Melani menerawang jauh dengan kagum.
"Setiap orang itu berbeda Mel, dan itulah yang membedakan mereka semua. Kita berdoa saja semoga Ibu El selalu dilindungi dan diberi kebahagiaan." Mukmin berlalu sambil menepuk bahu Melani dengan pelan. Mereka pun melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti beberapa menit yang lalu.
Di ruangannya, Elena sedang menyiapkan bahan rapat untuk nanti siang, dan ia melihat ke ruangan bosnya dan ternyata Altaf belum juga datang.
"Ckck mentang-mentang dia bos datang seenaknya, alahai apalah nasib dapat bos seperti itu," ucapnya yang masih sibuk menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan oleh bosnya nanti. Tanpa melihat sosok tinggi dengan mata setajam elang sedang menatapnya garang.
“Siapa yang datang seenaknya?” tanya sebuah suara dari samping Elena.
__ADS_1
"Siapa lagi kalau bukan bos kita yang sok kecakepan itu," ucap Elena masih sibuk dengan kegiatannya tanpa menoleh ke sampingnya.
"Oh, memang kamu nggak takut kalau ketahuan membicarakan beliau?"
"Cih Untuk apa takut, dia itu hanya tampangnya saja garang, aslinya manja minta ampun. Kau tau bahkan dia sangat...," ucapan Elena terhenti.
Tenggorokan rasanya akan pecah, mukanya mendadak pucat pasi saat ia menoleh kesamping. Di sana ia mendapati orang yang sedang ia bicarakan tengah berdiri tepat disampingnya, dengan tatapan tajam.
"Sudah puas membicarakan saya Nona Elena?" tanya Altaf sarkas.
"Kau ini, lain kali jangan seperti itu lagi mengerti!" tegur Altaf tegas.
"Saya mengerti, Pak." Elena menganguk sambil menunduk tanda bersalah.
"Sudah kau siapkan bahan untuk rapat nanti siang?" tanya Altaf datar.
__ADS_1
"Sudah siap semuanya, Pak."
"Baiklah, datang keruanganku dua jam lagi." perintah Altaf dingin sambil berlalu.
Elena hanya menganguk. Sejujurnya ia masih canggung, bagaimana tidak, setelah mengatai Altaf dengan berani. Bahkan ia membicarakan hal itu langsung dengan bersangkutan. Rasanya Elena ingin menenggelamkan dirinya ke sungai saja saat ini. Altaf pasti semakin membencinya saat ini.
"Ya Tuhan Elena kamu pasti sudah gila, bagaiman kalau kau dipecat." rutuknya frustrasi sambil berlalu ke meja kerjanya.
Diruangan Altaf sedang menyumpahi Elena, berani sekali dia membicarakannya. Kalau saja ia sedang tidak menjalankan misi balas dendam, sudah lama ia memecat Elena. Tapi ia harus menahan semuanya sampai dendam terbalas.
"Cih, wanita itu berani sekali, apa dia sudah gila!" desis Altaf geram.
"Sebentar lagi Elena, kau akan bertekuk lutut di bawah kakiku." Altaf tersenyum menatap foto Elena sinis.
Altaf melihat jam yang melingkar di tangan, ia akan segera menuju ruang rapat.
__ADS_1
-------