
Sudah dua minggu lamanya Aiden berada di Moscow dan menjalankan perusahaan seperti biasanya. Ia menjadi seorang oekerja yang tak kenal waktu dan lelah, bayangan Syeilla kerap menghantuinya jika ia tetap berdiam diri tanpa melakukan apapun.
Sifatnya kembali menjadinpria yang dingin tak tersentuh, ia juga menutup hatinya untuk semua perempuan yang berusaha mendekatinya, mulai dari artis sampai pada model papan atas sekalipun.
Tring.... Tring....
Bunyi suara panggilan masuk ke ponselnya ia segera mengangkatnya setelah mengetahui siapa penelponnya.
"Ada apa?" tanya Aiden datar.
"Bos, file nya sudah saya letakkan di meja kerja bos." lapornya.
"Hm." jawabnya dan mematikan panggilannya.
"Andai waktu bisa diputar kembali sayang." lirihnya.
"""""""""
"Mama." panggil Auxillia dengan pelan saat ia menuruni anak tangga.
"Ada apa nak?" Rose segera menghentikan aktivitasnya dan segera menghampiri putrinya.
Auxillia tersenyum menatap Rose yang membawanya menuju sofa ruang tamu.
__ADS_1
"Ada apa nak?" tanya Rose lembut.
"Auxillia mau tanya sesuatu sama mama."
"Mau tanya mengenai apa nak?"
"Maaf ma, bukan Auxillia lancang tapi Auxillia benar-benar tidak ingat siapa diri Xia yang sebenarnya." ujar Auxillia dengan lemah.
Rose tersenyum mendengarnya.
"Sayang, kalau kamu belum mengingat semuanya tidak apa-apa, jangan dioaksakan ya. Mama tidak mau terjadii apa-apa sama kamu."
Auxillia menatap lembut mata mamanya yang memancarkan jutaaan kasih sayang.
Rose tersenyum kemudian membawa tubuh Auxillia ke pelukannya.
Di belahan benua lainnya, Zia sedang menatap makam Syeilla dengan berlinang air mata. Ini sudah berlalu selama dua tahun lamanya namun bayangan menyakitkan belum juga mampu hilang dari pikiannya.
"Syei... Kenapa kamu meninggalkn aku di saat jarak jauh memisahkan kita? Aku bahkan tidak sempat melihatmu untuk yang terakhir kalinya. Apa kau akan marah padaku?" lirihnya dengan sendu ditemani air mata yang selalu setia menemani harinya jika ia berkunjung kemari.
Elka datang dan mengusap pinggung Zia dengan lembut. Ia turut prihatin dengan kesedihan Zia yang tak kunjung sirna meskipun peristiwa menyakitkan itu terjadi dua tahun lalu.
Zia dan Elka datang berkunjung ke makan Syeilla yang selalu dipenuhi bunga mawar dan madih segar bahkan makamnya juga tampak berbeda dari makan di sekitarnya.
__ADS_1
"Dia orang baik Zi, dan Tuhan lebih menyayanginya. Kau lihat bunga-bunga segar ini? Bahkan sudah dua tahun namun makamnya masih tampak segar." ujar Elka menenangkan Zia yang kian menangis sesegukan.
"Kau benar El, dia memang wanita baik." ucapnya kemudian.
Setelah selesai berziarah, mereka kembali ke kediaman masing-masing namun sebelum itu Zia yang saat itu satu mobil dengan Elka menanyakan apakah Ariel sudah ada kabar atau belum namun sebuah gelengan dari Elka menjawab semuanya.
Zia menghela napasnya dengan oelan ta da ia seakan menyerah. Ia seolah kehilangan orang-orang yang ia cintai dalam waktu bersamaan. Syeilla yang meninggal dan Ariel yang menghilang. Apa ia pernah berbuat kesalahan fatal hingga di hukum sedemikian beratnya.
""""""
Tubuh kurusnya masih dipasangi berbagai alat medis yang bahkan tidak pernah dilihat oleh Ariel sebelumnya. Ia tidak tau apakah melalui alat tersebut semua akan baik-baik saja namun ia hanya mampu berdoa semoga semua berjalan dengan lancar.
Ia menatap tubuh itu dengan sendu, ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan orang-orang di sekelilingnya jika mengetahui yang sebenarnya.
❤❤❤❤
Bagaimana apakah masih membingungkan.... ??
Apa sudah ada pencerahan wkwkkwkw...
Silahkan komen D ngan suka-suka asal jangan nyinyirin autor hahahhaha....
Konfliknya nggak berat kok cuma alurnya bikin kalian tersesat muahahhaha..
__ADS_1