
Ariel dan Zia baru saja kembali dari bulan madu mereka di Inggris, Seperti pasangan pada umumnya, mereka sangat berbunga di setiap kesempatan. Wajah dan prilaku tak jauh berbeda dengan pasangan yang sedang kasmaran.
"Honey, di mana jas yang kamu belikan tempo hari?" teriak Ariel pada Zia yang sedang berada di kamar mandi.
"Laci tempat biasa kamu meletakkan dasi."
Ariel mendengus. Ia sudah membangun aura keromantisan dan istrinya selalu merusaknya.
"Honey, bisakah kamu memanggilku sayang, atau suami, husband, hubby, bebeb?" teriak Ariel.
"Memangnya apa bedanya, kau tetap suamiku." decak Zia dari dalam kamar mandi.
"Tentu saja berbeda. Kau ini?" kesal Ariel.
"Itu, kamu barusan barusan memanggilku dengan 'kau' aku tidak marah." kekeh Zia yang sukses membuat Ariel ingin menenggelamkan wajahnya ke sungai amazon yang dipenuhi ikan piranha.
"Aku pergi." teriak Ariel, tanpa menunggu Zia selesai dengan aktivitasnya.
"Hati-hati." teriak Zia.
Ariel kembali lagi ke dalam.
"Apa tidak ada ciuman selamat bekerja?" Zia terkekeh di dalam. Ia menselonjorkan kepalanya dibalik pintu kamar mandi.
"Kemarilah." panggilnya. Ariel segera menghampiri Zia.
Cup... cup
Blam
__ADS_1
Dua kecupan mendarat di bibir dan keningnya sebelum Zia menutup pintu. Ariel hanya pasrah dan berangkat bekerja dengan hati setengah berbunga.
Zia terkikik dalam kamar mandi. Semenjak menikah sikap Ariel melebihi anak remaja pada umumnya yang sedang jatuh cinta.
Setelah selesai Zia keluar dari kamar mandi, ia segera memakai pakaiannya. Pagi ini ia akan menemui Syeilla.
"Honey." bisik sebuah suara dari balik tubuhnya membuat bulu roma Zia merinding.
Bukankah suaminya sudah pergi? Lalu siapa yang memanggilnya?
Tangan kekar itu kini melingkari perutnya. Ia dapat melihat cincin pernimahannya teesemat indah di sana.
"Kenapa belum pergi?" tanya Zia masih menyelesaikan memakai bajunya meskipun tangan suaminya masih betah melingkar seperti lintah.
Ia selesai memakai baju, membalikkan badannya dan menatap Ariel dengan tajam.
"Kenapa masih di sini?" Zia kembali mengulang pertanyaannya.
"Jadi menempel seperti lintah, maksudnya apa?" selidik Zia dengan wajah menyipit curiga. Ariel cengengesan di tempatnya.
"Mengulang yang semalam honey."
"Suamiku... Hari ini istrimu yang cantik ini akan pergi ke rumah Syeilla, kamu tidak ingin ke sana?" tanya Zia sambil memasang wajah 1000 watt nya.
"Ah baiklah honey, mas ikut. Sudah lama juga tidak bertemu dengan mereka. Kira-kira Elka di mana ya?" tanya nya.
"Mana aku tau, palingan lagi sama Dion." Ariel dibuat gemas dengan tingkah Zia yang tidak mau memanggilnya husband. Harus dengan cara apa lagi, agar Zia mau.
"Kenapa diam?"
__ADS_1
"Sedang menikmati wajah cantikmu honey." kekeh Ariel sambil mencuri sebuah ciuman. Tidak dapat bibir lubang hidung pun jadi. Lagian hidung istrinya bersih dan wangi.
"Kamu mau pergi kapan?" tanya Zia saat tangan Ariel masih melingkar manja di perutnya.
"Pergi sekarang sayang." jawabnya dengan wajah polos.
"Dengan tangan melingkari perutku?" Ariel tampak terkejud, ia baru sadar kalau tangannya masih melingkar manja di perut ramping istrinya.
"Hehehe maaf sayang, husband khilaf." cengirnya dengan nista.
"Ya, sudah. Ayo kita peegi sekarang. Nanti mereka pergi ke tempat lain."
"Itu lebih bagus kan." gumam Ariel pelan.
"Apa?"
"Tidak ada honey. Ayo." merka segera pergi menuju istana Syeilla dan Aiden sambil membawa bingkisan khusus keduanya. Sedangkan untuk Dion dan Elka, Zia juga sudah menyediakannya.
❤❤❤❤❤
Autor tidur siang dulu yahhh... Mata sudah sakit wkwkkkw... Babay.
**Guys jangan lupa mampir ke lapak emak sama eyang kuhh yakk....
Emak Depa Drew
Judul : First Night
Eyang Ratna Aleefa
__ADS_1
Judul : Virtual Friend
Mereka jebolan penulis yang karyanya lumayan diperhitungkan. Tulisan mereka juga bagus. Silahkan mampir yes 😘**