
Sudah satu minggu lamanya Cally mendominasi perhatian kedua orang tuanya. Ia selalu menggunakan alibi rindu agar Syeilla dan Aiden semakin memperhatikannya.
Bagi Alya semua tidak masalah, karena selama ini ia juga sudah banyak mendapat kasih sayang. Berbeda jauh dengan saudarinya.
Cally juga mulai merebut apa yang dimiliki Alya. Kembarannya sekolah di tempat yang sama dengan dia, bahkan mereka juga satu kelas.
Awal kedatangan Cally sebagai siswa baru di sana, berhasil menjadi pusat perhatian seluruh siswa SMA Pelita Harapan. Penampilannya yang modis serta rambut kepirangan dengan kulit putih pualam, matanya sebiru samudra. Dewi afrodit sedang memberkahinya dengan segala pesona yang ia miliki.
Kehadiran Cally membuat Bella was-was. Pasalnya Dirga kerap memperhatikan gadis itu dengan intens. Bahkan Alya sendiri pernah memegokinya. Sakit? Tentu saja, kebersamaannya dengan Bella saja sudah membuat Alya tersiksa. Apalagi jika Dirga mendekati Cally lalu mereka jadian. Tamat sudah perasaan Alya.
Gadis itu sedang duduk termenung di mejanya. Sudah dua minggu lamanya Aluka tidak sekolah. Hal tersebut membuatnya khawatir, di kelas ia kesepian semenjak Dirga memutuskan dia. Teman-temannya perlahan menjauh.
Seketika kelas menjadi heboh saat Cally datang dengan Dirga sambil membawa beberapa cemilan dari kantin. Alya tidak ingin ambil pusing akan kelakuan saudarinya.
"Lo baik, nggak kayak saudara lo yang bibit pelakor." Cindy wanita paling antusias jika Alya dibully.
"Ya jelas bedalah, Cally didikan luar negeri, lah dia didikan micin." ejek beberapa siswa.
Alya hanya diam tanpa mengubris. Menurutnya terlalu berharga jika waktunya dibuang untuk menanggapi manusia ampas seeprti mereka.
Cowok itu kini duduk bersama Cally dan melupakan Bella. Ia lebih tertarik pada kembaran mantan kekasihnya. Jauh lebih cantik dari Bella maupun Alya.
Jam mereka sedang lenggang karena guru mereka sedang rapat. Alya kembali merasakan jantungnya berdenyut lebih cepat. Ia melihat sekeliling. Siswa yang lain sedang asyik dengan urusan mereka sendiri.
Alya mengambil sesuatu dari tasnya lalu meneguk benda tersebut dengan cepat. Tanpa ia sadari Dirga melihat semuanya. Kening cowok tersebut terlihat mengernyit.
__ADS_1
"Lo kenapa?" tanya Cally saat tatapan Dirga beralih.
"Gue ngeliat saudari lo minum sesuatu."
"Oh, itu obat pusing. Alya sering pusing mungkin efek sering begadang kali." seu Cally dengan cuek.
Di kursinya, Alya memilih merebahkan diri ke meja, tubuhnya sangat lelah jika terus duduk. Sesekali napasnya terlihat berat. Alya tidur dengan pulas sampai todak mengingat jam pelajaran telah usai.
Dirga dan Cally segera berkemas tanpa melihat ke arah Alya. Semua siswa di sana mengabaikan Alya dan langsung pergi. Setelah kelas kosong waktunya penjaga sekolah bertugas. Pria paruh baya tersebut mulai menutup kelas dari luar.
Sesampainya di rumah, Syeilla menanyakan keberadaan Alya karena saat putrinya pulang tidak bersama saudari kembarnya.
"Nak, Alya mana?"
"Katanya main sama temennya Ma."
"Entahlah, Ma. Cally masuk dulu ya, mau mandi Ma."
Syeilla menganguk, sesekali ia melihat jam. Ia sangat khawatir pada Alya.
Sore pun telah menjelang. Namun, Alya belum juga kembali ke rumah. Hal tersebut semakin membuat Syeilla was-was. Ia segera menghubungi suaminya dan menceritakan soal ketiadaan Alya. Aiden yang sedang meeting oun segera mengakhiri pertemuan mereka. Ia segera kembali ke rumah.
Tepat pukul 19:30 WIB. Alya belum kunjung kembali. Kemudian Syeilla ingat soal putrinya pergi ke rumah temannya. Setahu Syeilla hanya Dirga teman satu-satunya. Ia segera memanggil Dirga.
"Assalamualaikum, Tante. Ada apa?" tanyanya dari seberang.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Nak. Apa Alya sedang bersama kamu?" tanya Syeilla penuh harap.
"Tidak ada Tante, memangnya Alya belum kembali?"
"Belum Dirga, Tante sangat khawatir."
Jantung Dirga berdetak kencang, ia ingat, terakhir Alya tidur di kelas. Ia tersadar dan langsung mematikan ponselnya. Cowok itu buru-buru keluar dengan mobil audi-nya. Memecah keramaian malam sampai ia berada di depan sekolah. Dirga segera memanjat pagar sekolah dan menuju kelasnya. Sesekali ia merinding dengan suasana sekolah. Perlahan ia membuka kelas dan menemukan Alya meringkuk di sudut ruangan.
Dirga menghampiri Alya hendak memeluknya. Namun, gadis itu memberontak. Tubuhnya terlihat gemetar dengan wajah memucat.
"Ini aku, Alya." Dirga kembali hendak meraihnya dalam pelukan. Tapi kembali Alya menolaknya.
"Tolong jangan ganggu saya." bisiknya dengan suara bergetar.
Dirga terenyuh melihat Alya. Ia mendekat lalu menatao mata Alya dengan lembut.
"Ssttt ... sunshine, ini aku," ucapnya lembut. Alya menatap mata dirga lalu memeluk cowok tersebut.
"Aku takut," ucapnya pelan.
Dirga mengelus puncak kepalanya dengan sayang.
"Ada aku sunshine," ucap Dirga menenangkan Alya.
Dirga segera menggendong Alya keluar dari sana. Keduanya memanjat pagar dan berhasil keluar dari sekolah. Kini mereka sudah berada dalam mobil. Dirga menatap sendu wajah pucat Alya. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Di jalanan sepi Dirga menghentikan mobilnya yang tanpa sengaja menginjak paku. Kini mereka terjebak di sana. Dirga tidak membawa ponsel sedangkan ponsel. Alya kehabisan daya.
__ADS_1
Ia menatap Alya dalam, saat gadis itu terlihat gemetar. Dirga pindah ke kursi Alya lalu merebahkannya. Dirga melepas kaosnya dan juga baju sekolah yang Alya kenakan sampai hanya tersisa baju singlet. Ia menyatukan tubuh mereka sampai Alya tubuh Alya kembali hangat. Mereka berdua tidur dalam posisi pelukan sampai pagi.