LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Bab 26 (Season 3)


__ADS_3

Dua hari semenjak kejadian itu, Alya mulai menjaga jarak dengan Dirga. Hidupnya sudah terlalu pelik untuk menghadapi tingkah pilah cowok itu. Belum lagi Cally mulai menaruh curiga padanya semenjak ia di antar pulang oleh cowok tersebut. Dirga yang selalu menunjukkan rasa khawatirnya.


Gadis dengan rambut pirang itu mendatangi kamar Alya.


"Gue mau ngomong sesuatu sama lo."


"Soal apa?" tanya Alya sambil membuka lembar kertas pr-nya. Dia tampak serius mengerjakan tugas.


"Gue nggak tahu apa lo ada hubungan apa sama Dirga apa nggak. Tapi, gue harap lo bisa jaga jarak."


Gadis itu mengalihkan tatapannya pada Cally. Ia tampak mengembuskan napas. "Aku nggak ada hubungan apapun sama Dirga."


"Tapi kemarin malam dia tampak khawatir saat lo nggak balik ke rumah."


"Itu hanya sebatas kekhawatiran antar sahabat, tidak lebih."


Cally meghela napas lega, setidaknya alasan itu lebih masuk akal, pikirnya.

__ADS_1


Gadis itu izin pamit dari sana. Alya melihat kepergian saudaranya dengan raut bersalah.


"Maafin aku ya Cally, aku tahu kalau kamu sangat mencintai Dirga, untuk itu aku akan menjauhinya."


Setitik air bening lolos dari maniknya, ia selalu diajarkan untuk mengedepankan saudarinya melebihi perasaannya sendiri. Jika ia sampai melukai Cally, tidak ada bedanya ia dengan para penjahat. Ia tidak mau dikenang sebagai sosok seperti itu.


๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•


Seorang pria sedang menatap sebuah foto dengan tatapan sinis. "Semua baru permulaan Aiden. Kamu mungkin bisa lolos dariku tapi putrimu, akan menjadi penggantinya."


Suara tawa lagi-lagi menggema di sepanjang ruangan tersebut. Maniknya yang setajam elang mampu membuat siapa saja merinding ketakutan. Tekadnya untuk hidup, hanya untuk membalaskan dendamnya. Meskipun jiwa mendekam di neraka, ia tidak akan pernah tenang.


"Dion, kau benar-benar anak pungut yang tidak tahu diri! Susah-susah kubesarkan dengan kemewahan, sekarang kau pun menjadi teman dari musuhku!" desisnya. Kemarahan lagi-lagi mendominasi.


"Kita akan lihat, apa kamu akan kembali menjaga Syeilla, setelah apa yang akan aku lakukan pada keluarganya." seringaian sinis menghiasi wajahnya.


Ia melihat photo seorang gadis yang tersenyum riang, tangannya selalu mengepal mengingat semuanya. Putri semata wayangnya harus mati dengan menyedihkan. Jeslyn, putrinya yang malang.

__ADS_1


Senyum penuh kerinduan menghilang diganti oleh dendam. Satu yang tidak ia ketahui bahwa kematian Jeslyn tidak ada sangkut pautnya dengan Syeilla. Namun, sebuah dendam menutup pintu hatinya.


Di lain tempat Alya sedang menatap hamparan danau buatan di taman kota. Banyak orang berlalu lalang datang dan pergi. Sore hari belum mampu membuatnya beranjak dari sana.


"Hai," sapa seseorang dari sampingnya.


Alya mengadahkan kepala melihat sumber suara. Ia tersenyum sebentar lalu kembali menatap danau.


"Apa wajahku kalah pesonanya dengan danau itu?" tanya Nevan membuat senyuman Alya terbit menghiasi wajah putihnya.


Nevan terpana melihat keindahan yang tersaji di depannya. Lesung pipi yang selama ini tersemat manis mulai tampak saat bibirnya melengkung sempurna.


"Ada apa?" tanya Alya saat Nevan tak kunjung melepas tatapan.


"Kamu cantik, kamu indah, dan kamu segalanya," ucap Nevan tulus.


Alya merasakan hatinya menghangat, ribuan kupu-kupu seperti memeluk hatinya. Musim panas bersemi di sana menciptakan rasa hangat, nyaman dan menenangkan. Nevan bagai oasis di padang gurun.

__ADS_1


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


__ADS_2