
Seorang dokter keluar dari ruang operasi dengan peluh dan wajah kelelahannya.
"dokter bagaimana kondisi anak dan istri saya? tanyanya mendesak dokter tersebut.
Terlihat sang dokter menarik napas pelan.
"Istri anda mengalami pendarahan yang hebat dan kondisinya sekarang sedang koma. Saya sangat menyesal mengatakan ini tapi kami bukan Tuhan yang bisa menentukan kapan beliau akan bangun namun melihat kondisi pasien hanya keajaiban yang bisa membuatnya terbangun. Semua kembali lagi pada yang maha kuasa." dokter Riko menepuk pundak Altaf dan berlalu.
"Jangan pernah putus berdoa tuan, keajaiban itu benar-benar nyata." ujar dokter tersebut memberi semangat.
Altaf yang mendengar itupun bagai tersambar petir. Istrinya koma dan belum tentu akan terbangun. Ia menangis terduduk di hadapan ruang operasi dan belum beranjak. Merisa yang melihat putra nya terpuruk tak tega dan memeluknya mencoba menenangkan meski ia pun butuh pegangan untuk semua kabar hari ini.
Elena sudah dipindahkan ke ruangan ICU. kondisinya yang sekarang sangat memprihatinkan. Berbagai alat penopang kehidupan terpasang di sekujur tubuhnya.
Altaf yang melihat kondisi istrinya sungguh tak sanggup. Andai bisa digantikan ia akan menggantikannya.
"Sayang, anak kita perempuan dan sangat cantik sepertimu." Altaf meraih jemari Elena dan menciumnya dengan sayang. ia mengenakan pakaian khusus.
"Apa kau tak ingin melihatnya?" kembali ia menyeka air matanya.
"sayang, aku akan menunggumu sampai kau lelah dalam tidurmu dan kembali bangun, maafkan aku yang begitu lambat menyadari perasaanku hingga mengabaikan dirimu. Kembalilah setidaknya untuk putri kita."
Delapan bulan berlalu....
__ADS_1
Altaf yang dulu sangat rapi berbanding terbalik dengan yang sekarang. Jika dulu penampilannya sangat sempurna, sekarang sudah tidak terurus semenjak Elena koma. Jambang tipis yang kini mulai tumbuh liar di rahangnya. Rambutnya kini memanjang sampai ke lehernya. Ia seolah cuek dengan penampilannya.
Perhatiaannya hanya ditujukan untuk mengurus anak perempuannya dan perusahaan.
Banyak hal yang sudah berubah dari Altaf, jika dulu ia sangat membenci putrinya, maka sekarang ia sangat mencintai buah cintanya bersama Elena. Waktu bisa mengubah sebuah kebencian menjadi sebuah cinta. Ya itulah yang kini dirasakan oleh Altaf. Ia sangat mencintai istrinya.
"Hai anak daddy yang cantik, hari ini kita akan mengunjungi mommy dirumah sakit." Altaf mengajak anaknya berbicara meskipun ia tahu anaknya belum sepenuhnya mengerti satupun ucapannya.
Altaf belum memberi nama pada putrinya. Ia ingin istrinya yang memberi nama untuk putri mereka.
Mereka berdua segera menuju rumah sakit tempat istrinya dirawat. Ia memasuki ruang ICU tersebut setelah memakai baju khusus.
"Selamat pagi sayang, lihat hari ini aku membawa anak kita. Tapi maaf karena aku tidak bisa membawanya masuk dan melihatmu." Altaf memandang Elena dengan mata sayunya.
"Apa kamu tidak merindukannya hm, apa mimpimu sangat indah sayang hingga kamu enggan untuk bangun? Setidaknya bangunlah untuk putri kita." malaikat kecil kita sudah berusia delapan bulan." air matanya tetap jatuh bila ia mengunjungi istri tercintanya.
"Sayang hari ini anak kita sudah pandai berjalan meski masih tertatih. Dia juga sudah pandai berceloteh, Dia juga sangat pintar sepertimu."
"Sayang kami pulang dulu ya. Anak kita akan rewel kalau tidak segera ditidurkan, nanti kami akan kembali lagi." ia mengecup lembut kening Elena lalu kelar dari ruangan tersebut.
Altaf keluar dari rumah sakit sambil menggendong anaknya. Banyak mata yang tertuju nakal padanya namun ia tidak menghiraukan mereka karena baginya cinta dan matinya hanya untuk Elena.
"Kau lihat pria yang tadi menggendong seorang bayi cantik. Dia sangat tampan. Aku penasaran apa dia sudah menikah atau belum." ucap beberapa wanita yang Altaf lewati.
__ADS_1
"Kau tidak lihat, bayi itu pasti anaknya." jawab beberapa suara.
Altaf terus berjalan memuju mobilnya dan segera menyalakannya. Hari ini ia akan membawa anaknya ke kantor bersamanya.
Tatapan dingin yang ia layangkan pada beberapa karyawan wanita yang memandangnya memuja. Ia sangat tidak menyukai mereka.
Beberapa karyawan yang melewati Altaf bagai berada di daerah salju. Aura dingin yang dikeluarkan oleh mata Altaf sangat nyata hingga menembus tulang punggung mereka.
"Gila si bos auranya dingin banget." ujar beberapa karyawan disana.
"Memang sejak kapan beliau hangat. Semenjak kondisi mbak El koma pak bos seolah membatasi dirinya." ucap karyawan yang mengenal baik bos mereka.
Sesampainya Altaf di ruangannya ia segera membawa bayi mungilnya menuju box bayi yang sudah ia rancang sebelum bayinya dilahirkan.
"Anak daddy yang cantik, ayo kita tidur kamu pasti lelah kan." ucapnya sambil membelai kepala bayinya dengan penuh kasih sayang.
Kini ia mengambil peran Elena sebagai ibunya. Ia merangkap sebagai ayah dan ibu untuk buah hatinya. Ia ikhlas melakukan semuanya karena segala kepenatan akan hilang saat ia melihat senyum manis bayinya yang mengingatkannya akan senyuman istrinya.
"Sayang aku sangat merindukanmu." ucapnya lirih dan sebulir air matanya berhasil lolos.
------
__ADS_1