LELAH Season 1-3

LELAH Season 1-3
Part 40


__ADS_3

Kondisi kesehatan Elena kembali menurun setelah mengetahui fakta yang sebenarnya mengenai neneknya. Ia tidak habis pikir bahwa selama ini nenek yang ia anggap seperti malaikat nyatanya adalah orang yang membuat kekuarga besarnya berantakan. Neneknya juga yang ikut terlibat atas kasus percobaan pembunuhan yang menewaskan kakeknya semasa ia kecil. Kenapa ia sangat bodoh tidak mengetahui apapun sedangkan kakaknya mengetahui semuanya dan berusaha melindunginya sedangkan ia hanya terpaku pada kebahagiaannya seorang. Ia sangat egois.


Altaf sangat sedih melihat kondisi istrinya yang masih terbaring lemah di rumah sakit. Ia juga tidak menyangka nenek yang sangat di sayangi oleh iatrinya ternyata orang yang membuat keluarga besar istrinya berantakan.


"Sayang cepatlah sembuh kasihan kedua putri kita. Mereka sangat sedih melihat kamu sakit begini."


Altaf mengusap wajah pucat istrinya dengan lembut.


***


Dion menatap dingin sebuah photo yang sejak tadi ia pandangi. Segala kemarahan, kekecewaan berkumpul menjadi satu. Ia merobek photo tersebut lalu membuangnya ke sembarang tempat.


"Roy" desisnya dengan amarah yang masih ia tahan.


"Kau akan membayar semuanya, seluruh kesakitan yang aku alami kau harus membayarnya." desisnya dengan suara tertahan.


Seseorang masuk ke dalam ruang kerja Roy yang saat ini sedang bercumbu dengan sekretarisnya yang terlihat murahan dan menjijikkan.


"Ada apa son." tanya Roy kemudian merungkai ciuman sekretarisnya saat kedatangan Dion ke ruangannya.


"Hanya ingin memastikan sesuatu dad." ujarnya lalu melangkah keluar dari ruangan ayahnya.


Ia tersenyum dengan sinis lalu melangkah pergi meninggalkan kantor ayahnya menuju sebuah tempat yang mampu menghancurkan citra siapa saja dan orang kaya raya cenderung menghindarinya sebisa mungkin.


"Aku memberikan ini mengingat kau juga memiliki ambisi untuk menghancurkannya." Dion menyerahkan sesuatu pada Senna.


"Apa ini?"


"Kau akan menyukainya dan kerahkan kemampuan terbaikmu sampai ia tidak bisa lagi bernapas bahkan untuk menunjukkan wajahnya pada dunia saja ia tidak akan mampu." setelah menyelesaikan kalimatnya ia langsung pergi dari sana menuju suatu tempat yang selalu bisa membuatnya tenang dari rasa bersalahnya.


Ia menapakkan kakinya di tanah pekuburan tempat kedua bayi kembar Syeilla di makamkan.


"Halo twins..." sapanya sesampai disana. Ia berlutut sambil menyematkan dua tangkai bunga ke masing-masing kuburan keduanya.

__ADS_1


"Maafkan paman ya sayang karena paman sudah jahat sama kalian." air matanya menetes saat mengingat kesalahan fatalnya yang belum mampu ia maafkan hingga sekarang.


Dari jauh Syeilla dan Aiden berjalan sembari membawa beberapa buket bunga yang masih segar. Tampak Syeilla sangat tabah karena untuk pertama kalinya ia mengunjungi makan kedua bayi kembarnya.


Dion tidak menyadari kedatangan Syeilla dan Aiden karena ia masih larut dalam penyesalannya. Ia menangis dengan bahu bergetar.


Syeilla mendekat bersama Aiden namun tidak segera menegur sapa Dion yang masih khusuk dengan tangisannya.


"Paman berjanji sayang, paman akan menebus semua kesalahan paman sama kalian berdua dan pada mama kalian. Kalian boleh membenci paman." isaknya.


Aiden yang melihatnya mengepalkan tangannya dengan erat. Ia sangat ingat dengan lelaki yang kini tengah menangis di makam kedua anaknya. Ia sangat mengingatnya dengan jelas bagaimana pria ini melarikan diri setelah menabrak tubuh istrinya hingga terpental jauh karena mereka sempat berpapasan sebelum tragedi menyakitkan itu terjadi.


Aiden melangkah ke depan dengan marah dan langsung menarik tubuh Dion yang sedang membelakanginya dengan kasar.


"Apa yang kau lakukan disini brengsek!" teriaknya dengan marah dan langsung menghadiahi Dion pukulannya beberapa kali. Syeilla segera menyusul langkah suaminya untuk menghentikan suaminya yang terus memukul Dion yang tampak pasrah di tempatnya.


"Apa yang kamu lakukan. Lepaskan dia mas." lerai Syeilla dengan marah. Ia tidak suka kuburan anaknya dijadikan ajang bertinju oleh keduanya meskipun pada kenyataannya hanya Aiden yang terus memukuli Dion.


Wajah Aiden sudah memerah menahan amarah dan cemburu saat istrinya lebih memilih melindungi orang yang sudah memyebabkan ia kehilangan bayi kembarnya.


Syeilla menatap Aiden dengan kesal.


"Kendalikan dirimu. Ini kuburan bayi kita bukan tempat untuk mengadu otot." ujar Syeilla dengan tatapan tegasnya.


"Kamu lebih membelanya dari pada aku suamimu sendiri. Sadarlah Syeilla dia yang sudah menyebabkan kita kehilangan bayi kita!" teriak Aiden tak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya.


Syeilla mengubah ekspresi kesalnya menjadi datar. Ia menatap keduanya dengan dingin.


"Kalian berdua yang menyebabkan aku kehilangan mereka berdua. Aku memaafkan kalian berdua karena kau suamiku dan dia teman masa kecilku. Kalian berdua sama berharganya untukku. Jika aku mau, aku bisa saja terus menyimpan rasa benci ku pada kalian tapi apa yang akan aku dapatkan dari itu semua selain dari kegelisahan. Apa? Jangan saling menunjuk jika kenyataannya kalian berdua sama andilnya. Akulah yang paling menyedihkan disini karena tidak bisa melihat langsung wajah keduanya." Syeilla segera pergi dari sana dengan perasaan sedih yang kembali menyelimuti dadanya.


"Mama..." teriak dua orang dengan bahasa bayinya.


Syeilla mengedarkan matanya keseluruh penjuru dan ia melihat dua anak bayi yang satu sangat cantik dan yang satunya sangat tampan sedang melambai padanya. Mereka terlihat masih sangat lucu.

__ADS_1


"Mama jangan menangis kami bahagia disini." seru anak perempuan sambil tersenyum menenangkan. Hati Syeilla kembali menghangat saat menatap keduanya. Sebuah senyuman hangat terbit di bibir indahnya.


Ia ingin sekali memeluk keduanya namun apa dayanya semua hanya ilusi belaka namun perasaan yang sempat menyelimuti dadanya kini berubah menjadi perasaan hangat seolah ia baru saja di dekap oleh kedua anaknya yang bahkan tidak sempat ia lihat.


Aiden segera menyusul Syeilla saat ia melihat Syeilla melambaikan tangannya ke arah yang bahkan tidak ada siapapun disana. Aiden takut istrinya bisa melihat sejenis hantu untuk itu ia segera menghampirinya.


"Sayang ada apa?" tanya Aiden dengan penasaran.


Syeilla tidak menjawab pertanyaan Aiden dan kembali melangkahkan kakinya menuju dua pusara yang kini dipenuhi bunga-bunga yang masih segar.


Aiden pun mengikutinya dari belakang.


"Assalamualaikum kesayangan mama." air mata Syeilla tumpah saat ia mendaratkan tangannya di tanah pusara kedua anaknya.


"Mama tau kalian sudah bahagia disana, mama akan selalu mendoakan kalian sayang. Mama juga akan bahagia disini bersama papa. Maaf ya sayang karena tidak bisa melihat kalian berdua saat kalian dilahirkan. Tapi kalian harus tau kalau mama sangat mencintai kalian." Aiden ikut bergabung bersama istrinya, ia juga tidak mampu menahan air matanya agar tidak tumpah.


Syeilla menitikkan air matanya bukan karena merasa sedih namun ia bahagia karena kedua anaknya bahagia disana. Ia percaya bahwa Tuhan memiliki cara tersendiri untuk membahagiakan umatnya termasuk dia. Ia sungguh tidak ingin berlarut dalam duka karena itu sama saja ia mengingkari takdir Tuhan. Padahal Tuhan tau apa yang terbaik untuk hambanya.


"Maafkan mas sayang." isak Aiden sedangkan Dion masih betah memperhatikan keduanya dari balik pohon besar yang menutupi tubuhnya. Tatapannya sarat akan kesedihan yang mendalam.


"Sudahlah mas semuanya sudah terjadi dan inilah takdir Tuhan yang harus kita terima. Mungkin mereka berdua belum dipercayakan oleh-Nya untuk kita jaga." Syeilla mengusap lembut bahu suaminya yang bergetar.


"Maafkan aku Syei.. Mungkin kamu sudah memaafkan aku tapi entah kenapa aku sendiri belum bisa memaafkan diriku yang bejat ini." ia pun menangis dalam diam.


"Tapi aku berjanji padamu untuk menebus semua kesalahanku, aku akan melenyapkan orang yang mencoba mencelakaimu."


"Semua sudah beres Dion. Sekarang tinggal menunggu kehancuran ayahmu." bunyi sebuah pesan dari seseorang yang ia temui tadi pagi. Wajahnya yang tadi sedih kini sudah tersenyum dengan puas.


"kau memang pantas mendapatkannya dad." seru Dion dan segera berlalu dari sana.


❤❤❤❤


Ada yg masih ingat dengan Dion...

__ADS_1


__ADS_2