LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Part 21 (S2)


__ADS_3

Di kediaman Auxillia, Rose menghampiri putrinya yang tampak sedang murung di kamarnya. Ia tidak mengerti bagaimana bisa putrinya memiliki sifat seperti sekarang, padahal dulu Auxillia termasuk sosok yang ceria, penuh tekad, semangat yang kuar biasa, dan cerewet.


"Nak, ada apa hm?" tanya Rose dengan lembut.


"Ma, bagaimana rasanya jatuh cinta?" tanya Auxillia to the point.


Rose yang mendengar pertanyaan putrinya pun tersenyum penuh makna.


"Jadi sekarang putri mama sedang jatuh cinta?" tanya Rose sambil mencolek dagu Auxillia yang tampak malu-malu.


"Bukan begiti ma, hanya saja iya." jawabnya tidak yakin. Seolah menyadari jawabannya ia pun membekap mulutnya.


Rose tampak tertawa, putrinya sungguh lucu. Kalau mau mengelak ya mengelak saja tapi ini, bilang tidak kemudian jawab iya. Rose menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya.


"Jadi siapa pria beruntung itu?"


"Dia karyawan papa ma, dan dia sangat cuek." keluh Auxillia.


"Pria cuek itu lebih menantang sayang."


"Benarkah ma? Tapi menyakitkan hati." gerutunya.


Rose tersenyum mendengar gerutuan putrinya, apa perlu mama jodohkan?" pancing Rose. Ia mau melihat bagaimana reaksi putrinya.

__ADS_1


"Mama, jangan. Auxillia tidak mau menikah dengannya kalau dia tidak mencintai Xia ma." ujarnya dengan lesu. Ia tidak ingin seperti cerita dalam novel yang awalnya benci menjadi cinta. Karena ia tau, Dion tidak akan pernah menjadi sosok seperti itu.


"Nak, terkadang cinta itu butuh perjuangan dan diperjuangkan. Kamu mau di pihak mana pun mama akan tetap mendukung kamu, asal kamu bahagia dengan pilihan kamu." ujar Rose memeluk sayang putrinya.


"Nak, apa kamu tidak ingin kembali menjadi desainer?" tanya Rose dengan hati-hati. Ia bukan ingin mengingat luka lama putrinya hanya saja desainer adalah impian putrinya sejak ia kecil.


"Aku belum siap ma. Nanti kalau sudah benar-benar siap, aku akan kembali menjadi desainer." jawab Auxillia.


Ia tidak tau bagaimana jika ia menjadi desainer, bisa-bisa pelanggannya kabur semua melihat desainnya. Ia juga tidak bisa menggambar dengan jelas.


""""""""


Elka sedang makan di cafe chocolate, saat itu ia mengajak Dion serta namun mengingat pria itu yang sedang masa sensitive nya akhirnya ia pergi sendiri. Ia berada di keraiaman namun anehnya bulu kuduknya berdiri tegak seolah ada hal menyeramkan yang akan menghampirinya. Tangannya bahkan sudah berkeringat dingin. Apa iya, kuntilanak bisa mengikuti sampai ke Rusia. Pertanyaannya, apakah kuntilanak bisa hidup mandiri di Rusia, secara negara ini bukan habitatnya. Elka sudah berpikiran jauh dari norma-norma kewarasan.


Ia berbalik mana tau ada mbak kunti mengekorinya namun kosong. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Ia kembali melihat ke depan namun alangkah kagetnya ia sampai terjengkang ke belakang.


Disana, Zia berdiri dengan wajah seperti hendak memakan orang. Kini Elka sadar bahwa wajar bulu kuduknya berdiri, emak kuntilanaknya yang dari tadi mengikutinya.


"Apa kau sudah bosan hidup tenang?" desis Zia sambil membawa sebuah gunting kecil yang biasa digunakan untuk mereka yang suka mendekorasi ruangan.


"Ap... Apa maksudmu?" tanya Elka dengan tergagap. Siaoa yang tidak takut saat melihat seseorang membawa benda tajam, bukankah gunting termasuk tajam? Elka mulai berpikir ngaur.


"Tunggu... Apa yang kau lakukan dengan gunting itu?" tanya Elka dengan horor.

__ADS_1


"Zia memainkan guntingnya sambil melirik nista ke arah sesuatu, dengan spontan Elka menutupi area yang tadi ditatap oleh Zia.


"Zia, bertobatlah sebelum terlambat." tegur Elka dengan tangan gemetar. Ia pernah membaca sebuah berita bahwa kaum wanita itu mengerikan jika sudah marah. Mereka tidak akan segan-segan menghabisi nyawa suami mereka sendiri jika sudah sakit hati.


"Kau tau, apa kesalahanmu?" tanya Zia sambil berjalan mendekat.


"Ti.. Ti.. Aku tau." teriak Elka dengan napas memburu.


"Katakan."


"Maaf, semalam aku menonton film gore. Maafkan aku."


Apa hubungannya, dasar Elka.


Zia berdecak dengan kesal sambil memasukkan gunting yang akan ia perlukan di apartemennya.


"Kau, ikut aku." tunjuk Zia tanpa bisa dibantah.


❤❤❤❤


Masih mau???


Masih mau???

__ADS_1


Atau udah cukup??


__ADS_2