
Cally menatap nanar tubuh yang kini tergeletak tak berdaya di depannya. Genangan darah membanjiri kasarnya permukaan aspal yang ia lewati. Wajahnya terlihat pucat dengan bibir bergetar menahan tangisan.
"Gue sekarang pembunuh," ucapnya dengan tatapan kosong. Air matanya perlahan mengalir membasahi pipi mulusnya.
"Gue... gue pembunuh!" teriaknya dengan syok setelah lima menit terpegun seperti manekin.
Nevan keluar dari mobilnya sambil melipat kedua tangan di dada.
"Lo sehat nggak?" tangannya menyentuh kening Cally sambil manggut-manggut.
"Lumayan stres, lo mau gue buka bimbingan?" tanya Nevan serius.
Cally menatap mata Nevan dengan suara bergetar sambil terisak.
"Lo... lo lihat, gue udah jadi pembunuh Nevan. Lo lihat!" teriaknya.
Aiden melirik tubuh yang kini sudah tidak lagi bernyawa sambil meringis.
"Kita doakan aja untuk ketenangannya. Lo jangan nangis lagi, sekarang lo tarik napas dan istighfar."
Cally mengikuti saran Nevan, sesekali matanya menatap ngeri mayat yang kini terlihat mengenaskan.
"Maafin gue ya mbek, gue nggak maksud nabrak lo. Maafin gue," tangisnya pecah dalam pelukan Nevan yang kini sedang tersenyum nista.
"Lo bukan pembunuh karena semua bukan disengaja. Nanti kita kuburin biar arwahnya nggak gentayangan terus bayar uang ganti rugi." terang Nevan menenangkan Cally.
"Tapi gue udah nabrak dia sampai mati. Lo bisa bayangin nggak? Keluarganya lagi nunggu kepulangannya." isaknya tersedu.
Nevan memutar bola matanya kesal. "Terus lo maunya apa?"
Cally mengelap ingusnya yang sempat mengintip dengan malu-malu.
__ADS_1
"Kita harus bawa dan cari rumahnya. Gue nggak mau masuk penjara."
"Oke, sekarang lo tenang dulu, kita akan bawa dia dan mencari rumahnya." Nevan menenangkan Cally agar tidak lagi menangis.
"Makasih ya, lo udah mau bantuin gue," ucap Cally tersenyum tulus.
Jantung Nevan berdendang ria saat senyuman Cally membuatnya lumpuh.
"Sa... sama-sama," tuturnya dengan gugup.
Keduanya hendak membawa tubuh tersebut masuk ke dalam mobil. Namun, seorang bapak tua menghampiri keduanya dengan raut marah.
"Kalian apakan Lucinta?" tanyanya marah.
Tubuh Cally membeku, ketakutan terlihat dari kedua bola matanya. Ia menatap Nevan dengan bibir bergetar.
"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja menabrak...," Nevan melirik tubuh tersebut dengan lidah kelu. "Lu... cinta."
"Lucinta, betapa malang nasibmu." sesal pria tua tersebut dengan sedih.
"Maafkan kami, Pak. Kami akan bertanggung jawab." ucap Aidan pelan.
Pria tua itu mengalihkan atensi pada keduanya. Ia bangun dari tersimpuhnya.
"Kalian tahu? Dia sudah saya anggap seperti anak sendiri, meskipun hanya seekor kambing," ucapnya tegas.
"Berapa yang harus kami bayar, Pak?"
"Kalian tidak perlu membayarnya, Lucinta bukan sesuatu yang bisa dibayar dengan uang."
Aidan dan Cally saling bertatapan, "lalu...?" tanya keduanya heran.
__ADS_1
"Kalau kalian bersedia, sumbangkan saja pada masjid yang di depan." Tunjuk pria tua tersebut dengan senyum ikhlas.
"Baiklah, terima kasih, Pak." ucap keduanya dan segera mengendarai kenderaan masing-masing dan menunaikan titah dari bapak tua tadi.
***
Dirgantara menghampiri Alia. Cowok dengan wajah setampan Al-Ghazali. Netra kecokelatan menampilkan sinar laser. Alisnya tersusun rapi dan sehitam bulu gagak. Garis-garis di sudut matanya seperti sarang laba-laba yang halus dan dilukis sempurna. Bibir seksinya yang tersenyum membentuk bulan sabit semakin mempesona dengan dua selung pipinya.
Mata elangnya menatap tajam sosok lelaki yang kini sedang duduk di samping sahabatnya, Alia.
"Minggir lo!" tunjuknya penuh penekanan. Aura yang tercipta bak eksekusi pembunuh kelas kakap.
Cowok yang biasa disapa Kasep pun segera angkat pantat dari kursinya dengan wajah ketakutan. Dirga adalah cowok dengan aura terpekat di sekolah SMK Yadika Jakarta.
Alia menatap Dirga sambil tersenyum kecil. Dirga duduk di samping Alia. "Kasep cuma nanyak soal matematika tadi pagi, Ga."
"Tetep aja, gue nggak suka lo dideketin sama siapa pun termasuk Keset."
"Kasep. Namanya Kasep, Ga. Lagian sok posesif banget lo."
Dirga mengibaskan tangan dan menatap Alia lekat.
"Gini ya Alia, anaknya tante Syeilla yang paling jelita sayangnya jomblowita. Elo udah diamanahin sama gue. Jadi semua yang menyangkut tentang lo, itu tanggung jawab gue!" ucap Dirga tegas. Alia yang saban hari mendengar mantra Dirga pun hanya manggut-manggut kepala.
"Nah, gitu dong. Sini bakso lo, gue lapar." Dirga menarik mangkuk bakso milik Alia yang sudah habis setengah.
"Lo pesan aja, ini bekas gue."
"Mau bekas atau bukan, selama itu punya lo, Gue nggak masalah sama sekali." Dirga langsung melahap baksonya.
Alia menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
**❇❇❇❇❇**