
Pagi itu Syeilla sedang duduk di taman bunga milik neneknya. Ia melihat banyak bunga mawar yang sangat indah disana. Diantara banyaknya mawar seperti mawar merah, mawar putih, mawar pink, mawar orange, mawar kuning, ada salah satu mawar yang sangat menarik perhatiannya sedari tadi, yakni mawar biru.
Ia ingin menjadi seperti mawar biru yang penuh dengan misteri, ia ingin seperti mawar biru sehingga orang tidak akan mudah untuk menebaknya, ia ingin terlihat seperti mawar biru yang indah namun tidak dapat disentuh oleh siapapun. Ia ingin menjadi mawar biru yang selalu disayangi.
"Syeilla sayang lagi apa disini hm" tanya sebuah suara dengan lembut. "Nenek, Syeilla sedang bosan saja di dalam makanya Syeilla kemari. Disini banyak bunga yang sangat indah" ujarnya dengan senyum kecilnya.
"Apa yang kamu sukai dari semua bunga yang ada disini?" tanya Aisyah dengan antusias.
"Syeilla sangat menyukai semua bunga yang ada disini nek, tapi ada satu bunga yang Syeilla ingin menjadi seperti bunga itu"
"Bunga apa sayang?" tanya Aisyah sembari melihat ke sekelilingnya.
"Mawar biru" tunjuk Syeilla pada mawar yang terdapat di tengah-tengah hamparan bunga mawar lainnya. Bahkan untuk menjangkaunya saja kita akan kesulitan karena dikelilingi oleh mawar merah dengan duri yang tajam.
"Kenapa ingin seperti mawar biru sayang?"
Syeilla menatap mata neneknya dengan hangat kemudian mengalihkan tatapannya pada objek yang ia sukai sedari tadi.
"Mawar biru melambangkan banyak arti dan salah satunya adalah misterius. Syeilla ingin seperti mawar biru yang misterius sehingga orang tidak akan tau apa yang sudah Syeilla lalui. Syeilla ingin seperti mawar biru yang indah dipandang namun sulit dilupakan" Syeilla menatap wajah neneknya dengan sendu. Aisyah memeluk cucu kesayangannya sambil berucap.
"Nenek akan membantumu agar menjadi seperti mawar biru itu" Aisyah tersenyum misterius bahkan Syeilla tidak tau arti dari senyuman tersebut.
Elena kecil tampak melihat kakak dan neneknya sedang berpelukan di sebuah taman mini milik neneknya. Ia sangat iri saat melihat hubungan baik mereka berdua. Ia juga ingin merasakan hangatnya pelukan seorang nenek yang belum pernah ia dapatkan selama ini. Demian melihat sendu cucu kesayangannya. Matanya menatap pemandangan yang membuat hati cucu tercintanya menjadi sedih, ia segera menghampiri Elena lalu menghiburnya.
"Sayang, kenapa murung begini hm? Ayo cerita sama kakek" ujar Demian dengan lembut.
Elena menggelengkan kepalanya dengan lesu kemudian setetes air matanya jatuh mengenai pipi mulusnya. "Elena sayang nenek, Elena juga ingin disayang seperti nenek menyayangi kakak" ujar Elena kecil sembari menangis. Demian mengusap kepala cucu kesayangannya dengan lembut kemudian mengajak Elena pergi untuk bermain ke sebuah taman.
"Bagaimana kalau kakek mengajak Elena ke taman saja. Nanti sampai disana kakek akan membelikan es krim untuk cucu kesayangan kakek ini" bujuk Demian yang berhasil membuat sebuah senyuman terbit di bibir mungil Elena.
"Elena mau kakek. Elena mau" ujar Elena dengan antusias. Demian yang melihat binar senyum kebahagiaan kembali terpancar di wajah cucunya pun merasa senang.
"Kalau begitu mari kita berangkat" ujar Demian dengan nada girangnya yang langsung diangguki oleh Elena dengan antusias.
Mereka berdua pun segera berangkat menuju taman hiburan seperti yang Demian janjikan.
"Kita sampai" teriak Elena dengan gembira. Demian hanya mengikuti Elena dari belakang sesekali ia tertawa melihat betapa antusiasnya Elena saat bermain perosotan.
__ADS_1
"Hati-hati sayang jangan sampai jatuh" teriak Demian yang di angguki oleh Elena.
Di sela kesibukannya mengamati Elena sebuah panggilan masuk ke handphone Demian. Ia melihat nama pemanggil dan ternyata nomor tidak dikenal karena penasaran ia pun segera memgangkatnya.
"Halo" ucapnya sesaat setelah ia mengangkat panggilan tersebut.
"Halo Demian" sapa sebuah suara dari seberang sana. Demian pun mengernyitkan keningnya dengan bingung. Pasalnya ia sangat mengetahui suara si penelpon.
"Ada apa kau memanggilku" ujar Demian dengan dingin.
Sebuah kekehan terdengar di seberang sana.
"Oh ayolah Demian jangan terlalu kaku begitu nanti kau bisa jantungan. Ah cucu mu terlihat sangat cantik Demian" ujar si penelpon dengan misterius. Sontak Demian pun kaget dan segera mengedarkan pandangannya ke segala arah berharap bisa menemukan bedebah yang saat ini sedang menelponnya.
"Jangan macam-macam dengan cucuku, kalau tidak kau akan menanggung akibatnya" ancam Demian dengan geram sedangkan seseorang di seberang sana masih tertawa mengejek.
"Ah kau bahkan tidak pernah menyayanginya lalu untuk apa kau peduli padanya. Hei diam kau" teriak orang tersebut pada sebuah suara yang sedari tadi memberontak.
"Syeilla" gumam Demian dengan pelan. Namun tampaknya seseorang yang diseberang sana mendengar gumamannya. "Apa kau mau menyapanya untuk yang terakhir kalinya karena kemungkinan besar mayatnya besok akan sampai ke depan rumahmu" kekeh seseorang di seberang sana. Demian pun mengepalkan tangannya dengan erat.
"Jangan berani-beraninya kau menyentuh cucuku. Kalau ada sehelai rambut pun yang jatuh kau akan tau akibatnya. Kau tau aku tidak pernah main-main dengan ucapanku Roy" desis Demian dengan dingin.
"Diam kau gadis sialan" teriak Roy dengan marah.
"Ah apa kau mau melihat wajah cucumu untuk terakhir kalinya" ujar Roy mencemooh. Ia pun segera mematikan panggilannya dan beralih ke mode video call. Demian bisa melihat tubuh kecil Syeilla sedang terikat di sebuah kursi dengan wajah babak belur.
"Kurang ajar kau!!" teriak Demian saat melihat betapa menyedihkannya penampilan Syeilla. Syeilla yang mendengar suara kakeknya sedang berteriak segera mengangkat kepalanya dan tersenyum menatap wajah tua yang untuk pertama kalinya peduli padanya. Sedangkan Roy hanya tertawa remeh melihat betapa tak berdayanya seorang Demian.
"Biarkan aku berbicara dengan cucuku" ujarnya dengan dingin. Roy pun segera mendekatkan telepon teraebut ke wajah Syeilla. "Bicaralah, tapi jangan berani macam-macam" ancam Roy sembari menatap Syeilla dengan tajam.
Syeilla pun menatap wajah khawatir kakeknya dengan sendu. Ia kemudian tersenyum lembut saat wajah tua itu menatapnya dengan sayang. Setidaknya ia harus menampilkan senyum bahagianya sebelum menjadi mayat keesokan harinya.
"Kakek, apa pun yang akan mereka katakan jangan kakek turuti ya. Mereka orang-orang licik kek" ujar Syeilla dengan pelan. Demian bahkan tidak tau harus mengatakan apa. Namun sepertinya Roy mendengar ucapan Syeilla dan dengan kuat ia menampar wajah Syeilla hingga darah segar mengalir dari kedua sudut bibirnya.
"Hentikan!!!!" teriak Demian saat melihat cucunya di tampar sedemikian kerasnya. "Apa maumu bajingan" teriak Demian dengan geram.
"Ah kau sungguh peramah ternyata, kemana kesombongan seorang Demian satu tahun yang lalu" kekeh Roy saat melihat wajah Demian yang merah padam namun tak berdaya untuk melawannya.
__ADS_1
"Katakan saja apa maumu brengsek dan lepaskan cucu ku" geram Demian dengan kesal.
"Baiklah tuan Demian yang terhormat dengarkan permintaanku dengan baik.
"Aku menginginkan perusahaan raksasamu dan kau harus menyerahkannya paling lambat besok pagi atau kalau tidak mayat gadis sialan ini akan terbujur kaku di depan pintu rumahmu. Apa kau mengerti?" ujar Roy sambil menyeringai kejam.
"Itu tidak mungkin Roy. Kau sendiri tau bahwa itu tidaklah mungkin"
"Apanya yang tidak mungkin. Aku bahkan tidak mau tau apapun alasanmu atau kau mau aku membunuh cucumu" ancam Roy sambil meletakkan pisau kecil tepat di leher putih Syeilla.
Syeilla yang melihat betapa tak berdayanya sosok kakek yang sangat ia cintai dalam diamnya pun merasa tak tega. Ia tidak ingin perusahaan kakenya harus jatuh di tangan orang brengsek seperti mereka hanya untuk menyelamatkan dirinya.
"Kakek jangan lakukan apapun" teriak Syeilla dengan keras lalu mata pisau tersebut perlahan menggores leher mulusnya. Syeilla bahkan tidak berteriak sedikitpun. Ia mencoba menahan sakitnya yang sangat luar biasa agar Demian tidak cemas. Ia tidak perlu diselamatkan asal ia tau bahwa dibalik sikap dingin kakenya ternyata ia juga disayangi meski dengan cara yang berbeda.
Air mata Demian bahkan sampai jatuh saat melihat darah sudah mengalir deras dari leher kecil cucunya. "Hentikan!!!!" teriaknya. "Aku akan melakukannya untukmu. Akan aku lakukan tapi tolong lepaskan cucuku" pinta Demian dengan memohon.
"Ah aku suka kalau kau memohon seperti itu.. Lanjutkan" tawa Roy pun pecah di seberang sana.
"Aku mohon padamu hentikan. Aku akan memberikan apaoun yang kau inginkan tapi tolong lepaskan cucuku" ujar Demian dengan lemah.
"Baiklah" ujar Roy kemudian mematikan panggilannya.
"Kakek" teriak Elena yang sudah selesai bermain.
"Sayang kita harus segera pulang" ujar Demian dengan lembut.
"Tapi kek Elena masih mau bermain" rengek Elena dengan manja.
"Sayang kakak kamu sedang sakit makanya kita harus pulang" ujar Demian meminta pengertian.
Elena pun menganggukkan kepalanya dan mereka segera pulang namun naas di tengah perjalanan mobil mereka dihadang oleh sekelompok orang sehingga Demian membanting stir dan menabrak pembatas jalan. Mobilnya pun meluncur bebas ke dalam sebuah jurang.
Bruk....
Brak
Tar....
__ADS_1
❤❤❤❤❤
Btw aku nggak tau suara dentuman iti kayak apa 😁😁😁