
Akhir dari sebuah kisah cinderela yang awalnya menyedihkan pada akhirnya bahagia. Itulah kondisi yang sesuai menggambarkan kisah dari mereka semuanya. Setiap cerita pahit akan berujung bahagia dengan satu kunci kehidupan, Sabar.
Sabarnya Syeilla membawanya menapaki indahnya kehidupan berumah tangga. Pahitnya kehilangan dan penyesalan menyadarkan Aiden untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Rumitnya kehidupan Dion mampu membawanya pada kisah ending bahagia saat bertemu dengan Auxillia. Ruwehnya masa kecil Elka membawanya jadi pribadi yang lebih terbuka dan bangkit menggapai mimpinya. Sesaknya kehidupan Ariel dan Zia membawa keduanya pada kehidupan yang lebih baik dan saling melengkapi.
Cinta....
Satu kata yang memiliki banyak makna bagi kehidupan manusia. Berbeda, membuat semuanya terasa indah tanpa memandang persamaan. Jatuh bangun dan bangkit menjadi sarapan mereka sehari-hari hingga bisa mencapai kebahagiaan seperti sekarang.
Aiden mengantar kedua buah hatinya dengan mengemdarai mobil audi kesayangan istrinya. Tidak terasa empat tahun sudah berlalu dan kini kedua putri Syeilla sudah berusia enam tahun hampir menginjak usia tujuh tahun.
Dari kejauhan terlihat Ariel juga mengantar bauh hatinya ke salah satu TK terpadu dan terbaik di lingkungan mereka tinggal. Anaknya berusia enam tahun. Di sekolah ini mereka tidak hanya menyediakan jenjang pendidikan TK semata. Namun, sudah tersedia mulai dari TK, SD, SMP dan SMA.
"Nasib bapak-bapak gini banget ya?, pagi-pagi malah ngantarin anak ke sekolah," ujar Ariel sambil tersenyum.
"Disyukuri aja, Bro. Emang mau Zia yang ngantar Dirga dan digodain sama salah satu orang tua murid di sini?" tanya Ariel yang sejujurnya juga melarang istrinya menampakkan wajah di TK ini. Kecuali saat bersamanya. Secara istrinya cantik bak bidadari surga.
"Ahh mengingat insiden itu, rasanya ingin kupecahkan kepala lelaki brengsek itu. Nggak lihat apa Zia lagi bunting begitu malah digodain. Saraf emang itu kecebong." gerget Ariel dengan kesal. Aiden hanya bisa tertawa saat mengingatnya.
"Bagaimana kondisi Zia?" tanya Aiden serius.
"Ya gitu, kerjaannya kalau nggak nabokin aku ya pasti ini," tunjuk Ariel pada lengannya yang memerah dan bekas gigitan tertempel nyata di sana.
"Ganas ternyata," kekeh Aiden sedikit mengejek. Namun, ia samarkan dengan hawa cueknya.
__ADS_1
"Setidaknya aku masih ringan. Daripada Elka. Mau mesra-mesraan malah ditendang sama anaknya. Padahal masih dalam kandungan." kepala keduanya tampak menggeleng tak percaya.
"Terus bagaimana mereka tidur?" radar kekepoan Aiden mulai aktif. Tampang cool nya lenyap ditelan rasa penasarannya.
"Hemmm,,, katanya mereka tidur saling memunghungi. Bahkan tangannya saja tidak boleh memeluk perut buncit istrinya. Gila! Anaknya terlalu aktif." decak Ariel. Keduanya berjalan ke tempat penjual es krim. Ternyata menggosip bikin gerah, pikir keduanya.
"Terus.... Terus..."
"Menurutku ya, ini semacam karma. Sewaktu dia bilang kamu pembantu sejati, dia ketawa dengan lebar. Nah, ini pasti balasannya." beritahu Ariel membuat Aiden berpikir untuk mengingat saat itu.
"Kau benar, aku setuju mengenai balasannya." ucap Aiden setelah mendapat hidayah mengenai ingatannya pada peristiwa itu.
"Makanya, nanti pas anaknya lahiran, kita nyumbang ketawa aja," keduanya tertawa jahat sambil memakan es krim anak SD dengan lahap.
"Apa?" tanya Aiden yang menilai Ariel terlalu lebai.
"Aku lupa mampir ke pasar. Si Nyonya ngidam masakan kampung," Ariel segera membayar dengan uang seratus ribu padahal harga semuanya hanya sepuluh ribu.
"Mas saya tidak ada kembaliannya, bagaimana kalau, Mas bayarnya kapan-kapan aja." ujar penjual tersebut sambil kembali menyerahkan uangnya.
Ariel mengambil uangnya dan kembali memberikan lima lembar uang merah karena Bapak tersebut sangat baik.
"Pak, tidak perlu banyak bertanya dan jangan menolak. Istri saya bisa ngamuk kalau saya berlama-lama di sini. Anggap ini sebagai rezeki bapak." Ariel segera pergi dari sana dan terlihat tergesa-gesa.
__ADS_1
"Pak, saya juga pamit. Ini ada sedikit rezeki dari saya," Aiden memberikan satu juta dan segera melipir dari sana. Ia teringat sesuatu. Istrinya menitip untuk dibelikan soimah eh somai.
"Ternyata ini alasan kenapa bergosip itu tidak baik," gumamnya dan menghilang dari sana.
Kehidupan yang dijalani dengan ikhlas dan menjalin persahabatan dari sebuah permusuhan pada akhirnya lebih erat. Jalinan persaudaraan yang kuat dan tidak bisa tergoyahkan lagi sekencang apapun angin menerpanya. Itulah mereka. Keluarga yang berawal dari sebuah kesakitan. Namun, berhasil bangkit dan menjadi keluarga CEMARA.
Kisah ini berakhir di sini.... Sampai bertemu tahun depan πππ
β€β€β€β€β€
Heloooowwwwwww semuanya.....
Season 2 berakhir di sini yahhhhh.....
Sampai bertemu tahun depan....
Btw, kalian boleh reques untuk season 3 ya mau comedi, serius, serius pakek banget, bantai membantai atau horor hahahhha... Atau dibanyakin pelakor. Kalian boleh banget reques yakkk... Aku tungguuuu lohhhhh....
Babaiiiiiii semuanya.....
Kita akan bertemu di bulan Januari tahun depan. Kiss bay muaaahhhhh πππππππ
AKU TUNGGU REQUESNYA HAHAHAHHA..... BUBAY ππππ
__ADS_1